Melawan Acrophobia di Puncak Bromo ( Part 2 Backpackeran di Malang)

Scroll down to content

Siapa yang tidak kenal Gunung Bromo? Salah satu gunung stratovolcano dengan view paling eksotik di Indonesia bahkan sudah terkenal ke mancanegara. Bersanding dengan Gunung ijen dijadikan salah satu tujuan wisata yang tidak boleh dilewatkan ketika mengunjungi Indonesia versi buku lonely planet. Gunung ini selalu menjadi incaran wisatawan lokal. Landscape yang ditawarkan menurut saya memang luar biasa. Kita bisa melihat padang savana luas yang menghijau ketika hujan dan kuning kecoklatan ketika kemarau, hamparan pasir berbisik, kawah bromo yang selalu mengeluarkan aroma belerang, dan yang paling tidak boleh dilewatkan adalah momen sunrise dari Penanjakan, barisan lurus gunung Batok, Bromo dan puncak Mahameru menjadikan momen sunrise disini sungguh epic.

2015/02/img_5299.jpg
Setelah berlelah-lelahan di pulau Sempu (baca part Sempu) tujuan kami selanjutnya adalah Bromo. Dengan bantuan sopir angkot yang kita sewa, kita diantar ke rumah mas Wilda di Tumpang. Dia adalah pemilik jeep yang akan mengantarkan kita ke Bromo esok subuhnya. Dirumahnya kita bermalam. Kamar sederhana dikhususkan untuk para teman-teman cewek, sementara kita tidur diruang TV. Dinginnnya Tumpang malam itu dihangatkan dengan cerita-cerita pengalaman petualangan mas Wilda dan teman-temannya. Berbagai kisah-kisah menariknya tertutur lancar dari mulutnya. Dengan ditemani kopi dan gorengan panas sesekali kami menimpali. Malam itu juga kami berencana akan berangkat esok subuh sekitar pukul setengah 5 pagi. Awalnya kami berencana berangkat pukul 2 pagi untuk ke menyaksikan sunrise di Penanjakan, namun cuaca kurang bersahabat nampaknya.

Pukul setengah 5 pagi kami sudah siap untuk berangkat. Kami bertujuh duduk dibak belakang jeepnya, sementara satu teman memilih untuk duduk didepan disebelah mas Wilda. Awal perjalanan menuju Bromo kami sangat semangat, kami menyapa hampir semua orang yang kami lewati. Perjalanan semakin menantang ketika memasuki gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Jalanan sudah tak lagi beraspal berganti dengan bebatuan yang disusun sedemikian rupa. Adrenalin kami dipacu melewati jalanan sempit, curam dan berkelok-kelok waktu itu. Saya tidak menyangka perjalanan akan semenantang ini. Acrophobia saya mulai diuji. Jurang kiri kanan yang mulai terlihat samar-samar karena hari mulai terang menguji mentalku. Aku memilih untuk tidak melihat kiri kanan. Pandangan lurus kedepan saja. Tiba-tiba pagi itu turun gerimis kecil sekali. Cuaca khas pegunungan yang sudah dingin menjadi semakin dingin, dan dua teman wanitaku tidak memakai sarung tangan sama sekali. Cukup gila menahan dingin pagi itu. Tak lama kami akhirnya tiba di bukit teletubies, hamparan padang savana membuat kami semua berdecak kagum. Begitupun dengan mobil jeep yang dipacu mas Wilda semakin kencang di tengah hamparan padang savana itu. Disini petualangan mulai berasa. Melewati lautan pasir kami bertemu bule yang nekat jalan kaki dari tumpang, tampaknya mereka kelelahan dan kami ajak untuk ikutan di jeep kami.

2015/02/img_5300.jpg

2015/02/img_5301.jpg

2015/02/img_5304.jpg
Puas melawan angin kencang di lautan pasir Bromo akhirnya kami sampai diparkiran jeep. Kami turun dan langsung berangkat menuju kawah Bromo. Angin kuat yang membawa pasir berterbangan saat itu cukup mengganggu kami. Namun disini letak keseruan yang sesungguhnya. Berjalan melawan angin. Kami menyusuri punggungan Bromo. Jalanan awalnya tidak terlalu curam, namun dikarenakan tubuh yang sudah lelah trekking di Pulau Sempu kemarin membuat pergerakan melambat. Apalagi teman-teman cewek yang cepat kelelahan. Berkali-kali kami berhenti dan saya memijit kaki mereka. Rasa excited melihat landscape kawasan ini dari atas semakin membuat saya bersemangat. Namun tiba-tiba semanga itu luntur entah kemana ketika mulai menapaki anak tangga Bromo. Kemiringan tangga yang terlalu curam dan ketinggian saat itu mulai mengusik rasa takut. Saya berpegangan erat sekali seolah takut jatuh dari sini. Teman-teman saya mendahului. Setiba dipuncak, ketakutan saya semakin menjadi-jadi. Teman-teman yang lain melipir berkeliling dibibir kawah, sementara saya hanya terduduk lemas dengan lutut ditekuk didepan tangga. Melihat lubang kawah jauh dibawah sana yang mengeluarkan uap tebal membuat kaki ini semakin lemas, ditambah ketinggian didepan mata ini semakin membuat perasaan tidak nyaman. Keringat dingin mengucur perlahan padahal cuaca saat itu cukup dingin ditambah angin yang sangat kencang. Teman-teman saya masih asyik berfoto-foto, mereka mengajakbergabung. Saya tetap keukeuh duduk disitu. Tak lama kemudian saya semakin tidak kuat menahan ketakutan berada diketinggian. Saya memutuskan untuk turun duluan. Teman-teman saya langsung bengong dan mereka baru menyadari kalau saya takut ketinggian tingkat akut. Aku turun sendirian. Ini adalah pengalaman saya melawan acrophobia yang paling saya ingat. Namun seiring seringnya saya naik gunung, saya mencoba perlahan menghilangkan ketakutan saya, walaupun sampai saat ini ketakutan tersebut masih ada.

Tak lama mereka menyusul ke bawah. Sesampainya di jeep kami melanjutkan perjalanan menuju padang savana bukit teletubies. Beruntung cuaca cukup cerah. Spot ini tidak boleh dilewatkan untuk sesi foto-foto. Hamparan savana yang ditumbuhi berbagai macam flora menjadikan lukisan indah tersendiri. Yang paling saya sukai disini adalah pemandangan punggungan bukit yang ditumbuhi rumput liar yang bergerak beraturan seperti bulu kucing mahal atau karpet bulu tebal ketika ditiup angin. Puas berfoto-foto disini kami segera pulang mengakhiri petualangan Bromo kali ini.

2015/02/img_5302.jpg

2015/02/img_5303.jpg
Terimakasih Bromo untuk petualangan luar biasanya. Akhirnya saya memberanikan diri berlama-lama di puncak Bromo pada kunjungan kedua saya ke Bromo. Cukup lama saya menikmati bibir kawahnya. Empat kali kesini selalu mendapatkan sensasi yang berbeda. Mulai dari perjalanan ke Bromo musim hujan dimana savananya menghijau, hingga saat musim kemarau dimana padang savananya berwarna kuning kecokelatan. Pernah mencoba sensasi naik jeep, naik truk dan yang paling lucu itu adalah ketika nekat naik motor matic dari Malang menuju sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: