Ingin melupakan penatnya aktivitas kantor dan hirup pikuk perkotaan namun bosan berlibur di pantai dan tak punya waktu senggang yang panjang. Dieng adalah jawabannya!

Pesona alam dan keramahan dataran tinggi Dieng menawarkan nuansa liburan singkat yang menenangkan. Bagaimana tidak? Hijaunya perbukitan, dinginnya udara khas pegunungan, keramahan penduduk sekitar dan aktivitas perkebunan disana mampu menjadi penawar rasa bosan dari aktivitas kantor dan hiruk-pikuknya perkotaan. Tak perlu waktu yang panjang untuk menjelajahi Dataran tinggi ini, bahkan anda bisa menjelajahinya hanya dengan waktu kurang dari 24 jam.

Pesona yang ditawarkan pun cukup beragam. Subuh hari anda dapat berangkat menuju Bukit Sikunir dengan ditemani sang guide untuk menikmati eksotisnya Golden Sunrise dari ketinggian yang mirip dengan gunung. Pagi harinya anda bisa mengisi perut dengan makanan khas Wonosobo, yakni Mie Ongklok lengkap dengan satenya. Puas mengisi perut anda bisa mengunjungi magisnya danau Telaga Warna, setelah itu tak lupa mengunjungi Dieng Plateu Theatre untuk mengetahui sejarah dan seluk beluk tentang Dieng Plateu, jangan lewatkan juga kawah sikidang, salah satu kawah terbesar dan cukup unik yang  berada di kompleks kawasan wisata Dieng Plateu. Jika sudah mampir ke sini tak ada salahnya menyempatkan diri berkeliling sebentar di kompleks Candi Arjuna. Namun jika anda berniat menambah satu hari lagi disini, spot paling menarik yang tak boleh anda lewatkan adalah Telaga Menjer dan Telaga Dringo, dua-duanya masih relatif sepi dari wisatawan dan pemandangannya tak kalah indah dari Telaga Warna.

Seperti biasa, dengan semangat membuncah dan penasaran yang belum tertuntaskan akan pesona Kota Lama Semarang, siang itu saya melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo, tempat transit sebelum menuju Dieng. Sial memang, saya harus meninggalkan Semarang sesegera mungkin. Hampir sepanjang perjalanan dari Wonosobo menuju Dieng saya disambut aroma tembakau yang menyengat, kebetulan waktu itu sedang musim kemarau panjang, musim panen dan jemur tembakau bagi warga lereng pegunungan ini. Dinginnya udara khas pegunungan pun tak mau kalah menyapa, padahal tujuan masih cukup jauh. Saya pun merapatkan jaket hangat ketubuh saya. Senyum ramah penduduk yang saya lihat dari jendela bis kecil ini seolah menjadi gerbang hangat selamat datang untuk liburan kali ini. Pernah saya mengunjungi Dieng ketika musim hujan. Sepanjang perjalanan saya dihadang kabut tebal nan pekat, bahkan jarak pandang hanya beberapa meter saja. Sensasinya? Luar biasa!

Setibanya di pertigaan Dieng, saya langsung mencari penginapan. Cukup banyak pilihan harga dan fasilitas yang ditawarkan. Sayapun memilih penginapan dengan fasilitas air hangat. Tak ingin menyiakan waktu dengan percuma. Saya langsung sigap mencari tempat makan sembari bertanya-tanya kepada warga yang berada di sekitar. Rasa penasaran selalu menggelitiki kepala saya. Tak pernah puas rasanya jika saya hanya mengunjungi tempat-tempat yang sering dikunjungi pelancong lainnya. Dari tiga warga yang saya tanya semuanya menyarankan saya untuk mengunjungi Telaga Menjer dan Dringo. Namun malang memang, waktu saya kurang untuk menjelajahi dua tempat yang masih relatif sepi itu. Karena saya hanya punya waktu kurang dari 24 jam disini. Besok siang saya harus langsung berangkat menuju Yogyakarta mengejar penerbangan malam.

Malam itu saya memilih beristirahat lebih cepat, karena harus bangun pukul empat pagi untuk menyaksikan golden sunrise di Bukit Sikunir. Ini merupakan aktivitas favorit yang WAJIB hukumnya bagi yang melancong kesini. Tak hanya wisatawan lokal yang tertarik, banyak para backpacker dari berbagai negara turut menikmati pesona Dieng, terutama golden sunrise sikunir.

Subuh itu kami berdua berangkat, guide kami sudah siap. Ketika pintu kamar saya buka rasa dingin seketika menyusuk. Jaket tebal yang kupakai double tak kuasa menahan bekunya udara. Ini puncak musim kemarau, jadi hal biasa udara malam hari akan sangat dingin. Ternyata pagi itu turun butiran embun es. Mobil yang terparkir didepan homestay kami atasnya dipenuhi butiran es, seperti salju. Setelah bersiap-siap kami berangkat. Pukul empat lewat kami tiba di kaki bukit sikunir. Bukit Sikunir letaknya tak terlalu jauh dari desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa. Subuh disini sudah sangat ramai warga yang beraktivitas diluar rumah, menuju masjid. Ada juga yang bersiap-siap mungkin untuk ke ladang dan kebun miliknya.

Beruntung pagi itu bukit sikunir sepi. Tak banyak wisatawan yang datang. Mas dirga mengatakan jika hari libur atau weekend pengunjungnya akan sangat ramai sekali, akan sangat menyulitkan kita untuk mencari spot-spot terbaik untuk foto-foto. Tak lama sekitar 20 menit kami tiba di puncak bukit, jalanan yang tadi kami lalui cukup menanjak namun sudah sangat nyaman karena sudah dibuatkan anak tangga yang memudahkan pengunjung naik ke puncak bukit. Bukit ini memiliki ketinggian 2263Mdpl.

Kami dicarikan spot terbaik. Setelah dirasa nyaman dengan spot itu kami menunggu momen-momen sunrisenya. Tak lama kemudian, semburat garis oranye diufuk timur muncul,  gunung Sindoro dan Sumbing berdiri dengan gagah didepan kami. Dari kejauhan terlihat gugusan gunung Merbabu dan Merapi. Saya menghela nafas panjang melihat landscape didepan mata. Teringat sedikit tentang pendakian Merbabu, Sindoro, dan Sumbing berbulan-bulan yang lalu. Pagi itu cuaca sangat bagus, bahkan awan pun tak ada sama sekali. Jika beruntung anda dapat menyaksikan kolam awan berada tepat didepan mata anda. Seolah-olah kita berdiri diatas awan. Tak lama semburat oranye itu semakin berani menampakkan dirinya. Cahayanya memancarkan warna keemasan. Tak berlebihan rasanya disebut golden sunrise sikunir.

Moment sunrise terbaik menurut saya itu biasanya ketika matahari mulai muncul sempurna, dan sinarnya membiaskan cahaya jingga kemerahan ke langit membentuk garis horizontal panjang mengelilingi setengah diameter bumi. Cahaya yang dibiaskan ke langit melekat sempurna dalam guratan awan tipis dan menjadikan pemandangan landscape yang sempurna yang menjadi kesukaan saya.

Puas menikmati moment sunrise di Sikunir, kami segera pergi. Melanjutkan perjalanan mengelilingi kompleks wisata Dieng Plateu. Hari masih sangat pagi, perut minta diisi. Kami mencari tempat makan disekitar situ. Banyak sekali pilihannya. Kami berpisah dengan mas dirga. Kami akan menjelajahi dieng plateu hari ini berdua saja tanpa guide.

Dua kali ke Dieng saya selalu mencoba spot yang berbeda untuk menikmati panorama telaga warna, yang pertama dari bukit yang panoramanya menghadap ke Gunung Sumbing, dan yang kedua kami memilih untuk menikmati pesona Telaga Warna dari Batu Pandang. Dari dua bukit ini panorama telaga warna jauh lebih indah untuk dinikmati. Telaga warna ini sendiri merupakan komplek peninggalan situs kerajaan jaman dulu, terlihat dari banyaknya prasasti dan gua-gua yang digunakan untuk ritual khusus.

Puas disini kami melanjutkan tour kecil ini menuju dieng plateu theater. Didalam theater kami tertidur cukup pulas dikarenakan kurangnya tidur semalam dan rasa lelah yang mendera. Film yang diputar adalah film dokumenter mengenai sejarah terbentuknya dieng plateu. Bagaimana terbentuk kawahnya, bagaimana pemanfaatan potensi dari kawah dan kekayaan alam didieng dan berbagai hal lainnya mengenai dieng plateu itu sendiri. Bentuk theatrenya dari luar cukup unik. Disini juga kami bertemu anak gimbal dieng. Sayangnya dia tidak bersedia difoto.

Beranjak dari sini kami menuju kawah sikidang. Tiba disini aroma belerang sangat menyengat. Segera kami memakai masker untuk menghindari aroma menyengat belerang. Kawah disini mengingatkan saya pada kawah gunung papandayan. Hanya saja disini terdapat lubang kawah dengan cairan berwarna abu-abu kehitaman yang mendidih. Banyak menggunakannya untuk merebus telur. Atraksi yang cukup unik. Banyak penjual belerang disini yang menurut mereka berkhasiat untuk menghilangkan penyakit kulit dan lainnya.

Tujuan selanjutnya kami menuju candi arjuna. Panas siang itu sangat menyengat. Hal yang pertama kali saya lakukan adalah mencari dandelion, bunga yang hampir langka itu ditemukan disini. Setelah puas menikmati empat destinasi wisata di dieng plateu kami memutuskan untuk pulang melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Yang selalu membuat saya jatuh cinta dengan Pesona Dieng bukan hanya dari pesona landscape alamnya, tapi juga keramahan warganya. Sempatkanlah menyapa warga disekitar tempat anda berlibur, mencari tahu sedikit kearifan budaya lokal dan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Petiklah sisi baiknya. Jadikan setiap perjalanan anda bermakna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: