Menyambangi kedamaian Gunung Argopuro

Scroll down to content

Masih teringat jelas rasanya pendakian bulan Agustus Tahun 2015 yang lalu di Gunung Argopuro menjadi bermakna dan lebih bernilai bagi saya. Mungkin kecelakaan kecil yang kaki saya alami seperti menampar bagaimana saya harus beretika sebelum melakukan pendakian. Hampir setahun saya nekat jalan-jalan tanpa izin dari orang tua, saya nekat mendaki gunung-gunung diluar sana. Dan setelah kejadian pagi hari di Cikasur itu akhirnya saya mengalah, saya menyadari bahwa betapa kecilnya saya di alam ini, tak hanya restu alam yang saya butuhkan, tetapi juga restu orang tua.

Banyak cara yang kita lakukan untuk menikmati hidup yang singkat ini. Salah satunya adalah jalan-jalan. Mungkin sebagian teman-teman saya akan lebih suka memilih jalan-jalan ke pantai atau ke destinasi dengan spot belanja yang menarik, tapi saya sendiri lebih mencintai Gunung. Entah kenapa, entah muncul darimana, perasaan bahagia yang mungkin paling mampu menyentuh perasaan bahagia yang paling dalam selalu muncul ketika saya mendaki. Terkadang momen sederhana ketika bisa menyaksikan sunrise dan sunset bersama teman, mengeluh karena kedinginan, dan bahkan menyadari betapa bodohnya kami kenapa gemar sekali melakukan aktivitas yang sesungguhnya melelahkan ini bisa membuat saya tersenyum sendiri

saat itu dalam perjalanan menuju Cikasur, savananya sungguh eksotik, menghampar kuning sepanjang jalan

Argopuro, disaat cerah-cerahnya matahari di akhir Agustus 2015 yang lalu, saya dan kedua teman saya dengan cukup nekat memilih untuk mendaki gunung ini hanya bertiga. Berbekal informasi yang dirasa cukup lengkap, kami memilih naik via jalur Baderan dan turun via Jalur Bremi. Tubuh saya waktu itu sebenernya masih didera kelelahan yang luar biasa. Sebelumnya saya mendaki secara marathon gunung Semeru, Rinjani, dan Ijen. Tanpa ada jeda istirahat sama sekali saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Argopuro. Mental sudah saya pupuk jauh-jauh hari, apapun resikonya, saya sudah siap. Bukan hal yang tak mungkin menemukan keanehan di Gunung ini. Pasalnya banyak sekali cerita-cerita yang kurang enak beredar tentang pendakian ke Gunung ini.

Tiba di desa Baderan, dengan menggunakan bis dari Banyuwangi dan dilanjutkan dengan ojek dari desa Besuki, akhirnya sampai juga kami di Basecamp. Sepi sekali rasanya Basecamp kala itu. Sangat jauh berbeda dengan basecamp gunung di Jawa lainnya yang sangat ramai. Bahkan hari itu hanya kelompok kami saja yang datang mendaftar untuk mendaki. Wejangan-wejangan dan cerita-cerita hangat mengalir lancar dari mulut Bapak pengelola basecamp, entah siapa namanya saya lupa. Sejam kemudian, dengan diawali doa, dilanjutkan dengan naik ojek lagi, akhirnya kami siap dan tiba di gerbang pendakian. Perjalanan 1 jam awal masih diwarnai obrolan singkat agar pendakian sedikit menarik. 1 jam sebelumnya kami semakin banyak diam, entah karena letih, atau karena kehabisan obrolan, dan 1 jam kemudian pun kami tiba di Pos mata Air 1, tempat yang memang kami rencanakan untuk ngecamp. Disini ada mata air yang cukup jernih airnya untuk keperluan minum dan memasak. Letaknya sedikit dibawah area camp pos Mata Air 1. Setelah mendirikan tenda dan mengambil air, tak lama sergapan kabut tebal datang, saya dan teman langsung masuk kedalam tenda, sibuk mempersiapkan alat dan bahan untuk memasak. Cuaca malam itu masih cukup bersahabat. Angin masih bertiup normal, udara pun belum terlalu menusuk dinginnya. Obrolan-obrolan tak bermutu mewarnai malam kami saat itu, tak lama akhirnya kami tidur.

Hari kedua, perjalanan kami lanjutkan, target kali ini adalah savana Cikasur. Saya sudah membayangkan bagaimana cantiknya view ketika tiba disana, dan ternyata saya cukup dibuat senang, savana tidak hanya ada di Cikasur, tapi sepanjang perjalanan menuju Cikasur, jadinya perjalanan hari kedua ini lebih menyenangkan karena disuguhkan oleh view-view cantik dari rerumputan luas yang menguning ini. Tak ayal, kami sibuk berebutan mengambil gambar, rugi rasanya pemandangan seindah dan sedamai ini tak diabadikan. Tak ingin melewatkan kedamaian yang sungguh nikmat ini, saya dan teman-teman memilih untuk berhenti agak lama ditiap savana yang kami singgahi, beruntung cuaca sore itu cukup teduh, cukup menambah syahdunya moment saat itu.

Dalam perjalanan menuju Cikasur, Savana dimana-mana!

Kurang lebih berjarak 3 jam, kami tiba di sebuah sungai kecil, Sungai Qalbu namanya, indahnya bukan main, dan disinilah akhirnya saya terjatuh. Karena hanya mengenakan sandal gunung, kaki saya langsung terpelintir ketika jatuh terpleast di turunan menuju Sungai. Sepatu saya ketinggalan di Bis, jadi pendakian kali ini saya nekat mengenakan sandal Gunung saja. Setelah dipijit dan ditarik-tarik sedikit, akhirnya saya kembali melanjutkan perjalanan menuju sungai. Gemericik aliran sungai kecil saat itu sangat syahdu, berteman dengan angin yang bertiup perlahan, ditambah teduhnya sinar matahari menjadikan sore itu sangat semarak dan membuat percikan kebahagiaan dihati saya. Dengan sedikit berjingkat dan hati-hati kami menyeberangi sungai itu, melewati bebatuan yang disusun sedemikian rupa membentuk jalan. Dan ternyata didepan kami adalah pos Savana Cikasur. Senang sekali rasanya membayangkan akan camping dekat dengan sungai ini. Saya jadi teringat omongan Bapak Pengelola kemarin “Boleh mandi di Sungai ini, asal nggak pakai sabun”. Membayangkan akan mandi di sungai kecil dengan air sejernih dan pemandangan seindah ini membuat saya semakin tidak sabar melangkahkan kaki cepat-cepat menuju area camp di Cikasur. Setelah mendirikan tenda dan merapikan barang, segera saya dan kawan-kawan berlari menuju sungai tadi. Memasukkan kaki kami perlahan-lahan karena terlalu dinginnya air saat itu. Tak lama, acara mandi dan berendam di sungai pun berlalu. Segar rasanya. Keringat dan debu sepanjang jalan luruh dengan jernihnya air Sungai Qalbu. Di sungai ini juga banyak terdapat selada air, yang sering dijadikan alternatif para pendaki sebagai bahan makanan.

Selesai mandi saya dan teman-teman asyik bermain di luasnya savana Cikasur. Banyak sekali Burung Merak yang dapat kita jumpai disini, berkeliaran liar. Cukup beruntung rasanya dapat menyaksikan dan mendengar burung-burung dengan bulu cantik itu bermain dan bersahutan satu sama lainnya. Tenangnya Cikasur saat itu membuat saya ingin betah berlama-lama tiduran diatas rumputnya yang tebal mirip kasur, mungkin itu kenapa Savana ini dinamakan Cikasur.

Sungai Qalbu, salah satu spot favorit saya. Syahdunya tak terkira
Sungai Qalbu, salah satu spot favorit saya. Syahdunya tak terkira

Malam harinya sangat dingin, sepi dan langit terlihat sangat jelas menaburkan Bintang-bintangnya. Dennis, teman saya ini sangat menyukai momen ini, dirinya akan sibuk memberanikan diri keluar tenda di sepertiga ujung malam untuk mengabadikan gambar-gambar keindahan Milky Way. Saya dan Heru sibuk tertidur. Dan entah kenapa tengah malamnya saya terbangun karena ujung kaki kiri saya sampai betis terasa sangat sakit dan setelah saya pegang ternyata bengkak, ternyata ini efek jatuh sore tadi. Sakitnya bukan main, saya sangsi membayangakan perjalanan 3 hari kedepan dengan kaki seperti ini. Saya mencoba untuk tidur kembali namun gagal, akhirnya saya mencoba mengobati sebisanya dengan mengurut dan mengoleskan krim penghilang nyeri untuk mengurangi rasa sakit di kaki saya. Paginya saya terbangun dengan kaki yang semakin bengkak, saya mencoba berdiri namun kaki kiri saya sangat sakit ketika dicoba untuk menapak ditanah. Kebingungan hebat melanda saya rasanya saat itu, bingung memikirkan bagaimana meneruskan perjalanan. Jangankan berjalan, berdiri saja sangat sakit rasanya. Untuk mengalihkan pikiran saya dari rasa sakit akhirnya saya mencoba untuk memasak sarapan pagi itu, selesai memasak saya ketiduran tanpa sempat menyentuh masakan yang saya masak. Tak lama terdengar suara teman saya yang sibuk packing, saya ikutan keluar tenda dan bantu-bantu packing. Baru selangkah kaki saya ayunkan, rasa sakit kembali menjalar. Melihat saya sakit seperti itu, teman saya mencoba membantu, namun tetap saja sakitnya tak hilang sedikitpun, akhirnya diputuskan saya hanya membawa barang sedikit dan Dennis meminjamkan sepatunya agar kaki saya kali ini lebih terjaga. Perjalanan pun dilanjutkan

Tujuh jam yang sangat menyiksa rasanya harus berjalan menuju pos Savana Lonceng dari Cikasur saat itu. Jika kemarin saya sangat bahagia melihat banyak savana, kali ini rasanya ingin cepat-cepat sampai dan mengistirahatkan kaki ini. Ditengah perjalanan kami sempat nyasar dua kali karena tak ada petunjuk jalan sama sekali, sedangkan jalur disini banyak percabangan. Beruntung kami segera kembali ke jalur awal. Setelah 7 jam lebih berjalan akhirnya kami tiba juga di Savana Lonceng. Ada sekitar 4 tenda yang sudah berdiri disana, ternyata ada dua grup pendaki yang sudah tiba. Beruntung sekali rasanya dapat bertemu pendaki lainnya setelah berhari-hari hanya kami bertiga.

Cikasur pagi itu. Sepi, sepi dan sepi!

Tenda kami dirikan, setelah itu langsung masak dan ikut berkumpul mengelililingi api unggun besar yang dibuat pendaki tetangga, mereka berasal dari Probolinggo dan Surabaya, profesi mereka ternyata sebagai sopir jeep dan penyewa kuda di Bromo. Kami bertukar cerita cukup banyak, berbagi pengalaman dan cerita masing-masing terutama tentang pendakian. Setelah dirasa malam semakin dingin, akhirnya saya memilih untuk tidur.

Subuh esok harinya kami terbangun untuk melakukan summit attack, kali ini puncaknya berjarak tak terlalu jauh, kurang dari 15 menit kita sudah bisa menginjakkan kaki di Puncak Rengganis. Begitupun puncak Argopuro, berjarak tak terlalu jauh. Puas berlama-lama menikmati panorama di Puncak Rengganis kami langsung menuju Puncak Argopuro. Kami harus menuruni tanjakan yang kami daki pagi tadi, untuk selanjutnya mengambil jalur ke arah berlawanan untuk menuju Gunung Argopuro. Tak ada yang begitu spesial memang jika benar-benar ingin mencari pemandangan dari Puncak Argopuro ataupun Puncak Rengganis. Di Puncak Argopuro sendiri tak ada view sama sekali yang ditawarkan, sedangkan di Puncak Rengganis kita bisa menyaksikan Samudera diatas awan dan Pemandangan Gunung Ijen, Raung, dan Semeru dari kejauhan.

Puncak Argopuro, hari keempat baru tiba disini
Puncak Argopuro, hari keempat baru tiba disini

Sebelum hari menjelang siang, kami segera berkemas, melanjutkan perjalanan menuju Danau Taman Hidup. Rencananya kami akan menginap lagi semalam disana. Perjalanan menuju Danau Taman Hidup cukup jauh, sekitar 4 jam perjalanan mungkin saat itu. Jalanan yang terus menurun membuat pergelangan kaki saya semakin sakit. Berjalan lambat bukan solusi, jadi saya lebih memilih berjalan setengah berlari untuk mempersingkat penderitaan dikaki ini. Ketika menuju Danau Taman Hidup kita akan melewati berbagai macam vegetasi. Mulai dari turunan yang dihiasi pohon Cemara, setelah itu masuk ke hutan Tropis, hingga Hutan Lumut

Setibanya di Danau Taman Hidup, perasaan senang menyeruak seketika didalam hati saya. Gemuruh senang ketika penderitaan rasa sakit di kaki harus berakhir, ditambah indahnya pemandangan yang ditawarkan didepan mata semakin membuat saya senang saat itu. Secepat kilat saya melepas kerir di punggung, lalu berlari menuju dermaga kecil dipinggiran danau sambil membuka sepatu sekenanya. Damai, itulah perasaan yang mungkin paling banyak mengisi relung hati saya ketika menginjakkan kaki di dermaga kecil ini. Kabut tipis yang menguap dari Danau ditambah angin sepoi semakin menambah syahdunya sore itu. Saya termenung, meresapi nikmatnya kenikmatan yang ditawarkan alam kali ini. Perjuangan empat hari perjalanan mendaki dan menuruni bukit, serta rasa sakit di kaki ini mendadak hilang menguap entah kemana. Danau Taman Hidup. Pesonanya memang tak seterkenal Ranu Kumbolo, namun percayalah tempat ini menyimpan kedamaian yang luar biasa.

Damainya Danau Taman Hidup, semoga selalu begitu
Damainya Danau Taman Hidup, semoga selalu begitu
Taman Hidup di pagi hari
bermain sepuasnya di Danau Taman Hidup
bermain sepuasnya di Danau Taman Hidup

Puas bermain air disini saya kembali ke tempat kerir yang saya lemparkan, membantu teman saya mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri kami segera masak. Setelah itu acaranya hanya berleha-leha. Tiduran di pinggiran danau beralaskan rumput beratapkan langit adalah aktivitas terbaik yang harus dilakukan sore itu. Teduhnya langit ditambah sejuknya udara sore itu menemani kami menikmati lukisan alam ini. Menjelang malam udara semakin dingin hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidur.

Keesokan paginya, secepat kilat kami membereskan barang-barang kami. Takut ketinggalan bis yang hanya berangkat satu kali sehari menuju Probolinggo. Trek turun menuju Desa Bremi kali ini lebih curam dari trek kemarin, bentuknya zig-zag dengan trek pintas lurus namun menukik ditengahnya. Demi mempersingkat waktu kami memilih trek menukik ditengahnya itu. Kami berlari secepatnya, ada yang terjatuh hingga terguling-guling. Tak lama, sekitar dua jam akhirnya kami tiba di desa Bremi. Rasa syukur yang luar bisa saya panjatkan kepada Yang Maha Esa ketika saya diberi kesempatan dapat menjelajahi Gunung ini. Perjuangan 5 hari 4 malam itu terbayar lunas dengan kepuasan hati. Semoga suatu hari ketika kembali ke Gunung ini masih dapat merasakan damainya seperti ini.

How to get there:

  • Ada dua Jalur yang bisa ditempuh untuk menuju Gunung Argopuro yaitu Baderan dan Bremi. Jika ingin mendaki menuju Baderan kita bisa menggunakan bis dari Surabaya atau Banyuwangi yang berangkat menuju desa Besuki, nanti akan berhenti di alun-alun Besuki, setelah itu dilanjutkan dengan naik pick up sayur (hanya ada jam 6 pagi) atau bisa menggunakan jasa ojek 40 ribu rupiah menuju Basecamp Argopuro di Desa Baderan. Dan jika ingin mendaki melalui jalur Bremi, Bis hanya ada dari Terminal Probolinggo dan berhenti tepat didepan basecamp di Desa Bremi
  • Banyak ojek yang bisa kita gunakan untuk mempersingkat waktu tempuh
  • Biaya Tiket Masuk adalah 20ribu/ hari biasa dan 30 ribu/hari libur

Catatan:

  • Gunung ini menyimpan banyak sumber mata air bersih. Sumber air terdapat di pos mata air 1, pos mata air 2, Cikasur, Cisentor, Rawa Embik, dan Danau Taman Hidup
  • Jarak tempuh normal Baderan – Bremi:
  1. basecamp – mata air 1: 5 jam
  2. Mata air 1 – mata air 2: 1,5 jam
  3. Mata air 2 – Cikasur: 1,5 jam
  4. Cikasur – Cisentor: 4 jam
  5. Cisentor – Rawa Embik: 2 jam
  6. Rawa Embik – Savana Lonceng: 2 jam
  7. Savana Lonceng – Puncak Rengganis/Argopuro: 10 Menit
  8. Savana Lonceng – cemara lima: 2 jam
  9. Cemara lima – Danau Taman Hidup: 2 jam
  10. Danau taman hidup – Bremi: 3 jam
  • Semua pos bisa dijadikan area Camping, dilarang keras camping ditengah perjalanan karena masih banyak binatang buas dan liar
  • Musim terbaik adalah saat musim kemarau: Mei – Oktober
  • Waktu normal pendakian 4-5 Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: