Perjalanan solo menuju Yading Nature Reserve, China

Scroll down to content

Imaji tentang Yading sudah lama rasanya memenuhi kepalaku. Lanskap danau biru tosca dengan gunung bersalju menggoda diri ini untuk segera dikunjungi. Aku memberanikan diri, menempuh perjalanan menuju Yading. Perjalanan menuju Yading ini tidak mudah, panjang, penuh gairah dan banyak cerita yang rasanya akan sangat panjang diceritakan. 7 jam perjalanan dengan bus, menginap dua hari di Kangding, dilanjutkan dengan 9 jam perjalanan dengan bus lagi, ditambah 2 jam dengan mini van, hingga tibalah aku di Yading, desa kecil sebelum melanjutkan perjalananku mengunjungi Yading Nature Reserve, sebuah tempat dengan landskap pegunungan maha indah yang mengisi imajinasiku tentang indahnya sebuah tempat di barat China. Menundanya hampir setahun, akhirnya aku memberanikan diri berangkat seorang diri ke Negeri Tirai Bambu, setelah lelah mengajak orang lain sana sini (dan setelahnya mereka menyesal ketika mendengar cerita dan foto-fotoku 😂)

Setelah mengumpulkan info singkat yang aku dapatkan dari orang Hostel di Chengdu dan informasi yang ku kumpulkan beberapa hari sebelumnya dari temanku @kadekarini tentang perjalanan menuju Yading, akhirnya pagi itu berangkat juga aku ke Kangding setelah beberapa hari leyeh-leyeh di Chengdu, dan melihat Panda dikawasan konservasi Panda terbesar tentunya. Pagi itu, disaat bekunya udara Chengdu (musim dingin dan kabut turun terus-terusan) aku menuju Terminal bus. Dan sebuah kejadian yang teramat tidak ingin ku ingat akhirnya kejadian, seorang kakek mendatangiku ketika aku sedang pipis di urinal toilet, aku merasa risih kemudian segera masuk kedalam kubikal toilet, kaget bukan kepalang, alamaaak bapak tua itu juga masuk kedalam kubikal toiletku dan mendorongku sebelum aku sempat menguncinya. Dengan kerir besar di sebelah tanganku dan tas kecil ditangan lainnya, agak kesulitan bagi ku melawan dorongan beliau, dan secepat kilat aku merasakan telapak tangan penuh cairan berlendir yang cukup bau itu diusapkan kemukaku. Mual rasanya mencium bau itu, dan aku langsung berontak, segera aku berlari menuju wastafel membersihkan entah cairan lendir apa itu, dengan sabun tangan yang ada diwastafel saya bersihkan berkali-kali. Panik, geram dan takut rasanya memuncak perasaan saya waktu itu. I GOT SEXUAL HARRASEMENT HERE! Aku melihat bapak itu tersenyum licik dan bejat melihat aku semakin panik. Aku tidak berniat melawan, lemas rasanya seluruh kakiku, aku segera berlari kedalam bus, kebetulan waktu itu jadwal bus berangkat. Ku tenggelamkan diriku di bangku depan bis itu

Didalam bus aku mengingat kejadian tadi, lemas, geram semuanya jadi satu. Acak rasanya bayangan kejadian td berkelebat diotak ku. Kutelpon temanku di Indonesia, menceritakan pengalaman yang paling ku benci seumur hidupku. Setelah mereda kegeraman dan kekesalanku, akhirnya aku tertidur, satu jam, dua jam, aku terbangun, bus masih melewati jalanan penuh kabut, aku tertidur lagi. Dua jam kemudian terbangun, view didepan mata sangat indah. Barisan pegunungan yang menjulang tinggi, dengan nuansa gersang, berpadu apik dengan sungai lebar dan perumahan penduduk yang kulihat di sepanjang jalan. Ketinggian daerah itu sudah berada diatas 3500 meter ternyata, awan hitam yang selalu menggelayuti langit Chengdu kini berganti dengan langit biru yang cerah. Tandanya bis ini sudah membawaku jauh dari Chengdu.

Tiga jam kemudian, bis yang ku tumpangi tiba di Kangding, kota pemberhentian pertamaku sebelum ke Yading. Aku berencana menghabiskan waktu dua malam di kota kecil ini. Segera kucari taksi menuju hostel yang sudah kupesan sebelumnya (berbekal info dari @kadekarini). Hostelnya berada di dekat pusat kota, sangat nyaman dan harganya cukup terjangkau. Karena hotel ini dimiliki oleh orang Amerika, jadi lebih tourist-friendly. Akupun menemukan dua orang turis yang menginap di hostel itu. Selebihnya kosong. View dari luar jendela dormku sangat cantik malam itu. Cukup membuatku melupakan kejadian malang pagi tadi yang menimpaku.

Keesokan harinya tak banyak yang kulakukan di Kangding. Mengunjungi sebuah Monastery cantik yang kebetulan tak begitu jauh dari tempatku menginap. Berbekal peta sederhana yang kuambil dari hostel, aku mengikuti arah menuju Monastery, pemandangan sepanjang jalan sangatlah cantik. Gunung-gunung yang hanya kulihat kerlip lampunya semalam, kini berubah diselimuti es dipuncak-puncaknya. Sebuah pemandangan yang sangat mahal bagiku sendiri, mengingatkanku pada Pokhara di Nepal sana. Cukup lama aku mengambil foto sepanjang jalan ini. Suasana sangat sepi jadi aku bisa leluasa berfoto seorang diri dengan bantuan tripod (andalan ketika solo trip begini). Aku sempat berhenti sebentar disalah satu taman kecil, ada beberapa pengunjung lainnya yang menikmati suasana taman sederhana pagi itu. Duduk sebentar, menikmati cemilan dan playlist favoritku.m, menenggelamkan diri menikmati Kangding pagi itu.

Tiba di Monastery aku disambut beberapa biksu dan masyarakat lokal setempat yang sedang beribadah. Sayangnya keterbatasan bahasa diantara kami membuat aku tak begitu banyak mengerti apa yang sedang mereka lakukan, ingin bertanya tapi biasanya berakhir dengan gelak tawa karena kami sama sama tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Aku memperhatikan dengan seksama, mereka mengelilingi bangunan semacam stupa, sambil komat kamit memanjatkan doa-doa pujian kepada yang Esa. Aku melanjutkan perjalanan kedalam, begitu banyak anak tangga yang harus dilewati untuk memasuk monastery itu. Tiba didalam, suasana sangat sunyi. Senyapnya membuat perasaanku damai waktu itu. Hanya segelintir biksu berkeliaran, ada yang sedang beribadah, dan beberapa lainnya sedang tenggelam menyibukkan diri membersihkan kawasan Monastery yang cukup luas itu. Aku terduduk, menikmati suasana. Senyap dan tenang sekali rasanya, kemudian ku keluarkan kamera dan mengabadikan momen yang jarang kutemui itu. Aku teringat, masa SD sampai SMP aku sangat takut dengan kawasan pecinan; huruf kanji, hiruk pikuk kawasan pertokoan, warung makanan, hingga aroma gaharu yang dibakar membuatku takut dengan suasana pecinan. Cukup aneh rasanya, aku bingung apa yang membuatku takut dengan kawasan pecinan, mungkin karena sering diputarnya film-film horror vampir dari negeri China pada hari sabtu di TV Nasional yang membuatku takut dengan hal-hal berbau pecinan. Padahal didaerah kampung halamanku (Pulau Bangka) sangat banyak kawasan pecinan yang dapat kita temui. Ketika SMA lah ketakutan itu mulai memudar. Dan saat ini, ketakutan itu sudah hilang sepenuhnya, bahkan aku berada di Negeri Chinanya langsung

Puas menikmati Monastery, aku melanjutkan jalan-jalan mengelilingi Kangding. Aku menuju Terminal tempat loket penjualan tiket bis besok (sangat penting membeli tiket bis satu hari sebelumnya, apalagi ketika musim turis). Setelah itu aku mengelilingi kota yang beneran kecil ini luasnya. Aku mengunjungi coffeeshop (yang paling terkenal dikawasan turis, berdasarkan informasi yang kudapatkan dari peta). Rasa kopi dan pasta yang ku pesan, amat dan teramat sangat tidaklah enak. Hambar 😂 beruntung aku mengambil tempat disebelah jendela yang langsung menghadap keluar. Viewnya cukup cantik dengan taman kota didepannya, aku bisa melihat orang berbagai macam rupa sedang menikmati waktu senggang menuju senja. Sebelum gelap, sebelum udara semakin membeku, aku segera kembali ke hostel, beristirahat mempersiapkan perjalanan menuju Yading yang cukup panjang esok harinya.

Cukup mudah nampaknya perjalanan menuju Kangding ini hingga part tentang Yading yang membuatku hampir setengah menyerah. Subuh hari, udara mungkin dibawah titik beku. Kerir dipunggung dan jaket berlapis makin kupererat, aku melangkah keluar jalan utama, mencari taksi untuk menuju terminal pagi itu. Cukup lama aku menunggu. Tiba diterminal segera ku cari bis menuju Yading. Masih setengah mengantuk aku langsung tertidur lagi ketika duduk didalam bangku bus. Terbangun beberapa jam setelahnya, pemandangan diluar jendela sungguh cantik, bahkan teramat cantik bagiku, Gunung-gunung es, hutan pinus yang tak begitu lebat, dan jurang-jurang menganga menghiasi pemandangan jalanan pagi itu. Udara diluar masih dibawah titik beku nampaknya, dingin angin yang masuk malu-malu dari celah dinding bis membuat suhu didalam bis semakin membeku. Jaket kurapatkan, Sayangnya headset ku rusak, aku tak bisa menikmati pemandangan semahal itu dengan alunan playlist favoritku. Beberapa kali kami berhenti, beberapa kali pula aku urung buang air kecil setelah mendapati ‘kondisi toilet angker’ seperti yang ku dengar sebelumnya tentang bagaimana kebersihan dan kenyaman toilet di negeri ini. Bahkan toilet yang ku temui sepanjang jalan ini sungguh ‘angker’, memasukinya saja sudal membuat perut mual ingin muntah, sungguh salut dengan yang kuat berlama-lama membuang hajatnya didalam kubikal itu.

10 jam perjalanan, pemandangan berganti-ganti untuk dinikmati, ini salah satu pemandangan road trip terindah yang ku temui. Barisan gunung-gunung di Pegunungan ini teramat sayang jika hanya dilewatkan dengan tidur-tiduran saja. Berkali-kali aku mengecek google maps untuk menuntaskan penasaran kapan tiba di Daocheng, desa tempat transit berganti bis sebelum melanjutkan perjalanan ke Yading. Tentunya dengan bantuan VPN apps yang sudah ku download sebelumnya, di China banyak apps yang tidak bisa kita gunakan, dikarenakan kebijakan great firewall, kebijakan yang membatasi

Semakin dekat dengan Daocheng, semakin unik pula peradaban yang ku temui. Gunung-gunung es tadi berganti dengan perkampungan kecil dengan rumah-rumah yang seragam dan sangat unik bentuknya. Berdinding bata berwarna hitam, dinding temboknya telanjang tanpa ditutupi dengan semen seperti kebanyakan bangunan pada umumnya. Atapnya pun hanya berupa lantai, bukan kerucut. Dan rumah rumah disini bentuk dan warnanya hampir seragam, bahkan hotel pun bentuknya seragam (kebayang gak sulitnya nyari hotel dengan papan tulisan nama yang hanya ditulis dengan huruf kanji), karena bentuknya hampir sama semuanya

Tiba di Daocheng, aku langsung ditarik oleh beberapa orang. Sapaan mereka cukup ramah, cuma aku harus tetap waspada. Aku ditawarkan menaiki mini van untuk ke Yading, biayanya cukup murah, langsung ku iyakan setelah berkali ku tegaskan apakah mobil ini akan membawaku ke Yading? Setelah menunggu beberapa penumpang lagi, setengah jam kemudian mini van itu melaju menuju Yading. Lagi lagi pemandangan cantik disini membuat aku semakin terpukau. Indah bukan main

Dua jam kami membelah gunung-gunung berbalut es sepanjang jalan yang cukup berliku itu. Tibalah disebuah desa kecil, lagi-lagi dengan bentuk rumah dan bangunan yang seragam, hingga aku diturunkan paling terakhir. Si driver mengatakan ini adalah Yading, sambil menunjukkan bangunan besar (dengan tulisan kanji tentunya). Dan baru ku ketahui beberapa jam setelahnya kalau tempat itu adalah Yading tourist center, dimana kita bisa bertanya (tapi mereka nggak ngerti inggris sama sekali) tentang Yading Nature Reserve, disini juga kita bisa membeli pass untuk memasuki kawasan Yading Nature Reserve. Ada beberapa pilihan. Two day pass adalah yang paling umum dibeli, kita bisa mengeksplorasi kawasan ini dua hari berturut-turut, sayangnya kemarin kondisi fisikku kurang begitu fit untuk berlama-lama menikmati kawasan ini, jadi ku pilih mengeksplorasi Yading Nature Reserve keesokan harinya

Check in hotel, kebetulan aku menginap bersama seorang pria Perancis yang ku temui di bis dari Kangding kemarin. Hanya dialah satu-satunya orang yg bisa kuajak ngobrol. Kamar disini cukup murah untuk fasilitas yang menurutku lumayan untuk ukuran desa sekecil ini, tapi demi menghemat budget, kami tetap memilih untuk menginap bersama sharing room. Malam itu aku istirahat total, cukup lelah perjalanan hari itu. Udara diluar pun sedang tidak ramah, hampir menyentuh -6 derajat celcius. Kami banyak bercerita tentang perjalanan singkat kami di China ini, kebanyakan dia yg mendominasi pembicaraan dengan ceritanya mengelilingi Asia (dan terakhir ku cek facebooknya ternyata dia bertualang hingga New Zealand)

Keesokan harinya kami berpisah, aku langsung menuju Yading Nature Reserve, sedangkan dia berpindah desa, ingin menginap semalam lagi katanya. Cukup sulit menemukan shelter bus menuju Yading Nature Reserve, karena sangat jarang sekali ada petunjuk dalam bahasa inggris, dan petugasnya pun tak begitu mengerti. Akhirnya setelah menemukan shelter (yang mana harus naik tangga berkali-kali dari ujung ke ujung) aku segera menaiki bus yang sudah siap membawa kami ke tujuan. Busnya sangat modern dan bersih. Sangat nyaman bagi turis yang ingin menikmati kawasan ini. Hari itu, hanya aku sendiri warga asing yang memasuki bus itu, cukup canggung rasanya. 30 menit berlalu, jalanan sangat terjal dengan belokan yang sangat menukik, khas jalur pegunungan di China. Bus hanya mampu berjalan pelan, karena sangat berbahaya dengan jurang dikiri-kanan jalan yang entah berapa ratus meter dalamnya, yang mungkin bila ada kendaraan yang terjatuh, dipastikan tak satupun penumpangnya yang selamat. AMIT-AMIT YA ALLAH!

Kami tiba di pemberhentian pertama, hanya 10 menit untuk menikmati pemandangan desa dibawahnya, saya lupa namanya, yang pastinya sangat cantik desa yang masih tradisional ini, bersanding gagah dengan gunung es yang mengelilinginya. Foto-foto sebentar kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi. 15 menit kemudian tiba lah kami di shelter terakhir sebelum melanjutkan perjalanan ke Yading Nature Reserve. Disini aku kembali kebingungan kearah mana tujuanku, bertanya sana sini, sambil menunjukkan peta yang ku bawa yang semuanya bertuliskan aksara kanji. Akhirnya ku ikuti kemana para turis lainnya berjalan. Dan ternyata benar, arah ini menuju Milk Lake, tujuan utamaku hari itu, destinasi impianku dari dulu.

Tiada momen tanpa kebingungan nampaknya selama aku traveling di China kali ini. Selalu ada cerita kebingungan yang berlanjut dengan kebingungan lainnya. Kali ini dibuat bingung letak shelter bus kecil yang akan membawaku ke titik terakhir sebelum trekking ke Milk Lake. Jadi dengan bus kecil ini kita akan menghemat perjalanan menaiki bukit-bukit ini sepanjang 5KM, biasanya ada yang memulai trekking dari sini, tapi karena hari itu sudah terlalu siang, aku memutuskan menaiki bus kecil itu saja agar menghemat 2 jam perjalanan. Harga tiketnya seingatku adalah 180ribu rupiah untuk perjalanan pulang pergi. Dan kita bebas berhenti ditiap posnya, yang biasanya berjarak setengah kilometer antara tiap pos itu, biasanya digunakan untuk menikmati pemandangan yang masya Allah cantiknya.

Tiba di shelter terakhir, aku segera mencari jalur untuk trekking ke Milk Lake. Banyak turis yang hanya berhenti sampai disini, mungkin karena memang jalur menuju Milk Lake cukup berat. Dan pemandangan di area ini sudah sangat indah. Untuk menuju Milk Lake kita harus menempuh jalur trekking sepanjang 5KM, dengan 2KM jalur mendatar, dan 3 KM jalur trekking menanjak. Ketinggian di titik awal pendakian adalah 4200Mdpl, sudah cukup membuat kepalaku saat itu pusing, karena belum sempat aklimatisasi penyesuaian ketinggian, dan harus menanjak hingga ketinggian 4600Mdpl dimana Milk Lake berada dan menjadikan tempat ini masuk ke dalam 10 jajaran danau tertinggi di dunia.

1 jam pertama pendakian aku sangat menikmatinya, pemandangan disekeliling sangat membius mata. Gunung berselimut es, hutan pinus yang mulai kecoklatan, dan danau-danau kecil yang cantik menjadi pemandangan penambah semangat trekking siang itu. 1 jam berikutnya, dimana jalur sudah cukup menanjak, pendakian berubah menjadi neraka buatku, kepalaku pusing bukan kepalang, setiap kakiku melangkah, setiap kali itu juga kepalaku pusing tak karuan bak ditusuk jarum satu persatu. Bayangkan, aku harus banyak beristirahat ditengah perjalanan kali itu agar meredakan sakit kepalaku saat itu. Aku tak tahu penyebabnya apa, aku menduga karena perbedaan ketinggian yang cukup ekstrim. Perjalanan menjadi sangat lambat, sempat frustasi ditengah perjalanan dan hampir memutuskan untuk berhenti tidak melanjutkan perjalanan. Akhirnya aku memilih beristirahat cukup lama, hingga sakit dikepalaku benar-benar reda. Ditambah hidungku saat itu mimisan cukup hebat mungkin karena teriknya matahari diatas kepala, dan aku lupa membawa topi yang biasanya jadi senjataku jika sedang trekking ditengah cuaca panas, kalau tidak ingin berujung mimisan seperti ini.

Dititik itu, aku kembali berpikir, merenungi perjalananku seorang diri ini ke negeri China. Ke ujung Yading, tempat yang sudah ku impikan dari tahun lalu, tujuannya apa? Dan aku teringat kembali perjalanan-perjalanan berat yang sudah kulalui sebelumnya, yang selalu memberikan ku banyak sekali pelajaran; seberat apapun perjalanan, pasti akan berakhir juga, dan esok hari kita akan mengingatnya sebagai salah satu perjalanan terbaik yang pernah kita jalani. Begitupun perjalanan ke Yading kali ini. Berat sekali bagiku seorang diri, mengeskplorasi negeri tirai bambu, merasakan keterasingan di negeri ini, dimana hampir sangat jarang ku temui orang-orang berbahasa inggris. Setelah dirasa sakit kepalaku mereda, aku melanjutkan lagi perjalananku. Menguatkan tekad, mengayunkan langkah demi langkah yang terasa semakin berat. Hingga akhirnya aku melihat danau berwarna hijau toska itu dari kejauhan. Dan jalanan pun menjadi ramah, karena tidak ada lagi tanjakan panjang nan terjal yang harus kulalui. 30 menit berjalan, akhirnya tiba juga di Milk Lake. Mungkin inilah salah satu trekking terberat dari perjalananku selama ini. Semua rasa campur aduk saat itu. Selalu ada rasa bahagia yang nggak akan bisa dijabarkan ketika meraih sesuatu yang sudah kita impikan dari dulu, salah satunya adalah Milk Lake di Yading ini, imajinya selalu memenuhi kepala ini setahun terakhir, mencari cara agar bisa menuju tempat impianku ini. Dan akhirnya, sore itu, aku berhasil. Sedikit banyak usaha yang harus lalui untuk menempuh perjalanan ini. Yading ini berbeda dengan destinasi lainnya yang sudah kulalui, di Yading ini banyak perasaan asing menghantui selama diperjalanan. Asing yang benar-benar asing menurutku. Namun sore itu, disaat bucketlistku sudah terwujud, saat itu pula aku sudah membuktikan kepadaku sendiri, tekat kuat dan bulat nggak akan pernah bisa dikalahkan dengan apapun, dan akhirnya bisa mewujudkan salah satu mimpi yang awalnya terasa sulit bagiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: