Merencanakan liburan pintar ala gue

Akhir-akhir ini travelling udah jadi bagian dari hidup gue. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya menjadi aktivitas yang sudah sering gue lakuin. Terkadang tidak jarang sebelum melakukan perjalanan gue harus membuat rencana-rencana sederhana. Seperti mengatur itinerary agar perjalanan yang gue lakukan lebih teratur jadinya, melakukan budgeting terlebih dahulu agar terjangkau dan efisien dari segi biaya dan berbagai tips dan trik lainnya. Perburuan tiket pesawat ketikapromo, kerjasama dengan berbagai hotel club, sampai mencari miles dari kartu kredit adalah hal yang sangat sering gue lakuin. Berikut tips dan trik #LiburanPintar ala gue:

1. Melakukan riset dan mengatur anggaran

Ini yg paling utama dan penting. Dengan melakukan riset kita akan tahu dan bisa menetapkan budget yang pas ketika travelling nanti. Cari info sebanyak-banyaknya tempat yang akan kita datangi, cari opsional untuk hotel tempat menginap dan transportasi yang aman serta nyaman, atau beberapa harikita akan menghabiskan waktu kita di destinasi itu. Jadi travelling kita pun akan jauh lebih efektif dan efisien

2. Perburuan tiket pesawat

Siapa sih yang sekarang nggak suka bepergian dengan pesawat? Selain efisien dari segi waktu, harganya sekarang juga makin bersahabat. Banyak airlines dari mulai yang kelas budget sampai yang full service menawarkan kita para penggiat jalan-jalan pilihan yang beragam. Gue sendiri biasanya selalu memilih full service airlines ketika travelling, karena lebih mengutamakan kenyamanan, seperti free bagasi yang lebih besar, seat yang nyaman, dan berbagai fitur inflight yang membuat gue lebih nyaman ketika bepergian.

Biasanya kita harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan tiket dari full service airlines ini, untuk mensiasatinya gue biasanya cari event-event tiket promo, kalau kalian punya waktu luang kalian bisa datengin travel fair yang sering diadakan rutin di kota kalian, atau cara yang lebih simple kalian bisa pantengin promo dari market place apps yang sekarang udah banyak banget bertebaran menawarkan penjualan tiket pesawat dan hotel yang lebih simple caranya. Di sini, periode tertentu mereka rutin menawarkan promo-promo dengan berbagai kode atau kupon diskon yang tak kalah menarik. Ini nih yang kadang bikin gue impulsif suka berpergian disebabkan promo hotel dan airlines yang menggiurkan dari mereka.

3. Merencanakan Liburan Pintar ala gue

Jaman sekarang banyak sekali tawaran-tawaran dari kartu kredit yang cukup menggiurkan. Selain potongan harga ketika berbelanja, program miles untuk pembelian tiket pesawat dan kamar hotel juga jadi pertimbangan buat gue. Apalagi gue termasuk high frequent flyer, jadi nggak mau rugidong tiap transaksi yang gue lakuin dengan kartu kredit nggak menghasilkan apapun. Untuk itu gue memilih Citi PremierMiles Card dari Citibank, berbagai macam kemudahan bisa gue dapetin disini. Dengan transaksi menggunakan Citi PremierMiles Card itu kita bisa dapatkan Citi Miles. Nah, Citi Miles-nya ini nanti bisa dipakai seperti beli tiket pesawat, booking hotel dan tiket wisata di negara-negara yang dituju. FYI, Citi Miles berlaku untuk selamanya, lho. Dan kita juga bisa dapat airport benefits kalau menggunakan Kartu Kredit Citi PremierMiles, seperti gratis menu pilihan di merchant pilihan dan Priority Pass Card yang bisa dipakai untuk akses gratis ke 800 airport lounge di seluruh dunia. Jadi hanya dengan pake Kartu Kredit Citi PremierMiles aja, kalian sudah bisa dapat airport benefits.Menarik, bukan?

Nah, itu semua tadi adalah tips dan trik Liburan Pintar ala gue sebelum berpergian. Jadi, buat kalian yang pengen liburan dan jalan-jalan bisa dicoba juga tips dan trip LiburanPintar seperti di atas. Atau kalian bisa langsung apply Citi PremierMiles Card di link ini yaa www.citibank.co.id/apply-pm

Perjalanan solo menuju Yading Nature Reserve, China

Imaji tentang Yading sudah lama rasanya memenuhi kepalaku. Lanskap danau biru tosca dengan gunung bersalju menggoda diri ini untuk segera dikunjungi. Aku memberanikan diri, menempuh perjalanan menuju Yading. Perjalanan menuju Yading ini tidak mudah, panjang, penuh gairah dan banyak cerita yang rasanya akan sangat panjang diceritakan. 7 jam perjalanan dengan bus, menginap dua hari di Kangding, dilanjutkan dengan 9 jam perjalanan dengan bus lagi, ditambah 2 jam dengan mini van, hingga tibalah aku di Yading, desa kecil sebelum melanjutkan perjalananku mengunjungi Yading Nature Reserve, sebuah tempat dengan landskap pegunungan maha indah yang mengisi imajinasiku tentang indahnya sebuah tempat di barat China. Menundanya hampir setahun, akhirnya aku memberanikan diri berangkat seorang diri ke Negeri Tirai Bambu, setelah lelah mengajak orang lain sana sini (dan setelahnya mereka menyesal ketika mendengar cerita dan foto-fotoku ūüėā)

Setelah mengumpulkan info singkat yang aku dapatkan dari orang Hostel di Chengdu dan informasi yang ku kumpulkan beberapa hari sebelumnya dari temanku @kadekarini tentang perjalanan menuju Yading, akhirnya pagi itu berangkat juga aku ke Kangding setelah beberapa hari leyeh-leyeh di Chengdu, dan melihat Panda dikawasan konservasi Panda terbesar tentunya. Pagi itu, disaat bekunya udara Chengdu (musim dingin dan kabut turun terus-terusan) aku menuju Terminal bus. Dan sebuah kejadian yang teramat tidak ingin ku ingat akhirnya kejadian, seorang kakek mendatangiku ketika aku sedang pipis di urinal toilet, aku merasa risih kemudian segera masuk kedalam kubikal toilet, kaget bukan kepalang, alamaaak bapak tua itu juga masuk kedalam kubikal toiletku dan mendorongku sebelum aku sempat menguncinya. Dengan kerir besar di sebelah tanganku dan tas kecil ditangan lainnya, agak kesulitan bagi ku melawan dorongan beliau, dan secepat kilat aku merasakan telapak tangan penuh cairan berlendir yang cukup bau itu diusapkan kemukaku. Mual rasanya mencium bau itu, dan aku langsung berontak, segera aku berlari menuju wastafel membersihkan entah cairan lendir apa itu, dengan sabun tangan yang ada diwastafel saya bersihkan berkali-kali. Panik, geram dan takut rasanya memuncak perasaan saya waktu itu. I GOT SEXUAL HARRASEMENT HERE! Aku melihat bapak itu tersenyum licik dan bejat melihat aku semakin panik. Aku tidak berniat melawan, lemas rasanya seluruh kakiku, aku segera berlari kedalam bus, kebetulan waktu itu jadwal bus berangkat. Ku tenggelamkan diriku di bangku depan bis itu

Didalam bus aku mengingat kejadian tadi, lemas, geram semuanya jadi satu. Acak rasanya bayangan kejadian td berkelebat diotak ku. Kutelpon temanku di Indonesia, menceritakan pengalaman yang paling ku benci seumur hidupku. Setelah mereda kegeraman dan kekesalanku, akhirnya aku tertidur, satu jam, dua jam, aku terbangun, bus masih melewati jalanan penuh kabut, aku tertidur lagi. Dua jam kemudian terbangun, view didepan mata sangat indah. Barisan pegunungan yang menjulang tinggi, dengan nuansa gersang, berpadu apik dengan sungai lebar dan perumahan penduduk yang kulihat di sepanjang jalan. Ketinggian daerah itu sudah berada diatas 3500 meter ternyata, awan hitam yang selalu menggelayuti langit Chengdu kini berganti dengan langit biru yang cerah. Tandanya bis ini sudah membawaku jauh dari Chengdu.

Tiga jam kemudian, bis yang ku tumpangi tiba di Kangding, kota pemberhentian pertamaku sebelum ke Yading. Aku berencana menghabiskan waktu dua malam di kota kecil ini. Segera kucari taksi menuju hostel yang sudah kupesan sebelumnya (berbekal info dari @kadekarini). Hostelnya berada di dekat pusat kota, sangat nyaman dan harganya cukup terjangkau. Karena hotel ini dimiliki oleh orang Amerika, jadi lebih tourist-friendly. Akupun menemukan dua orang turis yang menginap di hostel itu. Selebihnya kosong. View dari luar jendela dormku sangat cantik malam itu. Cukup membuatku melupakan kejadian malang pagi tadi yang menimpaku.

Keesokan harinya tak banyak yang kulakukan di Kangding. Mengunjungi sebuah Monastery cantik yang kebetulan tak begitu jauh dari tempatku menginap. Berbekal peta sederhana yang kuambil dari hostel, aku mengikuti arah menuju Monastery, pemandangan sepanjang jalan sangatlah cantik. Gunung-gunung yang hanya kulihat kerlip lampunya semalam, kini berubah diselimuti es dipuncak-puncaknya. Sebuah pemandangan yang sangat mahal bagiku sendiri, mengingatkanku pada Pokhara di Nepal sana. Cukup lama aku mengambil foto sepanjang jalan ini. Suasana sangat sepi jadi aku bisa leluasa berfoto seorang diri dengan bantuan tripod (andalan ketika solo trip begini). Aku sempat berhenti sebentar disalah satu taman kecil, ada beberapa pengunjung lainnya yang menikmati suasana taman sederhana pagi itu. Duduk sebentar, menikmati cemilan dan playlist favoritku.m, menenggelamkan diri menikmati Kangding pagi itu.

Tiba di Monastery aku disambut beberapa biksu dan masyarakat lokal setempat yang sedang beribadah. Sayangnya keterbatasan bahasa diantara kami membuat aku tak begitu banyak mengerti apa yang sedang mereka lakukan, ingin bertanya tapi biasanya berakhir dengan gelak tawa karena kami sama sama tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Aku memperhatikan dengan seksama, mereka mengelilingi bangunan semacam stupa, sambil komat kamit memanjatkan doa-doa pujian kepada yang Esa. Aku melanjutkan perjalanan kedalam, begitu banyak anak tangga yang harus dilewati untuk memasuk monastery itu. Tiba didalam, suasana sangat sunyi. Senyapnya membuat perasaanku damai waktu itu. Hanya segelintir biksu berkeliaran, ada yang sedang beribadah, dan beberapa lainnya sedang tenggelam menyibukkan diri membersihkan kawasan Monastery yang cukup luas itu. Aku terduduk, menikmati suasana. Senyap dan tenang sekali rasanya, kemudian ku keluarkan kamera dan mengabadikan momen yang jarang kutemui itu. Aku teringat, masa SD sampai SMP aku sangat takut dengan kawasan pecinan; huruf kanji, hiruk pikuk kawasan pertokoan, warung makanan, hingga aroma gaharu yang dibakar membuatku takut dengan suasana pecinan. Cukup aneh rasanya, aku bingung apa yang membuatku takut dengan kawasan pecinan, mungkin karena sering diputarnya film-film horror vampir dari negeri China pada hari sabtu di TV Nasional yang membuatku takut dengan hal-hal berbau pecinan. Padahal didaerah kampung halamanku (Pulau Bangka) sangat banyak kawasan pecinan yang dapat kita temui. Ketika SMA lah ketakutan itu mulai memudar. Dan saat ini, ketakutan itu sudah hilang sepenuhnya, bahkan aku berada di Negeri Chinanya langsung

Puas menikmati Monastery, aku melanjutkan jalan-jalan mengelilingi Kangding. Aku menuju Terminal tempat loket penjualan tiket bis besok (sangat penting membeli tiket bis satu hari sebelumnya, apalagi ketika musim turis). Setelah itu aku mengelilingi kota yang beneran kecil ini luasnya. Aku mengunjungi coffeeshop (yang paling terkenal dikawasan turis, berdasarkan informasi yang kudapatkan dari peta). Rasa kopi dan pasta yang ku pesan, amat dan teramat sangat tidaklah enak. Hambar ūüėā beruntung aku mengambil tempat disebelah jendela yang langsung menghadap keluar. Viewnya cukup cantik dengan taman kota didepannya, aku bisa melihat orang berbagai macam rupa sedang menikmati waktu senggang menuju senja. Sebelum gelap, sebelum udara semakin membeku, aku segera kembali ke hostel, beristirahat mempersiapkan perjalanan menuju Yading yang cukup panjang esok harinya.

Cukup mudah nampaknya perjalanan menuju Kangding ini hingga part tentang Yading yang membuatku hampir setengah menyerah. Subuh hari, udara mungkin dibawah titik beku. Kerir dipunggung dan jaket berlapis makin kupererat, aku melangkah keluar jalan utama, mencari taksi untuk menuju terminal pagi itu. Cukup lama aku menunggu. Tiba diterminal segera ku cari bis menuju Yading. Masih setengah mengantuk aku langsung tertidur lagi ketika duduk didalam bangku bus. Terbangun beberapa jam setelahnya, pemandangan diluar jendela sungguh cantik, bahkan teramat cantik bagiku, Gunung-gunung es, hutan pinus yang tak begitu lebat, dan jurang-jurang menganga menghiasi pemandangan jalanan pagi itu. Udara diluar masih dibawah titik beku nampaknya, dingin angin yang masuk malu-malu dari celah dinding bis membuat suhu didalam bis semakin membeku. Jaket kurapatkan, Sayangnya headset ku rusak, aku tak bisa menikmati pemandangan semahal itu dengan alunan playlist favoritku. Beberapa kali kami berhenti, beberapa kali pula aku urung buang air kecil setelah mendapati ‚Äėkondisi toilet angker‚Äô seperti yang ku dengar sebelumnya tentang bagaimana kebersihan dan kenyaman toilet di negeri ini. Bahkan toilet yang ku temui sepanjang jalan ini sungguh ‚Äėangker‚Äô, memasukinya saja sudal membuat perut mual ingin muntah, sungguh salut dengan yang kuat berlama-lama membuang hajatnya didalam kubikal itu.

10 jam perjalanan, pemandangan berganti-ganti untuk dinikmati, ini salah satu pemandangan road trip terindah yang ku temui. Barisan gunung-gunung di Pegunungan ini teramat sayang jika hanya dilewatkan dengan tidur-tiduran saja. Berkali-kali aku mengecek google maps untuk menuntaskan penasaran kapan tiba di Daocheng, desa tempat transit berganti bis sebelum melanjutkan perjalanan ke Yading. Tentunya dengan bantuan VPN apps yang sudah ku download sebelumnya, di China banyak apps yang tidak bisa kita gunakan, dikarenakan kebijakan great firewall, kebijakan yang membatasi

Semakin dekat dengan Daocheng, semakin unik pula peradaban yang ku temui. Gunung-gunung es tadi berganti dengan perkampungan kecil dengan rumah-rumah yang seragam dan sangat unik bentuknya. Berdinding bata berwarna hitam, dinding temboknya telanjang tanpa ditutupi dengan semen seperti kebanyakan bangunan pada umumnya. Atapnya pun hanya berupa lantai, bukan kerucut. Dan rumah rumah disini bentuk dan warnanya hampir seragam, bahkan hotel pun bentuknya seragam (kebayang gak sulitnya nyari hotel dengan papan tulisan nama yang hanya ditulis dengan huruf kanji), karena bentuknya hampir sama semuanya

Tiba di Daocheng, aku langsung ditarik oleh beberapa orang. Sapaan mereka cukup ramah, cuma aku harus tetap waspada. Aku ditawarkan menaiki mini van untuk ke Yading, biayanya cukup murah, langsung ku iyakan setelah berkali ku tegaskan apakah mobil ini akan membawaku ke Yading? Setelah menunggu beberapa penumpang lagi, setengah jam kemudian mini van itu melaju menuju Yading. Lagi lagi pemandangan cantik disini membuat aku semakin terpukau. Indah bukan main

Dua jam kami membelah gunung-gunung berbalut es sepanjang jalan yang cukup berliku itu. Tibalah disebuah desa kecil, lagi-lagi dengan bentuk rumah dan bangunan yang seragam, hingga aku diturunkan paling terakhir. Si driver mengatakan ini adalah Yading, sambil menunjukkan bangunan besar (dengan tulisan kanji tentunya). Dan baru ku ketahui beberapa jam setelahnya kalau tempat itu adalah Yading tourist center, dimana kita bisa bertanya (tapi mereka nggak ngerti inggris sama sekali) tentang Yading Nature Reserve, disini juga kita bisa membeli pass untuk memasuki kawasan Yading Nature Reserve. Ada beberapa pilihan. Two day pass adalah yang paling umum dibeli, kita bisa mengeksplorasi kawasan ini dua hari berturut-turut, sayangnya kemarin kondisi fisikku kurang begitu fit untuk berlama-lama menikmati kawasan ini, jadi ku pilih mengeksplorasi Yading Nature Reserve keesokan harinya

Check in hotel, kebetulan aku menginap bersama seorang pria Perancis yang ku temui di bis dari Kangding kemarin. Hanya dialah satu-satunya orang yg bisa kuajak ngobrol. Kamar disini cukup murah untuk fasilitas yang menurutku lumayan untuk ukuran desa sekecil ini, tapi demi menghemat budget, kami tetap memilih untuk menginap bersama sharing room. Malam itu aku istirahat total, cukup lelah perjalanan hari itu. Udara diluar pun sedang tidak ramah, hampir menyentuh -6 derajat celcius. Kami banyak bercerita tentang perjalanan singkat kami di China ini, kebanyakan dia yg mendominasi pembicaraan dengan ceritanya mengelilingi Asia (dan terakhir ku cek facebooknya ternyata dia bertualang hingga New Zealand)

Keesokan harinya kami berpisah, aku langsung menuju Yading Nature Reserve, sedangkan dia berpindah desa, ingin menginap semalam lagi katanya. Cukup sulit menemukan shelter bus menuju Yading Nature Reserve, karena sangat jarang sekali ada petunjuk dalam bahasa inggris, dan petugasnya pun tak begitu mengerti. Akhirnya setelah menemukan shelter (yang mana harus naik tangga berkali-kali dari ujung ke ujung) aku segera menaiki bus yang sudah siap membawa kami ke tujuan. Busnya sangat modern dan bersih. Sangat nyaman bagi turis yang ingin menikmati kawasan ini. Hari itu, hanya aku sendiri warga asing yang memasuki bus itu, cukup canggung rasanya. 30 menit berlalu, jalanan sangat terjal dengan belokan yang sangat menukik, khas jalur pegunungan di China. Bus hanya mampu berjalan pelan, karena sangat berbahaya dengan jurang dikiri-kanan jalan yang entah berapa ratus meter dalamnya, yang mungkin bila ada kendaraan yang terjatuh, dipastikan tak satupun penumpangnya yang selamat. AMIT-AMIT YA ALLAH!

Kami tiba di pemberhentian pertama, hanya 10 menit untuk menikmati pemandangan desa dibawahnya, saya lupa namanya, yang pastinya sangat cantik desa yang masih tradisional ini, bersanding gagah dengan gunung es yang mengelilinginya. Foto-foto sebentar kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi. 15 menit kemudian tiba lah kami di shelter terakhir sebelum melanjutkan perjalanan ke Yading Nature Reserve. Disini aku kembali kebingungan kearah mana tujuanku, bertanya sana sini, sambil menunjukkan peta yang ku bawa yang semuanya bertuliskan aksara kanji. Akhirnya ku ikuti kemana para turis lainnya berjalan. Dan ternyata benar, arah ini menuju Milk Lake, tujuan utamaku hari itu, destinasi impianku dari dulu.

Tiada momen tanpa kebingungan nampaknya selama aku traveling di China kali ini. Selalu ada cerita kebingungan yang berlanjut dengan kebingungan lainnya. Kali ini dibuat bingung letak shelter bus kecil yang akan membawaku ke titik terakhir sebelum trekking ke Milk Lake. Jadi dengan bus kecil ini kita akan menghemat perjalanan menaiki bukit-bukit ini sepanjang 5KM, biasanya ada yang memulai trekking dari sini, tapi karena hari itu sudah terlalu siang, aku memutuskan menaiki bus kecil itu saja agar menghemat 2 jam perjalanan. Harga tiketnya seingatku adalah 180ribu rupiah untuk perjalanan pulang pergi. Dan kita bebas berhenti ditiap posnya, yang biasanya berjarak setengah kilometer antara tiap pos itu, biasanya digunakan untuk menikmati pemandangan yang masya Allah cantiknya.

Tiba di shelter terakhir, aku segera mencari jalur untuk trekking ke Milk Lake. Banyak turis yang hanya berhenti sampai disini, mungkin karena memang jalur menuju Milk Lake cukup berat. Dan pemandangan di area ini sudah sangat indah. Untuk menuju Milk Lake kita harus menempuh jalur trekking sepanjang 5KM, dengan 2KM jalur mendatar, dan 3 KM jalur trekking menanjak. Ketinggian di titik awal pendakian adalah 4200Mdpl, sudah cukup membuat kepalaku saat itu pusing, karena belum sempat aklimatisasi penyesuaian ketinggian, dan harus menanjak hingga ketinggian 4600Mdpl dimana Milk Lake berada dan menjadikan tempat ini masuk ke dalam 10 jajaran danau tertinggi di dunia.

1 jam pertama pendakian aku sangat menikmatinya, pemandangan disekeliling sangat membius mata. Gunung berselimut es, hutan pinus yang mulai kecoklatan, dan danau-danau kecil yang cantik menjadi pemandangan penambah semangat trekking siang itu. 1 jam berikutnya, dimana jalur sudah cukup menanjak, pendakian berubah menjadi neraka buatku, kepalaku pusing bukan kepalang, setiap kakiku melangkah, setiap kali itu juga kepalaku pusing tak karuan bak ditusuk jarum satu persatu. Bayangkan, aku harus banyak beristirahat ditengah perjalanan kali itu agar meredakan sakit kepalaku saat itu. Aku tak tahu penyebabnya apa, aku menduga karena perbedaan ketinggian yang cukup ekstrim. Perjalanan menjadi sangat lambat, sempat frustasi ditengah perjalanan dan hampir memutuskan untuk berhenti tidak melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku memilih beristirahat cukup lama, hingga sakit dikepalaku benar-benar reda. Ditambah hidungku saat itu mimisan cukup hebat mungkin karena teriknya matahari diatas kepala, dan aku lupa membawa topi yang biasanya jadi senjataku jika sedang trekking ditengah cuaca panas, kalau tidak ingin berujung mimisan seperti ini.

Dititik itu, aku kembali berpikir, merenungi perjalananku seorang diri ini ke negeri China. Ke ujung Yading, tempat yang sudah ku impikan dari tahun lalu, tujuannya apa? Dan aku teringat kembali perjalanan-perjalanan berat yang sudah kulalui sebelumnya, yang selalu memberikan ku banyak sekali pelajaran; seberat apapun perjalanan, pasti akan berakhir juga, dan esok hari kita akan mengingatnya sebagai salah satu perjalanan terbaik yang pernah kita jalani. Begitupun perjalanan ke Yading kali ini. Berat sekali bagiku seorang diri, mengeskplorasi negeri tirai bambu, merasakan keterasingan di negeri ini, dimana hampir sangat jarang ku temui orang-orang berbahasa inggris. Setelah dirasa sakit kepalaku mereda, aku melanjutkan lagi perjalananku. Menguatkan tekad, mengayunkan langkah demi langkah yang terasa semakin berat. Hingga akhirnya aku melihat danau berwarna hijau toska itu dari kejauhan. Dan jalanan pun menjadi ramah, karena tidak ada lagi tanjakan panjang nan terjal yang harus kulalui. 30 menit berjalan, akhirnya tiba juga di Milk Lake. Mungkin inilah salah satu trekking terberat dari perjalananku selama ini. Semua rasa campur aduk saat itu. Selalu ada rasa bahagia yang nggak akan bisa dijabarkan ketika meraih sesuatu yang sudah kita impikan dari dulu, salah satunya adalah Milk Lake di Yading ini, imajinya selalu memenuhi kepala ini setahun terakhir, mencari cara agar bisa menuju tempat impianku ini. Dan akhirnya, sore itu, aku berhasil. Sedikit banyak usaha yang harus lalui untuk menempuh perjalanan ini. Yading ini berbeda dengan destinasi lainnya yang sudah kulalui, di Yading ini banyak perasaan asing menghantui selama diperjalanan. Asing yang benar-benar asing menurutku. Namun sore itu, disaat bucketlistku sudah terwujud, saat itu pula aku sudah membuktikan kepadaku sendiri, tekat kuat dan bulat nggak akan pernah bisa dikalahkan dengan apapun, dan akhirnya bisa mewujudkan salah satu mimpi yang awalnya terasa sulit bagiku.

Pesona keindahan Gugusan Kepulauan Mentawai

This story was published on Clara Magazine August 2015 issue

Tak hanya menyajikan ombak buat peselancar kelas dunia, Kepulauan Mentawai pun menyimpan banyak pesona destinasi lainnya. Pulau-pulau perawan disini yang tersebar di samping empat pulau utamanya menawarkan liburan kelas dunia yang mampu memanjakan mata dan menenangkan pikiran. Sepi, sepi dan sepi! Bagi saya itu adalah bonus utama jika berlibur ke pulau-pulau disini. Gugusan kepulauan non-vulkanis ini menyimpan beragam pesona seperti terumbu karang yang masih alami, pantai dengan air yang sangat jernih dan bersih dan beragam pesona lainnya yang terbungkus dalam kemewahan yang sederhana. Tak hanya pantai, aktivitas menyusuri hutan bakau pun tak boleh dilewatkan. Beragam hewan endemik disini akan mampu menyita perhatian anda. Mulai dari beragam jenis unggas, primata sampai reptil. Semuanya tersaji apik disini.

image

Rasa lelah yang masih menggelayuti tubuh ini setelah membelah hutan di pulau Siberut demi menuju desa-desa adat terpencil yang didiami suku asli Mentawai rasanya belum hilang sama sekali. Bayangkan saja, kami harus berkutat lima jam lebih naik motor menembus hutan lebat dengan beragam vegetasi dengan jalanan yang rusak parah. Dan hari ini kami berencana hopping island di Kepulauan Mentawai dan menginap semalam di resort yang ada disana. Membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan.

Lanjutkan membaca Pesona keindahan Gugusan Kepulauan Mentawai

Menjelajahi Keindahan Tanah Sumba

Pertama kali mengenal pulau Sumba mungkin ketika saya masih SMP atau SD, saya lupa. Bahkan dulunya seringkali saya kebingungan membedakan antara Sumba dan Sumbawa, pernah saya mengira Sumba itu adalah ibukota Sumbawa, ternyata salah. dan ketika saya pertama kali melakukan perjalanan pertama kali kesini, saya langsung jatuh cinta dengan pulau ini. Terutama kecintaan saya dengan bukit-bukit cantiknya yang paling hebat mencuri hati saya, entah itu ketika kecoklatan saat musim kemarau atau kehijauan saat musim hujan. Mungkin kalau memiliki waktu yang panjang saya ingin sekali menghabiskan banyak waktu hanya untuk memandang bukit-bukit disini, entah itu bukit Wairinding yang paling terkenal ataupun bukit Wailara yang juga eksotik. Selain  bukitnya, Sumba juga memiliki sejumlah pantai yang masih sepi, dan favorit saya jatuh pada Tarimbang. Pantai ini menjadi pantai favorit saya di Sumba bukan karena keindahannya, karena sebenarnya view yang ditawarkan masih tergolong biasa saja, bahkan jika dibandingkan dengan pantai cantik di daerah lain, pantai ini takkan mampu beradu untuk masalah keindahan viewnya, apalagi menandingi pantai yang ada di Flores, Maluku ataupun belahan Indonesia lainnya. Yang membuat saya jatuh cinta pada pantai ini adalah sensasi kedalamaiannya. Sepi adalah kata kunci dari Tarimbang, dan di pantai ini kita dapat meraup dan menikmati sepi itu sebanyak-banyaknya.

Sebelas jam sudah kapal ferry yang saya tumpangi ini terapung-apung di lautan antara Pulau Sumbawa dengan Sumba. Sebelas jam itu pula saya harus menderita menahan sakit di perut dan badan yang kurang cocok diajak bertualang kali ini. Perjalanan overland dan sailing di Flores dan Lombok kemarin nampaknya sukses menggerogoti daya tahan tubuh saya hanya dalam beberapa hari. Dan sekarang, di tepi Barat Daya pesisir Sumba, saya harus menikmati perjalanan seorang diri menembus lautan demi menyeberang ke Pulau Sumba.

Lambung kapal merapat secara perlahan tak lama kemudian. Terik matahari yang teramat menyengat menyambut kedatangan saya. Sorak sorai anak kecil bersahutan sambal berlarian masuk kedalam kapal dari celah-celah yang hanya bisa memuat badan mereka yang kurus kering. Saya tersenyum sebentar, melihat gelagat mereka yang nampaknya riang, tak lama saya kembali merengut. Mengutuk beratnya kerir yang ada di punggung ini ditambah antrian mobil dan motor keluar yang terhambat karena pintu kapal depan kesulitan untuk disandarkan ke bibir dermaga

Lanjutkan membaca Menjelajahi Keindahan Tanah Sumba

Menyambangi kedamaian Gunung Argopuro

Masih teringat jelas rasanya pendakian bulan Agustus Tahun 2015 yang lalu di Gunung Argopuro menjadi bermakna dan lebih bernilai bagi saya. Mungkin kecelakaan kecil yang kaki saya alami seperti menampar bagaimana saya harus beretika sebelum melakukan pendakian. Hampir setahun saya nekat jalan-jalan tanpa izin dari orang tua, saya nekat mendaki gunung-gunung diluar sana. Dan setelah kejadian pagi hari di Cikasur itu akhirnya saya mengalah, saya menyadari bahwa betapa kecilnya saya di alam ini, tak hanya restu alam yang saya butuhkan, tetapi juga restu orang tua.

Banyak cara yang kita lakukan untuk menikmati hidup yang singkat ini. Salah satunya adalah jalan-jalan. Mungkin sebagian teman-teman saya akan lebih suka memilih jalan-jalan ke pantai atau ke destinasi dengan spot belanja yang menarik, tapi saya sendiri lebih mencintai Gunung. Entah kenapa, entah muncul darimana, perasaan bahagia yang mungkin paling mampu menyentuh perasaan bahagia yang paling dalam selalu muncul ketika saya mendaki. Terkadang momen sederhana ketika bisa menyaksikan sunrise dan sunset bersama teman, mengeluh karena kedinginan, dan bahkan menyadari betapa bodohnya kami kenapa gemar sekali melakukan aktivitas yang sesungguhnya melelahkan ini bisa membuat saya tersenyum sendiri

Lanjutkan membaca Menyambangi kedamaian Gunung Argopuro

Pesona Kaldera Gunung Ijen

Dengan kecepatan tinggi saya memacu motor dari Banyuwangi menuju Kawasan wisata Gunung Ijen malam itu. Dinginnya angin malam cukup menusuk, terlebih ketika waktu melewati tengah malam saat kami sudah berada di kaki Gunung Ijen. Saya cukup nekat mengendarai motor tanpa sarung tangan, alhasil tangan saya kedinginan dan sakit karena terlalu dingin. Sejam kemudian tiba juga akhirnya di pos sebelum pendakian ke Gunung Ijen. Loket tiket belum dibuka, kami harus menunggu sejam lagi tepatnya pukul satu malam ketika loket sudah dibuka. Setelah dibuka barulah berbondong-bondong pengunjung menyerbu loket tersebut dan bersiap mendaki gunung Ijen.

Treknya cukup bersahabat. Tak begitu panjang, sekitar 3 KM dengan kemiringan yang cukup membuat kaki cenat-cenut. Jalanan sudah sangat bagus menyebabkan perjalanan disini cukup mudah. Akhirnya satu jam kemudian saya tiba di kawah Gunung Ijen. Saat itu masih sepi karena belum banyak pengunjung yang sampai. Tiba disana saya cukup kaget ternyata tidak ada blue fire yang terlihat malam itu. Akhirnya saya menanyakan kepada Bapak penambang disitu mengapa tak muncul blue fire malam itu. Jawabannya cukup membuat saya tersenyum “bukan disini toh mas blue firenya, masih jauh dibawah sana”. Ternyata dugaan saya salah, blue fire malam itu tetap ada, dan letaknya jauh dibawah dekat kawah sana.

Lanjutkan membaca Pesona Kaldera Gunung Ijen

Pendakian Rinjani, menyambangi singgasana Dewi Anjani

Diantara puluhan gunung yang ada di Negeri ini, mungkin Rinjani adalah salah satu yang selalu mampu membuat mata saya selalu berbinar ketika mengingat ceritanya, mendengar namanya, dan melihat gambarnya. Selalu takjub, belum pernah bosan sekalipun jua. Rinjani membuat saya percaya dia adalah sebuah raksasa yang disematkan Tuhan dengan kokohnya diatas Pulau Lombok. Jika menurut legenda Semeru ditasbihkan mendiami timur Jawa, agar Pulau Jawa tak lagi terombang-ambing ditengah ganasnya lautan, mungkin Rinjani punya tujuan lain, membahagiakan pengagumnya. Saya hampir percaya dia adalah surga kecil yang di limpahkan Sang Pencipta untuk memberikan berkah tak terhingga bagi warga yang mendiami lerengnya. Tanah-tanah menjadi subur, udara menjadi sejuk, pemandangan menjadi indah, memberikan lapangan kerja yang banyak, dan pelbagai hal lainnya yang membuat Rinjani berhak disebut Sekeping Surga di Bumi Lombok

Mendengar Rinjani membawa ingatan saya tentang sebuah pendakian yang diawali mimpi panjang anak kuliahan yang kebingungan ingin menapaki Puncak Anjani. Dia kebingungan dengan siapa dan dengan cara apa agar berhasil kesana. Memang Rinjani tak perlu mengharuskan kita mengeruk uang di kantong terlalu dalam, tak perlu juga harus latihan fisik berpuluh minggu jungkir balik agar nanti prima menapaki tiap jengkal trek disana apalagi harus mempelajari teknik-teknik mendaki yang super rumit bagi saya sendiri seperti memanjat dinding, meniti tali, dan lain sebagainya. Rinjani hanya memerlukan dua bulan uang saku saya yang tidak boleh dipotong sedikitpun, Rinjani hanya perlu satu minggu penuh untuk disisihkan waktunya agar mampu dengan sempurna menikmati indahnya perjalanan dari trek Sembalun ke Senaru, Rinjani hanya butuh tenaga yang prima yang mampu memikul belasan kilo kerir dipunggung, bahkan jika engkau punya uang lebih, engkau bisa memilih untuk menyewa porter, Rinjani hanya perlu engkau terus melangkah, hingga akhirnya mimpi itu sempurna ketika engkau berada dititik tertingginga, 3726 Mdpl. Dan mimpi itu pula yang akhirnya mampu membawa saya berkali-kali menjejakkan kaki di puncaknya, dan selalu saja takjub tiada kira.

Lanjutkan membaca Pendakian Rinjani, menyambangi singgasana Dewi Anjani

Pengalaman ceria di Papandayan

‚ÄúJaga mood kalian yah. Inget! Anggap semua halnya bikin seneng! jangan mikir capeknya aja. Semua perjuangan kalian nanti bakal¬†terbayarkan. Setiap langkah kalian pasti ada maknanya‚ÄĚ saya berteriak berkali-kali menyemangati mereka disela-sela tawa canda yang membingkai perjalanan kali ini.

Pengalaman kedua ke Papandayan kali ini sedikit lebih menantang. 11 orang dari rombongan saya terdiri dari 4 cewek dan 7 cowok. Berkali-kali saya menjaga mood teman cewek agar tidak bad mood selama perjalanan karena kelelahan. Mencoba menghibur mereka dengan candaan yang mungkin terkadang terdengar krik-krik, padahal suara saya sendiri mulai parau karena radang tenggorokan semakin akut (penyakit langganan).
Banyak orang mengatakan trek menuju papandayan cukup mudah dibandingkan gunung lainnya. Pendek dan landainya pendakian disini menjadikan papandayan pilihan utama bagi sebagian orang yg ingin menikmati keindahan gunung namun tidak ingin berkutat dengan trek ekstrim dan curam yang pastinya melelahkan. Berlokasi di kabupaten Garut menjadikan Papandayan mudah dijangkau bagi pendaki-pendaki yang berasal dari Jawa Barat dan jakarta. Ini pula yang menjadi alasan saya untuk menjadikan Papandayan sebagai gunung perkenalan bagi teman-teman yang ingin mencicipi pengalaman mendaki untuk pertama kalinya. Berbeda dengan pendakian pertama ke papandayan, waktu itu adalah pendakian pertama bagi saya jadi segala sesuatunya temanku yang mengurusinya, saya hanya cukup mempersiapkan peralatan pribadi. Namun di pendakian kedua kali ini, banyak hal yang harus saya persiapkan, mulai dari peralatan pribadi teman, memperhitungkan budget hingga kebutuhan lain-lainnya tim kami.
Tim Papandayan ceria 'Enk Ink Enk'
Tim Papandayan ceria ‘Enk Ink Enk’
Surganya Papandayan, Tegal Alun
Tim pendakian kedua kali ini cukup unik dimana banyak diantara mereka belum saling mengenal satu sama lainnya. Berawal dari ajakan iseng akhirnya banyak yg mengiyakan, dari mulai teman kuliah, teman KKN yang mengajak temannya pula, teman kosan, dan teman asal satu daerah.
Masih teringat jelas di pendakian pertama saya kesini tahun 2012 yang lalu, ketika film 5CM masih booming-boomingnya diputar dibioskop, kami memparodikan adegan di film tersebut versi kami sendiri. Dinginnya suhu saat itu terhangatkan dengan tawa dan canda kami. Rintik hujan nampaknya setia menemani perjalanan kami ketika berangkat dan pulang pada saat itu. Beruntung teman yang cukup expert sigap menanggapi situasi. Ketika kami kedinginan, Alan dengan sigapnya mengeluarkan kompor untuk menghangatkan badan kami. Begitupun mendirikan tenda dan mengatur peralatan serta logistik, saya yang benar-benar buta manajemen pendakian saat itu hanya melihat saja, niat ingin membantu tapi takut malah mengacaukan pekerjaan mereka, alhasil saya cuma mengambil alih pekerjaan masak-memasak. Tak begitu sulit.
Yang paling menyenangkan adalah pendakian ketiga kesini. Bulan September dengan cahaya mataharinya yang berlimpah, memberikan bonus tersendiri bagi kami pemandangan Papandayan yang super cantik kala itu. Birunya langit senantiasa memayungi alam papandayan sepanjang hari. Pendakian dadakan dengan hanya membawa alat pendakian seadanya itu berubah jadi penjelajahan seluk beluk Papandayan yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Meskipun dadakan, tidak berarti pendakian hari itu datar-datar saja. Disitu banyak kejutan muncul. Dimulai dari perjalanan nekat malam hari tanpa lampu senter. Bayangkan saja, karena saking tergesa-gesanya kami lupa membawa senter atau headlamp. Penerangan hanya berasal dari Flashlighy Handphone saja. Beruntung bulan purnama bersinar terang malam itu. Setidaknya membantu penerangan yang hanya seadanya malam itu.
Dipendakian kedua, hujan deras menyambut kedatangan kami di pondok saladah. Posisi tenda kami berdiri persis si tempat kami mendirikan tenda dua tahun yang lalu. Hujan besar saat itu sukses membuat kuyup kedinginan tubuh kami semua. Mendirikan tenda, memasang flying sheet, dan berbagai tetek bengek lainnya dalam keadaan hujan deras cukup membuat kesal. Kesal karena peralatan yang dibawa jadi basah semua, terlebih satu tenda yang ku pinjam ternyata tenda pantai tanpa layer tambahan. Hujan deras sepanjang sore dan malam itu pasti dengan suksesnya mampu menembus dinding tenda yang tipis itu. Beruntung sekali kami membawa flying sheet yang semulanya direncanakan untuk dipasang sebagai tempat memasak.
Panorama Papandayan
Panorama Papandayan
Pengalaman paling menyenangkan ke papandayan bagiku adalah ketika kami kebingungan memilih jalur menuju tegal alun. Saya yang saat itu ketinggalan rombongan menyusul dan mendapati teman-teman lainnya sudah berada dijalur yang cukup curam menuju tegal alun. Kebingungan sedikit menghinggapi awalnya. Karena takut para cewek ini akan kelelahan jika melewati jalur yang curam dan cukup panjang ini. Namun ide lain muncul. Mereka harus diajak menikmati jalur ini agar merasakan petualangan sesungguhnya. Hampir 1jam lebih akhirnya berhasil menggapai puncak punggungan bukit itu. Awalnya kami mengira ini adalah puncak papandayan, namun ternyata bukan. Saya dan Alvero harus sigap membaca situasi dan lokasi dimana kami berada pada saat itu untuk mencari jalur yang tepat menuju tegal alun. Berbekal insting dan pengalaman yang dulu, akhirnya kami menembus jalur itu untuk menuju tegal alun. Berkali-kali mereka sibuk bernarsis ria dibibir bukit ini, padahal jurang disebelahnya sangat terjal. Saya yang acrophobia parah, tidak okut bergabung memilih untuk berjalan duluan. Setengah jam kemudian sampai juga akhirnya. Wajah kelelahan mereka akhirnya berganti dengan senyum. Senang melihatnya. Cukup lama kami menikmati panorama tegal alun akhirnya kami turun melalui jalur yang lainnya untuk menuju Hutan Mati Papandayan.
Ketika pulang, nampaknya teman-teman yang pertama kali naik gunung ini ketagihan dengan petualangan di Gunung. Nampak beberapa dari mereka excited menanyakan peralatan gunung untuk dibeli.
Itulah sedikit cerita pengalaman selama pendakian ke Papandayan. Keceriaan luar biasa selalu tercipta bercampur dengan aroma uap belerang dan keramahan pendaki lainnya. Semoga bisa kembali lagi kesini dengan cerita-cerita barunya yang tak kalah menariknya

Lanjutkan membaca Pengalaman ceria di Papandayan

Mendaki Gunung Semeru, Menyambangi Puncak Para Dewa

Mendaki bukan hanya perkara perjalanan alam, jauh lebih dari itu, mendaki adalah perjalanan spiritual, perjalanan yang menyatukan jiwa-jiwa manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Jika kita ingin sedikit lebih bijak, kepingan pengalaman-pengalaman tak terduga mungkin akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup kita. Mendaki gunung sudah seperti sekolah bagi saya. Ilmu yang Gunung berikan terlalu banyak. Hingga kemudian satu persatu saya aplikasikan kedalam kehidupan saya sehari-hari. 

Mendaki Gunung Semeru adalah kepuasan tersendiri dan menjadi salah satu pendakian yang sangat berkesan bagi saya sendiri. Perjalanan puluhan kilometer membelah hutan, menelusuri urat-urat perbukitan, merasakan teriknya padang savana dan menusuknya udara dingin khas gunung pun akan terbayarkan dengan pesona Gunung Semeru.

Masih tercetak jelas dalam ingatan saya bagaimana saya yang waktu itu yang bukan seorang pendaki, bermimpi keras ingin menjejakan kaki diatap pulau Jawa ini. Akhirnya mimpi itu terwujud dan setelah cukup malang melintang di Gunung-gunung Indonesia lainnya, saya menjejakkan kaki dua kali disini. Pengalaman yang luar biasa selalu tercipta dari sini.Pertama mendaki kesini setelah musim hujan, hijau dimana-mana, anggrek liar bermekaran, pinus-pinus menebarkan aroma basah, dan yang paling teringat adalah tumbuhan (sering disebut lavender) yang berwarna keunguan membentang luas di Oro-oro Ombo. Dan pendakian kedua ketika musim kemarau, tak ayal suasana berbeda saya rasakan. Oro-oro Ombo yang dulu terhampar manis bak karpet ungu sekarang berubah eksotis menjadi kuning kecoklatan. Pun begitu Ranu Kumbolo yang dulu menghijau kini warnanya kuning kecoklatan. Ada hal yang paling mencolok dan sensasinya begitu luar biasa saya rasakan ketika pendakian musim kemarau kesini yaitu bekunya udara malam hari di Ranu Kumbolo. Bulan September menjadi waktu yang pas bagi saya mencicipi bagaimana Semeru ketika musim Kemarau. Dingin yang menusuk hingga suhunya pernah jatuh ke -17 derajat celcius. Ini sensasi yang sulit saya dapatkan di Gunung-gunung lainnya. Ketika itu saya mendapatkan termometer menunjukan angka -7 derajat celcius. Berbeda dengan pendakian pertama, suhu udara tak sedingin itu di Bulan April.

Lanjutkan membaca Mendaki Gunung Semeru, Menyambangi Puncak Para Dewa