Mendaki Gunung Semeru, Menyambangi Puncak Para Dewa

Scroll down to content

Mendaki bukan hanya perkara perjalanan alam, jauh lebih dari itu, mendaki adalah perjalanan spiritual, perjalanan yang menyatukan jiwa-jiwa manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Jika kita ingin sedikit lebih bijak, kepingan pengalaman-pengalaman tak terduga mungkin akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup kita. Mendaki gunung sudah seperti sekolah bagi saya. Ilmu yang Gunung berikan terlalu banyak. Hingga kemudian satu persatu saya aplikasikan kedalam kehidupan saya sehari-hari. 

Mendaki Gunung Semeru adalah kepuasan tersendiri dan menjadi salah satu pendakian yang sangat berkesan bagi saya sendiri. Perjalanan puluhan kilometer membelah hutan, menelusuri urat-urat perbukitan, merasakan teriknya padang savana dan menusuknya udara dingin khas gunung pun akan terbayarkan dengan pesona Gunung Semeru.

Masih tercetak jelas dalam ingatan saya bagaimana saya yang waktu itu yang bukan seorang pendaki, bermimpi keras ingin menjejakan kaki diatap pulau Jawa ini. Akhirnya mimpi itu terwujud dan setelah cukup malang melintang di Gunung-gunung Indonesia lainnya, saya menjejakkan kaki dua kali disini. Pengalaman yang luar biasa selalu tercipta dari sini.Pertama mendaki kesini setelah musim hujan, hijau dimana-mana, anggrek liar bermekaran, pinus-pinus menebarkan aroma basah, dan yang paling teringat adalah tumbuhan (sering disebut lavender) yang berwarna keunguan membentang luas di Oro-oro Ombo. Dan pendakian kedua ketika musim kemarau, tak ayal suasana berbeda saya rasakan. Oro-oro Ombo yang dulu terhampar manis bak karpet ungu sekarang berubah eksotis menjadi kuning kecoklatan. Pun begitu Ranu Kumbolo yang dulu menghijau kini warnanya kuning kecoklatan. Ada hal yang paling mencolok dan sensasinya begitu luar biasa saya rasakan ketika pendakian musim kemarau kesini yaitu bekunya udara malam hari di Ranu Kumbolo. Bulan September menjadi waktu yang pas bagi saya mencicipi bagaimana Semeru ketika musim Kemarau. Dingin yang menusuk hingga suhunya pernah jatuh ke -17 derajat celcius. Ini sensasi yang sulit saya dapatkan di Gunung-gunung lainnya. Ketika itu saya mendapatkan termometer menunjukan angka -7 derajat celcius. Berbeda dengan pendakian pertama, suhu udara tak sedingin itu di Bulan April.

Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memiliki  ketinggian 3676 Mdpl, dan merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia. Beragam legenda lahir disini. Beragam puisi dan sastra klasik mengabadikan kisah tentang kemasyuran Mahameru, Puncak abadi para dewa. Salah satu legendanya yang paling populer adalah kisah tentang penciptaan Gunung ini, dimana dalam kitab Tantu Panggelaran yang berbahasa Jawa Tengah dituangkan dalam bentuk prosa menceritakan tentang tanah Jawa yang pada saat itu masih belum stabil atau tidak seimbang, kemudian Batara Guru memberikan titah kepada para Dewa untuk memenggal puncak Gunung Mahameru yang terletak di Tanah Bharatawarsa, di India untuk dipindakan ke Pulau Jawa. Kemudian para Dewa turun ke bumi dan melaksanakan titah tersebut. Puncak Gunung Mahameru akhirnya di pindahkan ke Pulau Jawa. Legenda mengenai gunung Semeru ini memberikan banyak gambaran mengenai bagaimana penyebaran ajaran Hindu paham Siwaistis dari tanah Indie ke Nusantara, khususnya yang terpusatkan di Tanah Jawa.Dan hingga saat ini pengaruh besar pemahaman tersebut masih melekat dalam kepercayaan dan kebudayaan suku Tengger (suku yang mendiami wilayah sekitar Gunung Semeru).

Secara geografis letak gunung ini berada di dua wilayah administratif, yaitu wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang.Dengan posisi antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT. Akses terdekat dan paling populer adalah berasal dari Malang. Sebagai kotabesar, Malang sudah mampu mengakomodir transportasi menuju Gunung Semeru. Pesawat dan kereta adalah pilihan transportasi yang paling tepat bagi para pendaki yang ingin mendaki Gunung ini. Setelah itu akan banyak pilihan kendaraan yang akan mengantarkan kita ke desa Tumpang. Sebelum mendaki gunung Semeru, para pendaki akan berhenti dulu di desa Tumpang, disini mereka akan menyewa truk atau jeep untuk menuju desa Ranu Pane, basecamp pendaki sebelum melakukan pendakian. Biasanya pendaki akan diturunkan didekat pasar Tumpang, sembari menunggu Jeep ataupun Truk yang akan mengangkut mereka menuju desa Ranu Pane, pendaki dapat mengisi logistik perbekalan selama pendakian. Beragam sayur segar dan bahan lainnya cocok untuk menjadi perbekalan anda selama pendakian beberapa hari ke depan. Dan yang paling menarik dan membuat saya jatuh cinta dengan desa ini adalah keramahan warganya.Empat kali mengunjungi desa ini saya selalu dibuat jatuh cinta dengan keramahan disini. Untuk itu, pendakian yang terakhir saya merelakan waktu saya menginap satu malam di rumah salah satu pemilik truk rental yang sering mengantarkan pendaki ke desa Ranu Pane. Pak Rus namanya, yang mengelola sewa truk biasanya adalah anak dan menantunya. Keramahan mereka sudah terkenal di kalangan para pendaki yang pernah berkunjung kesini.

Pendakian gunung Semeru tidak bisa dikategorikan mudah.Diperlukan persiapan yang cukup dimulai dari tenaga yang prima. Olahraga minimal dua minggu sebelum melakukan pendakian wajib hukumnya bagi pendaki yang belum memiliki pengalaman yang cukup. Umumnya pendakian memerlukan waktu tiga hari dua malam perjalanan, ada juga yang menghabiskan empat hari tiga malam perjalanan dengan estimasi menginap dua malam di Ranu Kumbolo setelah muncak. Atau ada juga yang hanya dua hari satu malam jika hanya ingin mencicipi sensasi camping di Ranu Kumbolo saja.Panjangnya jalur pendakian dan medan yang sedikit berbukit membutuhkan fisik yang kuat, untuk itu disarankan menggunakan jasa porter dan guide bagi pendaki yang memiliki keterbatasan kekuatan fisik. Sehingga kita lebih bisa menikmati pemandangan alam yang disuguhkan disini. 

Aroma petualangan sudah mulai tercium ketika menjejakan kaki di Tumpang ini. Pertemuan dengan pendaki lainnya disini selalu menciptakan atmosfer keramahan tersendiri yang saya rasakan.Tas carrier besar yang menempel di punggung seolah menjadi simbol persaudaraan tanpa ikatan darah diantara pendaki. Perjalanan dari Tumpang menuju Desa Ranu Pane cukup menyenangkan. Bagaimana tidak, sesampainya di gerbang Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru kita sudah dapat menyaksikan rapatnya pepohonan hijau yang menghampar luas di perbukitan Taman Nasional ini. Jurang di kiri-kanan yang menganga lebar menciptakan panorama tersendiri, terkecuali bagi saya yang mengidap Acrophobia cukup akut ini. Tak lama kita akan menjumpai perkebunan-perkebunan di desa Ngadas. Kontur tanah yang berbukit dengan kecuraman cukup ekstrim menjadikan perkebunan disini sebagai suguhan landscape alam yang unik.

Tiba di desa Ranupane. Udara dingin sudah siap menyambut, tak jarang kabut pun sesekali menyapa. Ada hal yang sedikit menggelitik saya, ketika melihat anak-anak kecil yang bermain di pekarangan rumah. Dengan jaket tebal dan pipi yang memerah mereka sibuk bermain. Sebuah pemandangan unik bagi saya dimana sesiang itu mereka bermain bersama temannya memakai jaket tebal saking dinginnya. 

Perjalanan dari basecamp Ranu Pane menuju tempat camp pertama memakan waktu sekitar empat jam. Tracknya tidak terlalu menanjak, namun cukup panjang, sekitar 9,5 KM. Ketika melakukan pendakian seusai musim hujan atau bulan April sampai dengan Mei pendaki dapat melihat anggrek liar yang tumbuh. Pos demi pos kami lalui. Lapisan hutan lebat, tanah basah bercampur aroma pinus, anggrek liar yang sedang bermekaran dan pohon paku berukuran raksasa menambah pesona dan bumbu perjalanan menuju ranu kumbolo. Setelah melewati tiga pos akhirnya tiba di Pos keempat, Ranu Kumbolo.Kaki yang sudah lelah menapaki jalan setapak tadi akhirnya meminta diistirahatkan. Sebelum tiba di Ranu Kumbolo kami berhenti sesaat. Menikmati panorama surganya Semeru dari sudut yang berbeda. Terlihat beberapa pendaki yang sibuk mendirikan tenda dari sini. Tak sedikit juga ada pedagang yang berjualan aneka penganan seperti pisang goreng, tahu goreng, nasi bungkus dan juga semangka yang sudah dipotong-potong.Tak ingin kehabisan tempat, saya dan teman-teman segera melanjutkan perjalanan. Tak kurang seperempat jam tibalah kami di Ranu Kumbolo. Kabut tipis mulai datang perlahan.Angin dingin mulai masuk ke dalam jaket. Peralatan camping dikeluarkan satu persatu, kami berbagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, memasak makanan dan yang lainnya mencari kayu bakar. Setelah tenda selesai didirikan tiba waktunya kami menyantap makanan yang selesai dimasak. Kornet, sop seadanya, sarden, dan sosis menjadi pelengkap makan sore itu.Langit mulai menggelap. Pendaki lain mulai berdatangan menyemarakkan suasana Ranu Kumbolo, beruntung malam ini Ranu Kumbolo tak begitu sesak akan pendaki, hanya beberapa tenda yang berjejeran malam itu. 

Api unggun dibuat, kami berjejeran mengelilingi api, tak sedikit pendaki lain ikut bergabung bersama kami. Kopi hitam dan rokok menambah keakraban malam itu hingga bahan kayu bakar api unggun habis. Ketika teman-teman lainnya masuk kedalam tenda satu persatu, saya memilih tetap duduk diluar ditemani bara api unggun yang semakin mengecil. iPod ku setel lagu favorit, perikan gitar folk makin menambah syahdu malam itu. Damai, haru, tenang dan entahlah kata-kata apalagi yang pantas menjabarkan suasana saat itu. Milky way malam itu bak mahkota yang dengan cantiknya memayungi Ranu Kumbolo. Dua bukit diujung sana samar-samar menegaskan siluetnya. Tak lupa hamparan air danau didepan berpadu apik dengan cahaya headlamp pendaki diujung sana yang baru tiba malam itu turut menyemarakkan keheningan malam.

Paginya, kami terbangun dalam samar-samar guratan garis jingga yang jatuh dipelupuk dua bukit diujung sanaMulutku setengah menganga melihat pemandangan yang tersaji epic didepan mata. Berkali-kali pujian kepada sang pencipta saya lontarkan. Panorama yang berbulan-bulan ini hanya mampu dilihat dari foto internet kini terpapar jelas didepan mata. Uap-uap dingin air danau didepan kami menambah dinginnya pagi itu. Entahlah mungkin 7-10 derajat celcius dinginnya cuaca pagi itu. Dan dipendakian kedua tak kalah dinginnya, suhunya mencapai -7 derajat celcius. Perlahan Ranu Kumbolo mulai ramai, pendaki-pendaki mulai keluar dari tenda hangatnya.Kusapa beberapa pendaki didekat kami, tak lupa pendaki tetangga asal Belgia yang tak kalah ramahnya menyapa timkami. Pagi itu kurang rasanya tanpa kopi hangat. Kopi yang dibuat ternyata langsung berubah menjadi dingin sesaat setelah api kompor dipadamkan. Kabut mulai turun perlahan ketika matahari semakin meninggi.

Setelah momen sunrise usai, kami bergegas merapikan peralatan kami untuk melanjutkan perjalanan menuju kalimati, tempat camp terakhir yang kami rencanakan sebelum summit attack keesokan harinya. Kami memilih berjalan agak pagi agar menghindari terik panas matahari siang hari yang pastinya sangat menyengat. Tak lupa juga dengan pertimbangan agar dapat beristirahat lebih lama di kalimati sebelum tengah malam berjalan menembus trek menuju puncak. Tanjakan cinta, trek pertama yang harus dilalui. Dari sini view ranu kumbolo terlihat lebih indah. Jejeran tenda pendaki, danau dan bukit-bukit menciptakan perpaduan tersendiri. Sungguh apik. Cukup menguras tenaga rasanya melewati tanjakan cinta ini. Sedikit terjal dengan beban yang lumayan berat dipunggung menambah kesulitan berjalan. Berkali-kali aku berhenti hingga akhirnya sampai juga di ujung tanjakan ini. Dan kami sedikit dihibur dengan pemandangan oro-oro ombo didepan mata. Hamparan tumbuhan berbunga ungu, entahlah apa namanya, banyak yang menyebutnya lavender, berpadu syahdu dengan bukit-bukit disisinya membuat bibir ini tak hentinya berdecak kagum. Dan juga, puncak mahameru yang sedikit menyembul dibalik bukit-bukit sedikit membuat semangat kami semakin dipacu. “Malam ini kita dipuncak semeru” teriak kami penuh semangat.


Kami menuruni turunan itu menuju ke oro-oro ombo. Perjalanan pun dilanjutkan menuju cemoro kandang. Jalanan yang tadinya datar kini mulai sedikit menanjak. Melewati rerumputan ilalang setinggi dada kami, karena kebetulan waktu itu vegetasi yang berada di semeru masih tumbuh subur setelah ditutup hampir empat bulan lamanya guna memulihkan ekosistem, siklus tahunan. Di cemoro kandang tanjakan-tanjakan kecil semakin banyak dan seperti tak ada habisnya. Kami mencuri-curi istirahat sebentar sambil memamah logistik yang kami bawa.Puas mengisi perut, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama sekitar satu jam dari cemoro kandang akhirnya kami tiba di padang luas nan gersang, Kalimati. Sebuah kerucut yang teramat raksasa berdiri tegak dihadapan kami. Sesekali ujungnya mengeluarkan asapDari sini batas vegetasi antara arcopodo dan kelik sangat jelas terlihat. Merinding! Satu kata yang menggambarkan perasaan saya pada saat itu. Malam ini kami akan berjuang menuju puncaknya, puncak impian.

Setelah mendirikan tenda dan masak-memasak kami  langsungmenuju mata air sumbermani untuk menambah persediaan air. Jalurnya merupakan jalur yang membentuk sebuah bekas sungai besar tempat lahar mengalir. Batu-batu kecil mendominasi dibandingkan tanah. Berangkat dari kalimati jalurnya menurun, sebaliknya jika dari sumbermani ke kalimati cukup menanjak, terkadang sedikit curam. Mata air disini cukup deras aliran airnya ketika musim hujan, airnya cukup dingin dan menyegarkan.

Selepas dari Kalimati memilih untuk beristirahat. Memulihkan tenaga untuk pendakian sesungguhnya nanti malam. Sulit rasanya memejamkan mata sore itu, padahal tubuh cukup didera kelelahan. Rasa excited yang membuncah adalah salah satu penyebabnya. Membayangkan malam ini berjalan menembuh hutan arcopodo, kemudian menginjakkan kaki di kelik (batas vegetasi) dan merangkak-rangkak ditengah kegelapan malam menuju puncak mahameru. Hampir dua jam saya mencoba tidur, namun gagal. Begitupun dengan teman-teman saya. Mereka kesulitan tidur. Mungkin karena memang masih sore. Akhirnya pukul setengah delapan malam kami baru benar-benar tertidur. 

Pukul 11 malam kami terbangun karena bunyi alarm yang hampir bersamaan. Suara diluar mulai gaduh, berasal dari pendaki lain yang juga sedang bersiap-siap summit attack. Satu persatu kami keluar tenda. Ternyata dinginnya luar biasa. Ujung-ujung jari terasa beku. Aku masuk kembali kedalam tenda.Memakai baju berlapis, sarung tangan kupakai double. Namun dingin masih sangat terasa ketika keluar tenda. Butuh sedikit pemanasan mungkin. Saya bergerak-gerak, melakukan lompatan kecil. Teman saya sibuk memasak air untuk membuat susu, penambah kalori. Mengisi perut wajib hukumnya sebelum pendakian malam ini. Susu, roti, dan sereal menjadi sumber energi kami malam itu, karena tak mungkin jika harus memasak makanan berat lainnya. Selesai mengganjal perut kami berempat berdoa meminta agar pendakian malam ini diberi kelancaran dan keselamatan. 

Pukul 12 malam kurang kami memulai perjalanan kami.Langkah pelan namun pasti. Kami cukup nekat hanya berbekal satu headlamp, dua buah senter yang bersumber dari powerbank, dan dua buah HP dengan fitur lampu senter sebagai sumber penerangan malam itu. Cukup kerepotan awalnya dimana kami harus memegang HP atau powerbank sekaligus memegang dahan atau akar pohon sebagai pegangan ketika jalanan sedikit menanjak. Sedikit diakali, dengan menaruh HP diatas kupluk kepala, jadilah headlamp darurat, sedikit mempermudah pergerakan. Berbeda dengan pendakian kedua, peralatan yang saya bawa sudah sangat mendukung untuk summit attack di malam hari.

Arcopodo kami lewati dengan mudah, meski  salah satu rekan kami hampir tumbang disini. Selanjutnya kelik, batas vegetasi yang sekali lagi membuat saya merinding. Pandangan kedepan hanya ada lautan pasir yang terus menanjak kedepan. Puncak diujungnya tak kelihatan. Cukup tinggi saya mendongakkan kepala melihat puncaknya, namun tertutup kabut malam itu.Debu cukup banyak masuk kemata yang berasal dari pasir yang kami injak, cukup mengganggu perjalanan kali ini. Masker yang kupakai cukup membantu menangkis debu yang masuk kehidung. Dari sini setelah melewati batas vegetasi, angin semakin dingin saja. Hembusan angin cukup kencang dimana tak ada lagi pohon-pohon penghalang. Sehingga kami harus tetap berjalan untuk menghangatkan tubuh kami. Langkah malam itu perlahan tapi pasti. Naik tiga langkah, turun dua langkah. Begitu seterusnya, langkah kaki ini harus terpaksa merosot melewati trek batu berpasir ini.

Hampir tiga jam berjalan, rasa frustasi karena kelelahan luar biasa mulai muncul. Puncak nampaknya masih jauh. Langkah mulai melemah namun tidak dengan semangat. Sesekali kami berhenti agak lama, namun berjalan kembali ketika tubuh mulai kedinginan. Tim kami kali ini dibagi menjadi dua. Saya dan adit berjalan duluan, sementara vero membantu ayat yang sedikit lambat pergerakannya. Rasa Kantuk mulai menyapa, lutut dan paha sudah mulai lemas rasanya.

Pukul 5 pagi matahari sudah mulai malu-malu menyibakkan cahaya jingganya. Kabut tipis mulai menghilang perlahan.Beruntung cuaca malam itu cukup cerah. Kami salah perhitungan ternyata. Air dua liter ditambah empat kaleng susu  yang kami bawa ternyata masih kurang, ditambah cemilan hanya berupa sebungkus biskuit. Tenaga kami yang sudah terkuras habis sangat membutuhkan kalori. Ditambah haus menyerang namun kami harus berhemat-hemat dengan air yang mungkin kurang dari segelas jumlahnya. 

Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini langkah kaki makin melemah. Tenaga benar-benar habis. Kira-kira 50 meter sebelum puncak kami berhenti. Meminum air sisa terakhir. Itupun masih kurang rasanya. Sedikit kepanikan muncul. Bagaimana dengan air minum untuk perjalanan turun nanti?. Namun pikiran itu saya tepis, yang penting sampai puncak terlebih dahulu. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir kami melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan terakhir menuju puncak, akhirnya saya meminta air minum kepada pendaki lain yang saya temui, tak tahan lagi rasanya menahan haus tenggorokan kering ini.

Tepat pukul 5.45 kami berhasil menginjakan kaki diatap pulau jawa ini. Haru dan bahagia menyeruak didaam dada, sedikit air mata menetes dipelupuk mata, saya melakukan sujud di puncak Mahameru. Tak lama rekanku muncul. Kami berhamburan berpelukan mengucapkan selamat. Perjuangan kami akhirnya berhasil.  Wajah bahagia tak terhingga nampak jelas dimuka kami. Perjuangan dua hari ini terbayar sudah dengan menjejakan kaki di puncak impian. Masih teringat jelas rasanya bagaimana kekesalan subuh itu karena langkah yang seakan tak pernah sampai pada tujuannya. Namun benar adanya, setiap langkah akan menjumpai tujuan, setiap perjuangan membuahkan hasil. 

Saya bergegas mencari in memoriam Soe Hok Gie, namun tak ketemu, entah dimana letaknya. Bertanya kepada pendaki lain jawabannya pun samaPuas mengabadikan panorama puncak.Akhirnya kami turun. Sinar matahari yang sudah sangat jelas membelalakan mata saya melihat jalur menurun didepan saya.Kemiringannya aduhai! Saya merinding hebat, lutut pun ikut melemas. Namun bagaimanapun juga saya harus melawan acrophobia. Teman-teman saya mendahului. Saya memilih turun secara perlahan. Entah kenapa pikiran buruk terus menyerang.Saya takut terjungkal kedepan, padahal mungkin itu jarang terjadi. Akhirnya saya memutuskan untuk turun seperti bermain perosotan, hampir dua jam kami menuruni punggungan ini.Harus ekstra hati-hati. Jurang dikiri kanan, terutama sebelah kanan yang dinamakan ‘blank 75’ cukup menganga lebar mengintai siapapun pendaki yang tidak hati-hati. Semakin kebawah semakin jelas jurang-jurang itu. Terutama jurang setelah melewati perbatasan vegetasi. 

Tiba di kalimati rasanya luar biasa senangnya. Bayangan air minum selama perjalanan akhirnya tersampaikan. Penderitaan tenggorokan yang kering kehausan dan perut yang benar-benar kosong kelaparan dari tadi akhirnya terselesaikan. Setelah selesai makan, kami bergegas packing agar tidak kesorean.Rencananya kami langsung turun ke desa ranupane malam ini.Perjalanan turun sedikit mudah. Jalan yang terhitung masih landai tidak membutuhkan beban fisik yang begitu besar. Sekitar lima jam berjalan akhirnya pukul delapan malam kami tiba didesa ranu pane. Lelah luar biasa mendera. Beruntung truk yang sudah kami sewa tiba duluan. Kami langsung turun menuju Tumpang malam itu. 

Selamat jalan Gunung Semeru. Pendakian kali ini cukup luar biasa. Banyak hal berharga yang bisa dipetik. Perjalanan panjang 42 KM berjalan kaki menembus hutan belantara bolak-balik mungkin takkan pernah terlupakan dan menjadi satu dari sekian petualangan yang menarik.

Jika ada hal di dunia ini yang menakjubkan selain cinta, mungkin adalah naik gunung. Bersama-sama menjelajahi urat-urat bukit, menyusuri lika-liku hutan, setapak demi setapak menapaki tebing, hingga berpelukan erat bersama sahabat ketika menggapai puncak. Banyak cerita terjadi disini, dan selalu ada cerita terjatuh dan bangkit bersama sahabat sependakian.Begitupun pelajaran dan pengalaman yang kita dapatkan dari tempat seperti ini, tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.Karena mendaki bagi saya bukan hanya sebagai ajang senang-senang, tapi mendaki itu bagian dari mencari pelajaran dan pengalaman dalam hidup ini. Satu pelajaran yang paling penting dalam mendaki gunung itu adalah “tunduk ketika mendaki, dan tetap tegak ketika turun” 

11 Replies to “Mendaki Gunung Semeru, Menyambangi Puncak Para Dewa”

  1. Baca tulisan ini, jadi teringat pengalaman mendaki ke sana (walaupun cuma sampai kalimati).. Dan memang pesona Gunung Semeru tidak mudah dilupakan..

    Suka

  2. Tulisan yang menarik 🙂
    Maaf sebelumnya, saya mau minta izin, bolehkah saya ‘mengcopy’ kata-kata yang “Mendaki bukan hanya perkara perjalanan alam……” ke dalam sebuah novel? Saya baru berniat mau coba-coba bikin novel yang sedikit berhubungan dengan mendaki gunung.
    Sekali lagi maaf. Kalau tidak diperkenankan juga tak apa.
    Salam persaudaraan 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: