Pertama kali mengenal pulau Sumba mungkin ketika saya masih SMP atau SD, saya lupa. Bahkan dulunya seringkali saya kebingungan membedakan antara Sumba dan Sumbawa, pernah saya mengira Sumba itu adalah ibukota Sumbawa, ternyata salah. dan ketika saya pertama kali melakukan perjalanan pertama kali kesini, saya langsung jatuh cinta dengan pulau ini. Terutama kecintaan saya dengan bukit-bukit cantiknya yang paling hebat mencuri hati saya, entah itu ketika kecoklatan saat musim kemarau atau kehijauan saat musim hujan. Mungkin kalau memiliki waktu yang panjang saya ingin sekali menghabiskan banyak waktu hanya untuk memandang bukit-bukit disini, entah itu bukit Wairinding yang paling terkenal ataupun bukit Wailara yang juga eksotik. Selain  bukitnya, Sumba juga memiliki sejumlah pantai yang masih sepi, dan favorit saya jatuh pada Tarimbang. Pantai ini menjadi pantai favorit saya di Sumba bukan karena keindahannya, karena sebenarnya view yang ditawarkan masih tergolong biasa saja, bahkan jika dibandingkan dengan pantai cantik di daerah lain, pantai ini takkan mampu beradu untuk masalah keindahan viewnya, apalagi menandingi pantai yang ada di Flores, Maluku ataupun belahan Indonesia lainnya. Yang membuat saya jatuh cinta pada pantai ini adalah sensasi kedalamaiannya. Sepi adalah kata kunci dari Tarimbang, dan di pantai ini kita dapat meraup dan menikmati sepi itu sebanyak-banyaknya.

Sebelas jam sudah kapal ferry yang saya tumpangi ini terapung-apung di lautan antara Pulau Sumbawa dengan Sumba. Sebelas jam itu pula saya harus menderita menahan sakit di perut dan badan yang kurang cocok diajak bertualang kali ini. Perjalanan overland dan sailing di Flores dan Lombok kemarin nampaknya sukses menggerogoti daya tahan tubuh saya hanya dalam beberapa hari. Dan sekarang, di tepi Barat Daya pesisir Sumba, saya harus menikmati perjalanan seorang diri menembus lautan demi menyeberang ke Pulau Sumba.

Lambung kapal merapat secara perlahan tak lama kemudian. Terik matahari yang teramat menyengat menyambut kedatangan saya. Sorak sorai anak kecil bersahutan sambal berlarian masuk kedalam kapal dari celah-celah yang hanya bisa memuat badan mereka yang kurus kering. Saya tersenyum sebentar, melihat gelagat mereka yang nampaknya riang, tak lama saya kembali merengut. Mengutuk beratnya kerir yang ada di punggung ini ditambah antrian mobil dan motor keluar yang terhambat karena pintu kapal depan kesulitan untuk disandarkan ke bibir dermaga

‘Ojek-ojek bang, mau kemana bang?” para tukang ojek datang menyerbu. Saya langsung menawar harga ke tempat tujuan yang saya inginkan, Hotel di Tambolaka. Setelah deal, motor segera dipacu. Jalanan siang itu cukup lengang, karena memang Waekelo masih sepi penduduknya. Tak lama saya akhirnya tiba di Hotel yang saya tuju. Ini kali kedua saya menginap ditempat yang sama sekitar setengah tahun sebelumnya. Perut kosong yang belum diisi makanan berat dari sore kemarin minta dituntaskan. Saya langsung menuju tempat makan terdekat, yang halal tentunya. Setelah itu saya langsung menuju Kasur, berniat tidur sepulas-pulasnya.

Penjelajahan di Sumba menurut saya adalah perjalanan alam sekaligus mengenal adat budaya setempat. Untuk masalah lanskap bentang alam, Sumba memiliki segalanya, air terjunnya yang eksotik, bukit-bukit yang maha luas nan mempesona, dan pantai-pantai yang relative masih perawan akan menjadi arena bagi sesiapa yang ingin bertualang di Tanah Marapu ini. Untuk adat budayanya sendiri Sumba masih cukup kental, sepanjang jalan kita dapat menemukan rumah-rumah adat asli Sumba yang sangat khas dengan atapnya yang runcing dan tinggi, selain itu pula kita dapat melihat kuburan-kuburan batu berumur ratusan tahun terletak tak jauh dari pemukiman warga. Di Sumba sendiri adat budayanya masih sangat kental dan terjaga. Tak akan sulit bagi kita menemukan pernak-pernik perhiasan adat di sepanjang jalan. Dan juga, Sumba sangat terkenal dengan kepercayaan Marapu, yaitu sebuah keyakinan yang mempercayai pemujaan kepada nenek moyang dan leluhur mereka terdahulu.

DSCF4263
Enjoy Sumba! Tulisan kenangan saat pertama kali menjelajahi Sumba

Day 1 Sumba (Desa Ratenggaro • Laguna Waekuri)
Kelelahan masih mendera tubuh saya ketika saya tiba di Bandara tambolaka, Sumba Barat Daya siang itu. Setelah camping 4 hari di Gunung Pakuwaja, Prau dan Telaga Dringo saya langsung berangkat menuju Sumba. Mengganti peralatan camping saya dengan pernak-pernik berbau Pantai, karena 10 hari kedepan saya akan menjelajahi Sumba dan Bali. Yang pertama kali saya rasakan ketika mendarat di Sumba adalah panasnya yang luar biasa. Daratannya pun kering tanpa banyak pohon rindang yang menghiasi. Setelah keluar dari Bandara tak lama sopir dan guide saya datang menjemput. Dengan logat khas Sumba-nya beliau memperkenalkan diri dan menjelaskan sedikit tentang rute hari ini. Saya semakin siap dan tak sabar untuk menjelajahi pulau dengan daratan yang didominasi bukit savana ini. Tujuan pertama adalah Desa Ratenggaro. Jalanan menuju desa ini terbilang cukup bagus untuk ukuran jalanan Sumba. Aspal mendominasi dengan jalanan berbukit naik turun. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan kampung-kampung kecil dengan rumah khas sumba dan juga kuburannya. Hampir tiap rumah yang saya temui memiliki kuburan didepan rumahnya. Tradisi yang masih terjaga hingga saat ini.
Sekitar 1 jam lebih akhirnya mobil kami tiba di Desa adat Ratenggaro. Pucuk-pucuk atap yang terbuat dari alang-alang kering menyapa kami. Tingginya bukan main, saya diarahkan guide saya menuju tempat mengisi buku tamu. Setelah itu saya bebas mengelilingi desa adat yang sebenernya tak begitu luas ini. Hari itu warga yang tinggal di desa adat sepi sekali. Bahkan banyak rumah yang kosong tak berpenghuni. Puas mengelilingi kampung kecil itu akhirnya saya memutuskan untuk pulang ketika sudah banyak warga yang mengerubuni saya. Kebanyakan mereka menjual pernak-pernik khas daerah mereka, ada beberapa dari mereka yang memaksa, begitupun dengan anak kecil banyak yang memaksa meminta-minta dengan cara paksa.

Anak-anak Sumba yang sibuk bermain berlarian kesana-sini
DSCF4289
Banyak spot cantik disini yang bisa kita jadikan spot foto-foto

Setelah itu guide saya langsung memacu laju mobil menuju laguna waekuri, atau lebih banyak orang menyebutnya dengan sebutan danau. Sekitar satu jam jaraknya perjalanan dari Ratenggaro, akhirnya kami tiba. Jalanan menuju Waekuri sore hari sangat indah. Jalanan yang hanya selebar dua meter itu dihiasi rerumputan hampir setinggi dua meter sepanjang jalan, rerumputan yang kering tersebut sangat indah ketika berpadu dengan cahaya matahari yang mulai menjingga sore itu. Mobil diparkirkan dan saya langsung menuju laguna. Beruntung hanya rombongan kami saja yang tiba sore itu. Jadi kami puas menjelajahi berbagai sudut laguna kecil yang sangat indah sore itu. Dari ujung ke ujung spotnya saya coba, dari mulai hanya bermain air sampai akhirnya berenang di laguna. Bak kolam pribadi rasanya berenang di laguna sore itu. Beningnya air laut yang ada disini pasti akan membuat kita betah berlama-lama, ditambah kedamaian yang ditawarkan tempat ini menjadi poin plus bagi anda yang menginginkan destinasi cantik yang masih perawan, karena spot ini masih belum banyak dikunjungi, tak seramai spot-spot di tempat lainnya. Mungkin hal inilah yang menjadikan Sumba sebagai destinasi favorit bagi saya, masih sepi, masih belum terlalu banyak yang menjamahnya.
Tak lama saya mengeringkan badan dan bersiap mencari spot untuk menyaksikan matahari terbenam. Saya harus berjalan melewati karang-karang karst dengan ukuran besar disini untuk tiba diujung bibir karang yang menjadi tempat menyaksikan sunset yang ciamik. Karangnya sangat tajam jadi sangat disarankan berhati-hati dan menggunakan alas kaki. Tepat pukul 6 WITA matahari menghilang dari peraduannya. Momen tiap menitnya sangat indah pada sore itu. Saya yang kurang menyukai pantai, tapi dibuat jatuh cinta dengan pesona Sunset Waekuri waktu itu. Bentuk matahari benar-benar membulat sempurna. Cahaya oranye yang dibiaskan ke lautan pun menambah apiknya senja sore itu. Cukup mengobati kepenatan saya dari kemarin. Tak lama sebelum langit mulai menggelap kami kembali ke hotel di Tambolaka

DSCF4436
Sunset di Laguna Waekuri
Panorama Laguna Waekuri

Saya berkeliling desa cukup lama, namun tak ada guide yang menemani. Hari itu warga yang tinggal di desa adat sepi sekali. Bahkan banyak rumah yang kosong tak berpenghuni. Puas mengelilingi kampung kecil itu akhirnya saya memutuskan untuk pulang ketika sudah banyak warga yang mengerubuni saya. Kebanyakan mereka menjual pernak-pernik khas daerah mereka, ada beberapa dari mereka yang memaksa, begitupun dengan anak kecil banyak yang memaksa harus membeli dagangan mereka. Tak banyak cerita yang bisa saya dapatkan dari tempat ini, Karena tak ada guide dan warga lokal yang bisa menemani.

Setelah itu Bang Yanto langsung memacu laju mobil menuju laguna waekuri, atau lebih banyak orang menyebutnya dengan sebutan danau. Sekitar satu jam jaraknya dari Ratenggaro, akhirnya kami tiba. Jalanan menuju Waekuri sore hari sangat indah. Jalanan yang hanya selebar dua meter itu dihiasi rerumputan hampir setinggi dua meter sepanjang jalan, rerumputan yang kering tersebut sangat indah ketika berpadu dengan cahaya matahari yang mulai menjingga sore itu. Mobil diparkirkan dan saya langsung menuju laguna. Beruntung hanya rombongan kami saja yang tiba sore itu. Jadi kami puas menjelajahi berbagai sudut laguna kecil yang cantik itu. Dari ujung ke ujung spotnya saya coba, dari mulai hanya bermain air sampai akhirnya berenang di laguna. Bak kolam pribadi rasanya berenang di laguna sore itu. Beningnya air laut yang ada disini pasti akan membuat kita betah berlama-lama, ditambah kedamaian yang ditawarkan tempat ini menjadi poin plus bagi anda yang menginginkan destinasi cantik yang masih perawan, karena spot ini masih belum banyak dikunjungi, tak seramai spot-spot di tempat lainnya. Mungkin hal inilah yang menjadikan Sumba sebagai destinasi favorit bagi saya, masih sepi, masih belum terlalu banyak yang menjamahnya.

Tak lama saya mengeringkan badan dan duduk di balai-balai kecil dipinggiran laguna. Beberapa bapak-bapak menghampiri saya. Saya memulai perbincangan ketika beliau sedang sibuk mengunyah sirih dan pinang. Saya penasaran dan tertarik melihat cara beliau mengunyah pinang dan sirih itu. Katanya sirih dan pinang inilah alat pergaulan yang paling penting bagi warga Sumba. Ibarat kata biasanya banyak diantara kita yang memulai keakraban atau bahkan sebuah bisnis dari secangkir kopi, tidak dengan di Sumba, disini pinang dan sirih lah yang memegang peranan penting sebagai perantara keakraban itu. Tradisi makan sirih pinang ini dilakukan pada saat bertamu atau ada hajatan, maka siapapun yang ditawarkan ,entah itu kerabat dekat, orang penting, atau bahkan orang yang baru saja ditemui harus menerima suguhan sirih pinang yang ditawarkan walaupun nantinya terserah yang menerima mau dimakan ataupun tidak dimakan.

Saya meramu pinang dan sirih itu, kemudian memasukannya kedalam mulut. Perlahan saya kunyah. Duuuhhh pahit bukan main rasanya. Seketika lidah saya menjadi kelu karena pahit getah sirih pinang itu. Air muka saya berubah. Bapak-bapak itu kini tertawa melihat ekspresi wajah saya yang aneh. Saya mencoba mengunyahnya lagi, kali ini saya mulai merasa sensasi kesat didalam mulut saya. Lagi-lagi wajah saya dengan spontannya mengeluarkan ekspresi aneh yang membuat bapak-bapak disini makin terbahak-bahak. Tapi saya tidak mau menyerah, berkali-kali saya mengunyahnya sirih dan pinang itu. Saya merasa menjadi tontonan kebodohan diantara bapak-bapak itu yang sibuk menertawakan ekspresi muka saya sembari berbincang-bincang dengan Bahasa setempat yang sama sekali tak kumengerti. Akhirnya saya mampu melumat semua pinang sirih itu hingga halus bentuknya dalam mulut saya dan saya mulai terbiasa dengan sensasi pahit dan kesat itu. Setelah itu saya meludah dan membuang sirih pinang itu dari dalam mulut saya, persis menirukan gerakan yang dilakukan bapak-bapak yang ada didepan saya. Saya merasa jadi pemenang, dan bapak-bapak tersebut langsung menyalami saya satu per satu. Katanya sangat jarang orang yang baru mengunyah pinang sirih pertama kali mampu melumat itu hingga halus.

Perbincangan dengan mereka tak berlangsung lama karena saya harus meninggalkan rombongan bapak-bapak itu karena tergoda dengan langit jingga diujung Laguna. Magic hour pun dimulai, saya bersiap mencari spot untuk menyaksikan panorama matahari terbenam. Saya harus berjalan melewati karang-karang karst dengan ukuran besar disini untuk tiba diujung bibir karang. Sejenak saya terdiam mengamati lukisan Tuhan didepan mata. Saya bukan pecinta pantai, satu-satunya momen yang mungkin saya cintai dari pantai adalah magic hour sunset-nya. Matahari hampir tiba diujung peraduannya, menyentuh perlahan cakrawala diujung sana, awan yang berarakan perlahan, membentuk tatanan masing-masing dan beradu mengisi lukisan alam ini agar semakin cantik. Angin semilir ditambah burung-burung yang sibuk mencari pelikan sore itu menjadikan suasana semakin semarak. Tanpa disadari saya ikut bergumam bersama lagu yang saya setel dari playlist HP saya. Hari itu ditutup oleh sebuah senja dengan sangat sempurna.

***

Pagi hari setelah sarapan dan mengepak barang bawaan, saya langsung meluncur menuju air terjun Lapopu. Semakin pagi semakin bagus katanya, karena sinar matahari tidak begitu terik menyengat dan spot disana masih sepi. Perjalanan menuju sini ternyata jauh lebih gokil sensasi jalanannya. Jalanannya berbukit naik turun ditambah banyak jurang kiri kanan, namun beruntung pemandangan bukit savana dikiri kanannya sangat cantik mampu mengalihkan kepala saya yang mulai pusing dengan jalanan seperti itu. Sekitar dua jam perjalanan akhirnya kami tiba di air terjun. Kami harus berjalan sekitar satu kilometer dari tempat kami memarkirkan mobil karena aksesnya tak bisa lagi dilalui mobil. Tiba di air terjun, cahaya matahari sedang bagus-bagusnya. Air terjunnya yang mengandung mineral mengeluarkan warna hijau bercahaya. Tak sabar rasanya menceburkan diri di air terjun ini. Secepat kilat saya berganti pakaian dan langsung berenang. Airnya dingin sekali. Saya menjelajahi tiap sudut air terjun ini hingga kesisi ujungnya. Cukup unik karena seperti dipayungi sebuah batu besar ketika kita berada dibawahnya.

Air Terjun Lapopu yang menggoda

Sekitar dua jam kami menghabiskan waktu disini. Berenang, nyebur, lompat, foto-foto semuanya sudah dilakukan. Setelah dirasa puas akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu pantai Tarimbang. Dan inilah perjalanan paling menantang selama di Sumba. Kita mungkin hanya duduk diam selama enam jam di atas jok mobil yang semakin memanas dan kurang nyaman. Namun enam jam perjalanan disini bagi saya tak ubahnya bak sebuah roll film yang memutar berbagai potret kehidupan di Tanah Sumba. Saya yang mengintip dari balik kaca mobil seolah diperotontokan adegan yang banyak menyentuh hati. Di Kota-kota yang kita lewati mungkin potretnya biasa saja, namun sebaliknya, semakin menyentuh pedalaman semakin berbinar mungkin mata kita dibuatnya. Potret seperti Ibu-ibu yang duduk santai didepan teras rumah sambil mengunyah pinang sirih dimulutnya, bapak-bapak dengan karung berisi hasil panen kebunnya dengan motor yang sudah reyot, anak kecil yang berlarian di pinggir jalan sibuk bermain bersama teman-temannya, atau kita juga akan sering melihat rumah-rumah sederhana dengan babi-babi kecil dan kuda kurus yang berkeliaran disekitarnya. Rumah-rumah ini tanpa dialiri listrik, dan aktivitas warga disini pun masih sederhana ala kadarnya, mungkin hanya sekedar untuk menyambung hidup ditambah harus menabung untuk keperluan perayaan adat nantinya saat dibutuhkan sewaktu-waktu.

Selain potret kehidupan tadi, dalam perjalanan menuju Tarimbang kita juga akan disuguhkan lanskap alam yang sangat spektakuler. Mungkin inilah alasan terbesar bagi sebagian pelancong mengunjungi Sumba. Ketika hampir tiba di ujung perjalanan, kita akan menemukan bukit-bukit dengan undakannya yang sangat khas sepanjang mata memandang. Luasnya bukan main, indahnya apalagi. Saya selalu takjub dibuatnya. Bukit-bukit ini akan menguning saat kemarau dan akan menghijau pekat ketika musim hujan. Mana yang lebih bagus? Dua-duanya sama bagusnya bagi saya. Biasanya kita akan diajak berhenti sebentar ketika sudah tiba di Bukit Wailara. Disini kita diizinkan untuk menyesap perlahan keindahan bukit-bukit ini. Berbaring, duduk-duduk santai ataupun berfoto ria adalah aktivitas yang mungkin menjadi agenda wajib ketika tiba disini. Begitupun dengan saya, walaupun didera pusing karena jalanan yang meliuk-liuk naik turun, tapi saya tidak ingin melewatkan pemandangan Wailara yang menggoda.

Wailara dengan undakannya yang menggoda
Wailara dengan undakannya yang menggoda

Tak lama perjalanan kembali berlanjut. Saya memilih untuk menidurkan diri, mengurangi rasa menusuk pusingnya kepala saya. Sejam kemudian mobil kami akhirnya berhenti. Kami dibangunkan oleh Bang Yanto. Pasir putih halus menghampar luas didepan mata. Bukit dikiri kanannya Nampak gagah. Garis pantainya yang melengkung membentuk teluk sore itu sedikit menjauh karena air sedang surut. Dan yang paling sempurna adalah sinar matahari yang terlihat menguning keemasan menembus celah-celah tebing di kanan saya. Lagi-lagi Tarimbang kali ini sedang sepi. Saya dan kawan-kawan segera berhamburan. Menikmati pantai ini hingga matahari undur diri.

IMG_1450
Senja di Tarimbang

Matahari pagi masuk melalui celah-celah kecil bilik yang terbuat dari anyaman bambu tempat saya menginap. Semalam saya dan kawan memilih menginap di sebuah Homestay sederhana yang memiliki beberapa bungalow setengah reyot, harganya cukup mahal di kantong tipis saya. Ini adalah dua dari penginapan yang ada di Tarimbang, atau bisa memilih untuk tidur di rumah penduduk lokal yang berbaik hati mau menampung kalian. Saya segera beranjak ke tengah bagian bungalow ini, membuat segelas teh hangat dan menikmati sarapan pagi yang telah siap. Setelah mengisi perut, saya meluncur menuju Pantai Tarimbang. Saya memang sudah berniat untuk menikmati keindahan Tarimbang saat pagi hari. Dari tempat saya menginap menuju Pantai Tarimbang tak terlalu jauh, sekitar satu kilometer. Saya banyak menemukan babi dan anjing sepanjang jalan, disini mereka bisa hidup bebas tanpa harus dikandangi. Saya sempat terkejut melihat kabut yang muncul dari pantai ini, yang ternyata adalah percikan air laut yang menguap dan diterpa cahaya sinar matahari pagi, pemandangan yang indah untuk memulai hari itu. Sepi sekali pagi itu, tak ada orang lain di pantai itu selain tim saya. Puas menikmati keindahan pantai ini akhirnya saya kembali ke penginapan dan mengepak barang saya untuk melanjutkan perjalanan ke sisi timur Sumba.

Suasana pagi hari di Pantai Tarimbang

Saya excited melanjutkan perjalanan kali ini, pasalnya tempat yang saya tuju adalah salah satu spot wisata di Sumba yang paling terkenal karena pernah dijadikan lokasi pengambilan gambar sebuah film yang cukup menarik ceritanya. Destinasi tersebut adalah Bukit Wairinding. Diawal perjalanan saya memilih untuk tidur saja, karena jalanan sampai menuju jalan poros utama akan sangat berliku, penuh turunan dan tanjakan curam, dan terkadang masih jelek kondisinya.

Saya membuka mata ketika mobil yang saya tumpangi sudah memasuki area bukit-bukit di poros jalan utama. Tak ingin melewatkan pemandangan didepan mata kali ini saya tak ingin melanjutkan tidur nyenyak saya. Teringat perjalanan saya kesini ketika musim kemarau. Keringnya bukit ini bukan main. Saya membayangkan bukit-bukit kering di Arizona pada saat itu. Sangat berbeda dengan pemandangan sekarang yang ada didepan mata. Hijau pekatnya bukan main, rumput sedang tumbuh dengan suburnya. Banyak kuda dan sapi kurus makan dengan rakusnya.

Tiba di Wairinding saya selalu di sambut anak-anak kecil. Mereka menyambut kami dengan senyum mereka yang nampak malu-malu. Saya sering kali dibuat penasaran dengan apa yang ada dikepala mereka ketika menyambut kami, orang-orang yang berlagak seperti turis, yang menghiasi diri dengan kacamata hitam mentereng, tas kecil yang sebenarnya hanya berisi kamera, dan tak jarang melengkapi diri dengan topi lebar untuk menghindari sengatan sinar matahari Sumba yang aduhai. Saya menyapa mereka, membagikan permen yang sudah saya siapkan sebelumnya. Mereka berebutan, senangnya bukan main. Ah Tuhan, terkadang momen ini seperti menyentak hati saya, memarahi naluri diri yang tak gampang mengucap syukur, menyandung kata hati yang terkadang berlagak tinggi. Mereka dengan hidup sederhana ala kadarnya saja bisa berbahagia dan tersenyum tanpa ada cela. Sedangkan saya, dihujani berkah sepanjang tahun berupa rezeki dan nikmat lainnya. Tapi terkadang hampir sepanjang tahun pula diri ini lupa bersyukur, lupa cara bagaimana menikmati berkah dan rezeki itu dengan cara yang paling alami.

Mereka tetap membuntuti saya dan kawan-kawan sampai ke puncak bukit ini. Bukitnya masih tetap sama. Tetap ditemani bekunya angin yang siang itu bertiup cukup kencang, hanya kali ini bukitnya dihujani warna hijau pekat yang memanjakan mata. Saya segera mencari spot cantik untuk dinikmati, begitupun teman saya yang lainnya. Dengan kamera yang menyala, mereka siap mengeluarkan gaya andalan mereka. Beginilah realita jaman sekarang. Sedangkan anak-anak kecil tadi masih dengan malu-malunya melihat tingkah pola kami yang sibuk dengan segala properti dan gaya andalan masing-masing untuk diabadikan di kamera. Wairinding siang itu berubah menjadi riuh ketika anak kecil itu bergabung bersama teman-teman saya lainnya. Mereka mengajak anak kecil itu untuk dijepret dengan kamera. Saya teringat pengalaman pertama kesini, saat tiba di pucuk bukit Wairinding, saya sempat ternganga cukup lama dengan pemandangan didepan mata saat itu. Hamparan bukit-bukit dengan savana coklat luas sekali menghampar didepan mata saya seolah tak ada ujungnya. Dari tempat saya berdiri saya bisa melihat bukit-bukit cantik ini sejauh mata memandang. Tiga ratus enam puluh derajat saya berutar dan terus mendapati pemandangan yang sama. Makin jauh dilihat makin cantik pula savana-savana itu.

Bukit Wailara, salah satu destinasi wisata andalan Sumba
Bukit Wailara, salah satu destinasi wisata andalan Sumba
Anak-anak Sumba, Masa depan nasib Sumba
Anak-anak Sumba

Matahari semakin meninggi membuat kami harus segera melanjutkan perjalanan. Kali ini kami berencana untuk menikmati panorama sunset di Walakiri. Pantai ini terkenal dengan pohon bakaunya yang fotogenic ketika matahari terbenam dan laut sedang surut airnya. Karena terlalu banyak berhenti di berbagai spot cantik sepanjang Wairinding menuju Walakiri, akhirnya kami tiba saat matahari hampir tenggelam. Beruntung sore itu air laut sedang surut. Pohon bakau yang hanya setinggi dada itu terlihat anggun memagari pantai. Matahari yang menguning saat menyentuh cakrawala terlihat menawan. Saya mengucap banyak syukur sore itu. Berdoa dalam hati agar tetap bisa kembali menikmati Sumba sesuka hati

Senja di Walakiri
Senja di Walakiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: