“Jaga mood kalian yah. Inget! Anggap semua halnya bikin seneng! jangan mikir capeknya aja. Semua perjuangan kalian nanti bakal terbayarkan. Setiap langkah kalian pasti ada maknanya” saya berteriak berkali-kali menyemangati mereka disela-sela tawa canda yang membingkai perjalanan kali ini.

Pengalaman kedua ke Papandayan kali ini sedikit lebih menantang. 11 orang dari rombongan saya terdiri dari 4 cewek dan 7 cowok. Berkali-kali saya menjaga mood teman cewek agar tidak bad mood selama perjalanan karena kelelahan. Mencoba menghibur mereka dengan candaan yang mungkin terkadang terdengar krik-krik, padahal suara saya sendiri mulai parau karena radang tenggorokan semakin akut (penyakit langganan).
Banyak orang mengatakan trek menuju papandayan cukup mudah dibandingkan gunung lainnya. Pendek dan landainya pendakian disini menjadikan papandayan pilihan utama bagi sebagian orang yg ingin menikmati keindahan gunung namun tidak ingin berkutat dengan trek ekstrim dan curam yang pastinya melelahkan. Berlokasi di kabupaten Garut menjadikan Papandayan mudah dijangkau bagi pendaki-pendaki yang berasal dari Jawa Barat dan jakarta. Ini pula yang menjadi alasan saya untuk menjadikan Papandayan sebagai gunung perkenalan bagi teman-teman yang ingin mencicipi pengalaman mendaki untuk pertama kalinya. Berbeda dengan pendakian pertama ke papandayan, waktu itu adalah pendakian pertama bagi saya jadi segala sesuatunya temanku yang mengurusinya, saya hanya cukup mempersiapkan peralatan pribadi. Namun di pendakian kedua kali ini, banyak hal yang harus saya persiapkan, mulai dari peralatan pribadi teman, memperhitungkan budget hingga kebutuhan lain-lainnya tim kami.
Tim Papandayan ceria 'Enk Ink Enk'
Tim Papandayan ceria ‘Enk Ink Enk’
Surganya Papandayan, Tegal Alun
Tim pendakian kedua kali ini cukup unik dimana banyak diantara mereka belum saling mengenal satu sama lainnya. Berawal dari ajakan iseng akhirnya banyak yg mengiyakan, dari mulai teman kuliah, teman KKN yang mengajak temannya pula, teman kosan, dan teman asal satu daerah.
Masih teringat jelas di pendakian pertama saya kesini tahun 2012 yang lalu, ketika film 5CM masih booming-boomingnya diputar dibioskop, kami memparodikan adegan di film tersebut versi kami sendiri. Dinginnya suhu saat itu terhangatkan dengan tawa dan canda kami. Rintik hujan nampaknya setia menemani perjalanan kami ketika berangkat dan pulang pada saat itu. Beruntung teman yang cukup expert sigap menanggapi situasi. Ketika kami kedinginan, Alan dengan sigapnya mengeluarkan kompor untuk menghangatkan badan kami. Begitupun mendirikan tenda dan mengatur peralatan serta logistik, saya yang benar-benar buta manajemen pendakian saat itu hanya melihat saja, niat ingin membantu tapi takut malah mengacaukan pekerjaan mereka, alhasil saya cuma mengambil alih pekerjaan masak-memasak. Tak begitu sulit.
Yang paling menyenangkan adalah pendakian ketiga kesini. Bulan September dengan cahaya mataharinya yang berlimpah, memberikan bonus tersendiri bagi kami pemandangan Papandayan yang super cantik kala itu. Birunya langit senantiasa memayungi alam papandayan sepanjang hari. Pendakian dadakan dengan hanya membawa alat pendakian seadanya itu berubah jadi penjelajahan seluk beluk Papandayan yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Meskipun dadakan, tidak berarti pendakian hari itu datar-datar saja. Disitu banyak kejutan muncul. Dimulai dari perjalanan nekat malam hari tanpa lampu senter. Bayangkan saja, karena saking tergesa-gesanya kami lupa membawa senter atau headlamp. Penerangan hanya berasal dari Flashlighy Handphone saja. Beruntung bulan purnama bersinar terang malam itu. Setidaknya membantu penerangan yang hanya seadanya malam itu.
Dipendakian kedua, hujan deras menyambut kedatangan kami di pondok saladah. Posisi tenda kami berdiri persis si tempat kami mendirikan tenda dua tahun yang lalu. Hujan besar saat itu sukses membuat kuyup kedinginan tubuh kami semua. Mendirikan tenda, memasang flying sheet, dan berbagai tetek bengek lainnya dalam keadaan hujan deras cukup membuat kesal. Kesal karena peralatan yang dibawa jadi basah semua, terlebih satu tenda yang ku pinjam ternyata tenda pantai tanpa layer tambahan. Hujan deras sepanjang sore dan malam itu pasti dengan suksesnya mampu menembus dinding tenda yang tipis itu. Beruntung sekali kami membawa flying sheet yang semulanya direncanakan untuk dipasang sebagai tempat memasak.
Panorama Papandayan
Panorama Papandayan
Pengalaman paling menyenangkan ke papandayan bagiku adalah ketika kami kebingungan memilih jalur menuju tegal alun. Saya yang saat itu ketinggalan rombongan menyusul dan mendapati teman-teman lainnya sudah berada dijalur yang cukup curam menuju tegal alun. Kebingungan sedikit menghinggapi awalnya. Karena takut para cewek ini akan kelelahan jika melewati jalur yang curam dan cukup panjang ini. Namun ide lain muncul. Mereka harus diajak menikmati jalur ini agar merasakan petualangan sesungguhnya. Hampir 1jam lebih akhirnya berhasil menggapai puncak punggungan bukit itu. Awalnya kami mengira ini adalah puncak papandayan, namun ternyata bukan. Saya dan Alvero harus sigap membaca situasi dan lokasi dimana kami berada pada saat itu untuk mencari jalur yang tepat menuju tegal alun. Berbekal insting dan pengalaman yang dulu, akhirnya kami menembus jalur itu untuk menuju tegal alun. Berkali-kali mereka sibuk bernarsis ria dibibir bukit ini, padahal jurang disebelahnya sangat terjal. Saya yang acrophobia parah, tidak okut bergabung memilih untuk berjalan duluan. Setengah jam kemudian sampai juga akhirnya. Wajah kelelahan mereka akhirnya berganti dengan senyum. Senang melihatnya. Cukup lama kami menikmati panorama tegal alun akhirnya kami turun melalui jalur yang lainnya untuk menuju Hutan Mati Papandayan.
Ketika pulang, nampaknya teman-teman yang pertama kali naik gunung ini ketagihan dengan petualangan di Gunung. Nampak beberapa dari mereka excited menanyakan peralatan gunung untuk dibeli.
Itulah sedikit cerita pengalaman selama pendakian ke Papandayan. Keceriaan luar biasa selalu tercipta bercampur dengan aroma uap belerang dan keramahan pendaki lainnya. Semoga bisa kembali lagi kesini dengan cerita-cerita barunya yang tak kalah menariknya

3 Replies to “Pengalaman ceria di Papandayan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: