Pendakian Rinjani, menyambangi singgasana Dewi Anjani

Scroll down to content

Diantara puluhan gunung yang ada di Negeri ini, mungkin Rinjani adalah salah satu yang selalu mampu membuat mata saya selalu berbinar ketika mengingat ceritanya, mendengar namanya, dan melihat gambarnya. Selalu takjub, belum pernah bosan sekalipun jua. Rinjani membuat saya percaya dia adalah sebuah raksasa yang disematkan Tuhan dengan kokohnya diatas Pulau Lombok. Jika menurut legenda Semeru ditasbihkan mendiami timur Jawa, agar Pulau Jawa tak lagi terombang-ambing ditengah ganasnya lautan, mungkin Rinjani punya tujuan lain, membahagiakan pengagumnya. Saya hampir percaya dia adalah surga kecil yang di limpahkan Sang Pencipta untuk memberikan berkah tak terhingga bagi warga yang mendiami lerengnya. Tanah-tanah menjadi subur, udara menjadi sejuk, pemandangan menjadi indah, memberikan lapangan kerja yang banyak, dan pelbagai hal lainnya yang membuat Rinjani berhak disebut Sekeping Surga di Bumi Lombok

Mendengar Rinjani membawa ingatan saya tentang sebuah pendakian yang diawali mimpi panjang anak kuliahan yang kebingungan ingin menapaki Puncak Anjani. Dia kebingungan dengan siapa dan dengan cara apa agar berhasil kesana. Memang Rinjani tak perlu mengharuskan kita mengeruk uang di kantong terlalu dalam, tak perlu juga harus latihan fisik berpuluh minggu jungkir balik agar nanti prima menapaki tiap jengkal trek disana apalagi harus mempelajari teknik-teknik mendaki yang super rumit bagi saya sendiri seperti memanjat dinding, meniti tali, dan lain sebagainya. Rinjani hanya memerlukan dua bulan uang saku saya yang tidak boleh dipotong sedikitpun, Rinjani hanya perlu satu minggu penuh untuk disisihkan waktunya agar mampu dengan sempurna menikmati indahnya perjalanan dari trek Sembalun ke Senaru, Rinjani hanya butuh tenaga yang prima yang mampu memikul belasan kilo kerir dipunggung, bahkan jika engkau punya uang lebih, engkau bisa memilih untuk menyewa porter, Rinjani hanya perlu engkau terus melangkah, hingga akhirnya mimpi itu sempurna ketika engkau berada dititik tertingginga, 3726 Mdpl. Dan mimpi itu pula yang akhirnya mampu membawa saya berkali-kali menjejakkan kaki di puncaknya, dan selalu saja takjub tiada kira.

Rinjani, sebuah raksasa yang indah yang mendiami Pulau Lombok
Rinjani, sebuah raksasa yang indah yang mendiami Pulau Lombok

Musim terbaik mendaki Rinjani mungkin bagi saya sama saja, semuanya terbaik, semua punya sensasi tersendiri. Dari mulai musim hujan lebat ketika kilat berkilatan tak hentinya sampai musim kemarau kering kerontang yang mampu menguningkan hamparan rumput Rinjani, bahkan membakar sebagian tubuhnya. Dan seperti itulah Rinjani, selalu ada sensasi berbeda ditiap pendakiannya yang membuat saya selalu ketagihan. Mulai dari sensasi hampir mati kedinginan di Plawangan Sembalun, sensasi hidung berdarah -mimisan, tak henti-hentinya selama lima hari, menjadi tontonan ketika berjalan di trek Rinjani karena darah yang menetes dari tissue yang disumbatkan kehidung sekenanya, sensasi kewalahan saat harus menjadi leader dari 25 orang yang benar-benar asing dari pergaulan saya dan akhirnya menjadi dekat hingga saya berani menyebutnya keluarga, sensasi melepaskan lelah letih di otot tubuh hingga menjadi lemas dan rileks kembali di Hangatnya kolam jacuzzi terbaik dunia, Sumber air panas Segara Anak. Dan entah banyak sensasi lainnya yang selalu mampu menggetarkan jiwa ketika mengingatnya apalagi merasakannya. Dan pada akhirnya saya berani bercerita tentang kegilaan, keceriaan, kesedihan dan segala macam sensasi saya ketika berada di Rinjani

Pagi itu disaat matahari masih sedikit malu-malu menyibaklan cahaya dari punggungan Rinjani dan jatuh ke tanah Sembalun, desa kecil di Kaki Gunung Rinjani, saya terbangun dengan malasnya. Sensasi menggigil karena badan kurang sehat dari kemarin membuat saya harus merapatkan lekat-lekat jaket tipis di tubuh saya. Sial, masih terasa dingin ternyata. Kami berempat,  dengan nekat atau tolol lebih tepatnya, memilih untuk tidur di bale-bale kecil didepan basecamp, entah apa maksudnya, ingin mengehemat pengeluaran atau mencoba beradaptasi dengan ketinggian, sehingga kami memilih tidur diluar, hanya dengan balutan sleeping bag kami tidur berjejer di ssebuah saung tanpa dinding itu, tak ayal angin yang dengan jahatnya masuk perlahan diam-diam kedalam pori-pori sleeping bag tipis dan dengan jahatnya menusuk-nusuk badan kami hingga dinginnya terasa ke tulang.

Ufuk barat masih menyiratkan cahaya jingga tanda matahari belum terlalu sempurna menerbitkan dirinya di Bumi Sembalun. Saya tak sabar hanya menahan dingin saja didalam sleeping bag. Saya memilih keluar dan berjalan ke jalan. Masih sangat sepi, hanya beberapa orang yang hilir mudik dengan peralatan kebunnya. Saya melempar senyum sesekali membalas sapaan hangat mereka. Tiba-tiba badan yang masih lemas ini membuat saya tidak bisa berdiri lama-lama disini. Segera saya kembali membangunkan teman-teman, agar segera bersiap memulai pendakian hari ini. Mereka sedikit terkejut melihat saya yang nampak terlihat lebih bugar daripada kemarin. Entah dirasuki kekuatan apa, saya memang merasa hari ini agak mendingan dibandingkan kemarin yang benar-benar tak ada daya. Bayangkan, kenekatan yang saya lakukan, mendaki Rinjani disaat Muntaber.

Solo Tree, satu dari sedikit pohon yang bisa dijadikan tempat berteduh selama perjalanan menuju Plawangan Sembalun

Solo Tree, satu dari sedikit pohon yang bisa dijadikan tempat berteduh selama perjalanan menuju Plawangan Sembalun

Indonesia sebagai negara yang dilewati ring of fire terkenal memiliki banyak Gunung Berapi. Jejeran deretan Gunung Berapi ini dimulai dari ujung barat Pulau Sumatera, seluruh bagian Jawa, melewati Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara dan berakhir di Sulawesi serta sebagian Kepulauan Maluku. Dan yang paling menjadi favorit bagi saya diantara gunung-gunung berapi itu adalah Gunung Rinjani. Pesona Puncak Dewi Anjani yang termahsyur ke seluruh dunia membawa saya dua kali menjejakan kaki di Gunung ini. Saya jatuh cinta dengan pesona savananya yang maha luas itu, bukit penyesalan berliku nan curam, Plawangan Sembalun, dan yang paling megah dan epic adalah Danau Segara Anak dengan Gunung Barujari ditengahnya. Bahkan, Lonely Planet sebagai kitab suci bagi pelancong dunia pun menjadikan Rinjani sebagai destinasi wajib ketika para pelancong mengunjungi Nusantara.

Ada yang bertanya kepada saya mengapa saya mencintai naik gunung? Jawabannya sederhana, jika ada hal di dunia ini yang menakjubkan selain cinta, mungkin bagi saya adalah mendaki gunung. Saya bersama para sahabat sependakian menjelajahi urat-urat perbukitan, menyusuri lika-liku gelap dan rapatnya hutan, setapak demi setapak menapaki tebing curam, hingga berpelukan erat bersama mereka ketika menggapai puncak. Banyak kenangan berkesan di tiap pendakian yang saya lakukan salah satunya disini. Mendaki gunung juga merupakan salah satu cara bagi saya untuk mencintai Tanah Air ini, dengan keindahan alam yang ditawarkan tiap gunung yang saya daki, saya bersyukur dapat tinggal di negeri dengan keindahan alam yang maha eksotis ini.

Bagi saya Rinjani sendiri sudah menjadi paket lengkap bagi para penggiat alam khususnya mountaineering. Banyak yang anda bisa lakukan disini. Anda bisa merasakan pengalaman berjalan di savana luas nan terik yang sepertinya tak ada ujungnya dari desa Sembalun hingga Plawangan Sembalun, setelah itu mendaki di trek berpasir menuju puncak Dewi Anjani, pemandangan dari sini sangat sempurna. Urat-urat dinding puncak Rinjani terlihat sangat jelas menggambarkan bagaimana kedahsyatan letusannya beratus tahun yang lalu. Memancing dan mandi di Danau Segara Anak juga bisa menjadi pilihan hiburan lainnya. Jika anda tak kuat dinginnya air disini anda bisa menikmati fasilitas hot spring yang tak akan anda temui di resort dan Spa manapun. Saya menyebutnya best and most favo Spot in Rinjani. Kucuran air panas yang cukup deras yang dari perut Gunung Barujari dapat anda nikmati untuk melepaskan lelah dan tegangnya otot tubuh anda setelah melakukan pendakian berhari-hari. Berendam disini sungguh maha mengasyikan. Pemandangan bukit-bukit di depan mata sama nikmatnya dengan kucuran air hangat yang jatuh ke punggung saya. Otot-otot yang tegang menjadi lebih rileks. Ohhhh… Maha Indah Rinjani.

Kami segera memulai persiapan pendakian pagi itu ditemani mulut yang tak berhenti menguap dengan lebarnya. Dua jam kemudian semuanya siap. Mata sudah sangat segar, kaki digoyang-goyangkan agar lentur menapaki trek Rinjani yang maha panjang itu, mental dipertebal, dan doa dipanjangkan lantunannya. Kami berkumpul berempat, berdoa agar semuanya dilancarkan untuk empat hari kedepannya. Ini pendakian pertama saya ke Rinjani, pendakian ke Gunung paling tinggi yang saya daki waktu itu. Pendakian impian, begitu saya menyebutnya kala itu. Kali ini tak boleh gagal, pantang menyerah hingga ke titik 3726 Mdpl. Memang puncak bukan segalanya, apalagi sebuah keharusan ketika mendaki, tapi jika teringat akan mimpi pertama kalinya ingin mendaki ke Rinjani, saya selalu berusaha menguatkan diri, mempertebal kebersamaan agar bisa menjejakkan kaki bersama kawan sependakian di Puncak Anjani dan pulang dengan selamat berkumpul kembali bersama kerabat.

Bukit-bukit di sepanjang jalur Sembalun
Bukit-bukit di sepanjang jalur Sembalun

Langit biru memayungi Bumi Sembalun pagi itu dengan sempurna, hampir tak ada gumpalan awan yang berarakan. Birunya benar-benar bersih dan pekat. Saya sedikit kewalahan menghadang sinar matahari itu yang dengan gagahnya membakar kulit saya. Tak apalah semua demi Rinjani pikirku. Tubuh yang sebenarnya masih lemah itu saya gagah-gagahkan, setengah jam mulai terasa kalau ternyata memang sedang kurang prima badan ini. Tiga hari kemaren memang saya hanya makan sedikit saja, hanya mengganjal lambung agar tak benar-benar kosong. Karena Muntaber yang sedang melanda membuat saya harus memuntahkan lagi dan mengeluarkan makanan yang saya makan saat itu juga, sungguh tak enak rasanya. Dan pagi ini, dengan tubuh yang sebenarnya masih lemas itu saya harus memikul beban belasan kilo di punggung. Trek Sembalun yang mengular didepan mata bak sebuah tantangan yang harus saya taklukan sepanjang hari itu. Target kami harus tiba di Plawangan Sembalun malam itu dan summit attack esok subuhnya.

Tantangan pertama menuju Plawangan Sembalun adalah panjangnya trek berupa hamparan savana luas yang harus kita lewati, tanpa ada pohon sama sekali yang meneduhi. setelah itu kita akan disambut dengan trek bukit penyesalan yang dengan mudahnya menggerogoti semangat para pendaki. Bukit penyesalan merupakan bukit dengan tujuh tanjakan yang sangat menyiksa. Saya menyesal tidak menggunakan jasa porter ketika melewati bukit ini. Namun rasa sesal dan lelah saya terbayar lunas dan sempurna dengan panorama sunset paling epik dari shelter Plawangan Sembalun. Awan yang menutupi danau segara anak alan menyisakan sedikit pemandangan bukit-bukit kecil yang memerah efek pantulan cahaya matahari yang mulai tenggelam. Senja disini mampu membiuskan kita dengan warna langitnya yang menyimpan sejuta misteri yang selalu saya sukai.

Pos 2 Gunung Rinjani
Pos 2 Gunung Rinjani

Pos 1, pos 2, hingga pos 3 berhasil saya lewati dengan keluhan yang saya simpan sendiri dalam hati. Rasanya ingin sekali melempar kerir ini ke tepi jurang yang saya temui berkali-kali sepanjang jalan. Beratnya bukan main. Perut yang entah kenapa sama sekali tak bisa diajak berkompromi hari itu terus-menerus menusuk saya. Badan saya benar-benar panas, bukan karena sengatan matahari, tapi mungkin demam yang kemarin sempat menurun kini kembali datang. Saya memilih untuk tiduran di sela-sela batu di Pos 3, izin sebentar istirahat pada teman-teman, beruntung mereka memaklumi. Saya tidur siang itu dengan pulasnya. Bahkan kata teman-teman, saya tidak sadar diganggu monyet liar disini berkali-kali. Bangun dari tidur badan saya pun tak kunjung membaik, bahkan semakin panas dan lemas. Saya memaksa minum banyak sekali, berharap saya hanya mengalami dehidrasi saja, tapi ternyata tidak, memang tubuh saya masih sakit saat itu. Sampai sore hari saya tetap berkutat dengan bukit-bukit sialan menuju Plawangan Sembalun. Saya benci sekali melewati bukit-bukit terjal nan panjang sore itu, ditambah panasnya bukan main. Kebencian saya pada bukit-bukit penyesalan pada saat itu membuahkan rasa rindu yang sering menyapa saya dilain waktu. Rindu mengingat momen hampir mati konyol karena terlalu lemas harus menapaki tanjakan terjalnya selangkah demi selangkah, atau rindu momen saat saya dengan puasnya menertawakan teman-teman saya yang kewalahan mendaki bukit ini disaat saya mendaki Rinjani lain waktu dan kondisi fisik sedang prima. Begitulah bukit Penyesalan Rinjani. Sudah sangat terkenal menjadi musuh pendaki Rinjani, tapi menjadi satu cerita yang pastinya tidak akan dilupakan mereka.

Saya akhirnya tiba di Plawangan Sembalun ketika matahari tepat hendak kembali ke peraduannya. Seperti sihir yang merasuk ke tubuh saya, rasa lemas dan letih luar biasa yang mendera seolah terobati dengan panorama senja petang itu. Masih tercetak jelas dalam ingatan saya saat porter-porter menyapa saya ketika terduduk diam dihipnotis oleh momen magic itu, bahkan sampai sekarang saya masih tersenyum sendiri melihat video momen itu. Dengan ramah dan penuh tawa mereka mengulurkan tangan dan berucap “Selamat datang di Rinjani”. Saya tak menyangka porter yang ada disitu begitu ramahnya menyambut pendaki, sementara dari informasi yang banyak saya baca porter disini sering meninggalkan kesan yang kurang baik dan kurang ramah terhadap pendaki lokal yang tak menggunakan jasa mereka.

Saya melepas kerir yang melekat erat di punggung. Mengeluarkan sebatang cokelat yang dari tadi selalu utuh di tas kecil saya. Menggigitnya perlahan sambil menyesapi pemandangan didepan mata. Yang saya ingat dari lukisan senja sore itu adalah bentangan bukit-bukit yang memagari Danau Segara anak tertutup gumpalan awan setengahnya. Bukit-bukit tersebut berwarna oranye karena terkena pancaran sisa-sisa bias matahari yang perlahan turun sedikit demi sedikit ke peraduannya hingga akhirnya lenyap secara utuh. Banyak pendaki lainnya yang rata-rata berasal dari luar Indonesia yang sibuk mengabadikan momen tersebut, namun tak sedikit yang menikmatinya hanya dengan duduk-duduk saja seperti yang saya lakukan. Dengan segelas cangkir kopi atau teh hangat, mereka berbincang bersama kerabat sependakian, ataupun pendaki lainnya yang baru mereka temui. Saya bisa menangkap sedikit sayup-sayup obrolan mereka yang memuji keindahan senja sore itu. Dan momen ini sukses membuat tubuh saya merasa baikan.

Kawan saya yang lainnya segera mengajak saya mencari spot camping yang lebih nyaman ketika matahari benar-benar tenggelam. Momen menikmati sunset usai. Saya segera mengejar dengan cepat. Sedikit kesulitan rasanya berjalan ditengah kegelapan. Lampu senter yang saya simpan didalam tas rasanya malas sekali saya keluarkan. Jadinya saya hanya membuntuti mereka, mengikuti sisa-sisa cahaya dari lampu senter yang mereka pegang. Tiba di spot yang dirasa nyaman dan aman untuk mendirikan tenda, kami segera mengeluarkan peralatan dari dalam kerir. Dengan cekatan mereka mendirikan tenda, dan menyuruh saya untuk istirahat saja.

Tenda selesai didirikan, dan kami melanjutkan aktivitas dengan memasak. Ternyata nafsu makan saya belum pulih benar, hanya beberapa lembar roti dan susu hangat yang sukses masuk kedalam perut saya. Tak lama, kami semua memilih beristirahat, memulihkan kembali tenaga yang sudah terkuras habis dipendakian hari ini

***

Langkah demi langkah, setapak demi setapak, kami berempat, bertemankan lampu senter di kepala masing-masing dan tas kecil dipunggung menapaki jalan menuju singgasana Dewi Anjani. Sudah tiga jam lebih rasanya kami menapaki dinding-dinding kokoh yang mengular hingga kepuncak Rinjani ini. Rasa kantuk mulai merajai mata kami. Tidur semalam rasanya tak benar-benar sukses memulihkan stamina kami, apalagi tubuh saya yang belum benar-benar prima. Perlahan kami mulai terpisah-pisah, mulai berjalan berjauhan. Saya dibarisan ketiga ditemani satu rekan saya yang jalannya juga seperti keong lajunya, ini adalah pendakian pertamanya, dia belum terbiasa dengan trek pegunungan yang terkadang ganas. Beruntung cuaca sangat cerah malam itu. Barisan debu jagat raya terlihat menghiasi atap langit. Lumayan indah untuk dinikmati disela-sela rehat kecil perjalanan summit attack malam itu. Dari jam dua pagi kami berjalan, sekarang sudah tiga jam kami baru tiba di punggungan terakhir trek ke Puncak Rinjani. Di depan kami berdiri kokoh dengan curamnya trek yang membentuk huruf S. Trek tersebut didominasi pasir. Trek ini musuh utama bagi yang semangatnya lemah. Akan banyak pendaki yang menyerah biasanya disini. Pasalnya tak mudah menapaki jalur berpasir itu. Setiap langkah yang kita tapak akan kembali merosot karena pijakan berpasir itu kurang padat. Dibutuhkan teknik yang tepat menghadapi trek seperti ini. Berjalan dibekas pijakan orang adalah kunci sukses agar tak banyak buang-buang tenaga. Kita bisa menapaki kaki kita ke bekas pijakan kaki orang sebelumnya, tentunya cari bekas pijakan yang terlihat padat tapaknya.

Jam lima subuh, sayup-sayup terdengar azan subuh dari Sembalun. Langit mulai berubah, tak sepenuhnya lagi diselimuti gelap. Ada garis oranye nan cantik diujung timur sana. Itulah sang Fajar. Deretan lampu pendaki dikejauhan menunjukkan mereka hampir tiba di puncak, itu pendaki asing dari luar negeri, jalan mereka memang lincah. Kecepatannya diatas rata-rata, tak seperti kami yang nafasnya satu-satu. Hanya porter yang mampu mengungguli kecepatan mereka. Pun begitu dengan pakaian yang mereka pakai. Ada beberapa pendaki dari Italia, Jerman, Meksiko, Australia, atau pendaki dari negara bermusim dingin yang saya lihat hanya mengenakan celana dan jaket yang tipis, bahkan beberapa mengenakan celana pendek subuh itu. Luar biasa cara mereka menahan dinginnya angin yang sesungguhnya sangat menusuk tulang itu. Sementara kami, pendaki lokal, mempersiapkan diri dengan pakaian super tebal, baju berlapis-lapis, celana pun begitu, dipilih yang tahan dingin dan tahan  angin, itupun kami masih merasakan kedinginan yang luar biasa ditengah perjalanan summit attack.

Tak ingin tertinggal jauh dari kawan didepan, kami berdua segera mengejar ketertinggalan ini. Namun karena makin beratnya trek berpasir yang curam ini, ditambah tenaga yang terus digerus hingga ke titik terlemah, kami memilih untuk berjalan perlahan. Sekitar dua jam kami baru sukses melewati trek itu. Kami tiba di Puncak ketika matahari sudah benar-benar terang. Pukul tujuh pagi lewat empat menit tepatnya. Hangatnya sinar matahari berbanding terbalik dengan dinginnya angin yang teramat kencang berhembus di Puncak Anjani. Saya, dan tiga kawan lainnya segera bersujud. Menasbihkan kebesaranNya yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk menjejakkan kaki di Singgasana Dewi Anjani ini. Berpelukan, saling berucap selamat menjadi ritual yang tak kami lewatkan. “Akhirnyaaa Broooo kita di Puncak Rinjani” Teriak Vero, kawan saya yang paling sering mendaki bersama, dan ini mimpi kami berdua setelah sukses menapaki Puncak Mahameru tujuh bulan silam.

Puncak Anjani
Puncak Anjani

3726Mdpl, menjadi tulisan paling sakral yang harus kami pegang, kemudian kami abadikan dengan berbagai gaya dalam jepretan kamera. Sendirian, kemudian bergantian, seterusnya berfoto berempat. Selebrasi atas rasa syukur yang kami lakukan atas rasa bahagia saat itu. Dari puncak ini, banyak mimpi-mimpi baru yang bermunculan, salah satunya untuk menapaki kaki di titik tertinggi lima Kepulauan di Indonesia. Bukan sebagai ajang untuk pamer diri, tapi lebih kepada rasa cinta terhadap Tanah Air, bukti cinta saya dan yang lainnya terhadap ketinggian. Dan sebagai warga Indonesia yang memiliki gunung-gunung kokoh yang tersebar sampai keujung negeri, rasanya tak ada salahnya kami menaruh mimpi sebesar demikian.

Sang porter, menuruni jalur pasir berdebu Puncak Anjani
Sang porter, menuruni jalur pasir berdebu Puncak Anjani

Sama seperti di Puncak Gunung Api lainnya, Puncak Anjani menawarkan view yang lapang, yang memberikan kelegaan kepada mata kita melihat pemandangan disekitarnya tanpa terhalangi apapun. Di sebelah timur kita dapat melihat Puncak Tambora ketika cuaca sedang bagus, begitu juga sebelah barat, Gunung Agung dengan puncak kerucutnya akan menyembul dari hamparan lautan awan yang berarakan. Hampir keseluruhan pulau Lombok bisa dilihat dari Puncak Anjani. Pulau-pulau kecil yang sering disebut masyarakat sekita dengan ‘Gili’ terlihat menghiasi pinggiran Lombok pun terlihat dari sini. Dan yang paling membuat takjub adalah pemandangan Danau Segara Anak yang mengitari Gunung Barujari ditengahnya. Dari sini mungkin jika tidak merasakan kedinginan hebat, sudah saya ingin berlama-lama menikmatinya. Namun karena dinginnya angin kencang pagi itu mengharuskan kami segera turun. Melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak siang itu juga.

***

Mungkin pemandangan terindah dari perjalanan di Rinjani itu adalah ketika melewati trek dari Plawangan Sembalun menuju Plawangan Senaru. Sejak melangkah perlahan menuruni tebing Plawangan Sembalun menuju Lembah-lembah dibawahnya, hingga tiba di Danau Segara Anak kita akan disuguhi bukit-bukit kokoh yang menjulang tinggi yang sering disebut Plawangan. Bukit itu memagari lembah-lembah di kakinya. Lembah itu pun sama dengan bukit-bukit itu indahnya. Bak diselimuti karpet tebal berwarna hijau disaat musim hujan, dan karpet kuning kecoklatan saat musim kemarau, bukit tersebut dengan indahnya menjadi tontonan mata kita di sepanjang perjalanan. Dari Plawangan Sembalun ke Plawangan Senaru membutuhkan waktu yang cukup panjang, biasanya pendaki akan memilih untuk ngecamp satu malam di Danau Segara Anak. Dan dalam perjalanan inilah kita akan menemukan banyak pemandangan terbaik yang ditawarkan Rinjani. Lembah-lembahnya menyumbangkan sumbangsih yang besar membentuk lukisan Tuhan yang maha indah. Sungai-sungai berisi aliran air belerang yang bersumber dari perut Gunung Barujari pun sarat keindahan. Dari aliran air yang bercampur belerang panas inilah kita akan dimanjakan dengan nikmatnya pemandian air panas di Rinjani. Nikmatnya tiada tara, begitu berendam disini semua otot langsung melemas. Lelah dan letih seketika menguap bersama uap panas dari kolam kecil air panas ini. Begitu alami bentuknya, berdindingkan dua raksasa bukit Plawangan Sembalun dan Plawangan Senaru di kiri kanannya menciptakan sensasi luar biasa bagi yang mencicipinya. Inilah sensasi lain Rinjani yang mungkin akan sangat sangat dan sangat jarang kita temui di Gunung lainnya.  Inilah jacuzzi terbaik yang ditawarkan Rinjani kepada pelancong yang ziarah ke tanahnya.

View dari Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak
View dari Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak

Tanpa malu-malu saya melepas pakaian saya satu persatu, menyisakan pakaian mandi yang masih wajar. Lagi-lagi saya beruntung tiba di sungai ini saat sedang sepi. Merendam kaki, kemudian merendam badan saya utuh hingga ke kepala kedalam kolam kecil ini. Airnya kuning karena kandungan belerang didalamnya yang cukup banyak, iseng saya mencoba ternyata asam rasanya. Suhu airnya cukup pas untuk melemaskan otot-otot yang kaku karena pendakian beberapa hari ini. Saking nikmatnya saya dipijat oleh kucuran air yang jatuh dari hulu kolam diatasnya membuat saya lupa dengan Muntaber yang saya melanda saya dari kemarin. Saya berharap dengan terapi air panas ini mampu menyehatkan badan saya normal sedia kala, walaupun sama sekali tak ada hubungannya antara air panas dan muntaber.

Hot Spring Rinjani
Hot Spring Rinjani

Hampir dua jam ternyata kami menikmati kolam air panas itu. Saya dan yang lainnya segera kembali ke tempat tenda kami didirikan di bibir Danau Segara Anak. Saya langsung tertidur, meringkuk dibalik sleeping bag hangat. Mengintip sebentar aktivitas teman-teman diluar yang sibuk memancing ikan di Segara Anak. Konon katanya ikan ini disebut ikan ‘Tin’ Karena pada tahun 1996, atas ide dari Ibu Negara pada saat itu, Ibu Tien Soeharto, diutuslah beberapa helikopter melayang-layang dilangit Segara Anak untuk menyebarkan benih-benih ikan yang nampaknya seperti ikan Mujair, atau entahlah apa namanya. Hingga akhirnya ikan itu menjadi penghuni paling dominan di Danau seluas 1100 hektar itu.

Panorama Danau Segara Anak dari sisi Timur
Panorama Danau Segara Anak dari sisi Timur

Petulangan di Rinjani di hari terakhir adalah menyusuri lembah Danau Segara anak yang berlanjut dengan meniti bukit dan tebing-tebing curam menuju Plawangan Sembalun. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuruni hutan Senaru, Hutan ini sangat lebat namun memberikan keteduhan bagi pendaki yang melewati jalur ini, sangat berbeda dengan jalur Sembalun yang tak dipayungi pohon sama sekali, kecuali di Jalur Bukit Penyesalan. Tak semua pendaki biasanya memilih jalur ini, banyak yang hanya setelah memuncaki Dewi Anjani memilih untuk kembali turun melalui jalur Sembalun. Padahal Jalur Senaru menyimpan pemandangan terbaik yang dimiliki Rinjani. Dari puncak Plawangan Sembalun kita akan dengan sangat mudah dibuat terpesona melihat gugusan Puncak Anjani, Gunung Barujari, dan Danau Segera Anak yang membentuk komposisi paling cantik. dan akhirnya Setelah seharian melewati trek jalur Senaru yang melelahkan akhirnya tibalah kami di basecamp pos Senaru. Istirahat sebentar sambil menunggu mobil jemputan datang. Petualangan di Rinjani berakhir, menuntaskan satu mimpi dan mencetuskan mimpi besar lainnya untuk menjelajahi Puncak-puncak gunung lainnya di Negeri ini

Spot cantik Rinjani dari jalur Senaru
Spot cantik Rinjani dari jalur Senaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: