Pesona Pulau Komodo, Rumah Sang Naga Terakhir

Flores. Siapa yang tidak ingin mengunjungi pulau cantik ini. Pulau dengan kepingan-kepingan spot cantik yang beragam tersebar dari barat hingga timur. Mulai dari gugusan kepulauan komodo dengan keindahan pulau dan kekayaan biota lautnya, danau kelimutu dengan pesona magisnya dan yang paling tak boleh anda lewatkan adalah Desa Wae Rebo yang menawarkan sensasi pengalaman menginap di rumah kerucut mbaru nirang dan hidup dengan orang-orang suku asli sana. Keanggunan panorama alam Flores sudah tersohor hingga ke mancanegara. Jangan heran jika berlibur disini anda akan menemukan lebih banyak turis asing daripada turis domestik. Backpackeran atau luxury adalah dua pilihan cara yang dapat anda lakukan untuk menjelajahi spot-spot menarik disini. Kali ini tujuan saya adalah kepulauan Komodo. Terletak diluar pulau utama, gugusan pulau cantik yang sungguh memanjakan mata ini rasanya membuat siapa aja enggan meninggalkan pantai cantiknya yang tersebar di pulau-pulau vulkanis kepulauan ini.

Labuan bajo menjadi daerah yang harus dikunjungi jika ingin ke pulau Komodo. Umumnya segala akses menuju pulau komodo berasal dari sini, meskipun ada juga agen tour yang menyediakan paket menuju pulau Komodo yang berangkat dari pulau Lombok. Di kota kecil ini anda bisa memilih paketan tour yang beragam yang telah disediakan oleh agen tour travel. Bagi yang ingin menekan budget dari tingginya harga yang ditawarkan agen tour travel, anda bisa mencari sendiri kapal warga sekitar yang berlabuh didekat pelabuhan kecil Labuan Bajo. Kapal-kapal kecil ini menawarkan harga yang jauh lebih murah dari pada yang ditawarkan agen tour travel.

2015/02/img_5217.jpg

2015/02/img_6237.jpg
Taman Nasional Kepulauan komodo sendiri menjadi salah satu nominasi dari tujuh keajaiban dunia yang baru. Sisihkan waktu lebih jika ingin mengeksplor seluruh spot cantik di kepulauan ini. Yang tak boleh anda lewatkan adalah snorkeling di kanawa island, free diving di manta point, menjelajahi padar island dengan bukit-bukitnya yang maha eksotis, menyaksikan sunset dan sunrise di Gili Laba, dan pastinya tracking di pulau Komodo atau Rinca untuk melihat sang naga terakhir ini, Komodo. Waktu yang paling pas mengunjungi pulau ini adalah bulan Mei hingga awal September, dimana angin dan ombaknya cukup bersahabat.

Setelah 26 jam harus berkutat di kapal dan bus, akhirnya lambung kapal yang kami tumpangi merapat perlahan ke pelabuhan Labuan Bajo. Perjalanan dari Lombok menuju kota ini mengharuskan kami berganti bis 3 kali dan 2 kali naik kapal ferry. Lelah sisa pendakian Semeru dan Rinjani kemarin masih melekat sempurna di otot-otot tubuh yang masih kaku ini. Ini pengalaman pertama semua bagi kami menginjakan kaki di pulau Flores. Pak Marzuki sudah menunggu kedatangan kami. Beliau adalah pemilik kapal sewaan yang sudah saya booking berminggu-minggu yang lalu.

Setelah bertemu beliau dan membayar uang muka, kami berpisah dengan beliau. Tujuan pertama kami adalah mencari penginapan. Banyak penginapan dengan harga variatif berjejer di Labuan Bajo. Kami memilih yang harganya cukup terjangkau. Malamnya kami menyempatkan diri berkeliling disekitaran penginapan. Kami memilih cafe yang bertebaran disini. Harganya cukup bersahabat hampir sama dengan cafe di Kota Bandung. Puas bercengkerama akhirnya kami memutuskan pulang ke penginapan untuk beristirahat.

Keesokan paginya kami terjaga dari tidur setengah nikmat karena harus berdesakkan di dua kasur besar yang menampung kami berenam. Pagi sekali kami sudah bersiap-siap menuju dermaga tempat janjian dengan Pak Marzuki kemarin. Sunblock menjadi senjata utama yang tak boleh dilupakan. Barang tetek bengek yang dirasa tidak diperlukan kami tinggalkan di penginapan. Deru mesin kapal dengan kepulan asap hitam pekat menandai awalnya perjalanan dua hari satu malam ini. Birunya langit siang itu bersanding mesra dengan birunya laut. Semangat pagi yang membuncah ini akan membawa kami kedalam liburan yang sangat menyenangkan.

2015/02/img_5226.jpg

2015/02/img_52201.jpg

2015/02/img_5221.jpg
Tujuan pertama adalah Kanawa Island. Pulau cantik dengan dermaga fotogeniknya yang sudah terkenal ke mancanegara sebagai pulau kecil dengan resort yang cantik didalamnya. Kami tidak merapatkan kapal ke dermaganya. Cukup menyaksikan keindahannya dengan snorkeling di pinggir dermaga saja. Spot snorkeling disini sangat menarik dan lumayan beragam. Ikan berwarna-warni dan terumbu karang beragam rupa menyemarakkan pesona bawah lautnya. Jika anda sedikit cukup berani anda bisa mencoba free dive ke arah cekungan pantai yang agak dalam di pinggir pulau ini. Sangat disayangkan kami tidak membawa peralatan kamera underwater saat itu.

Puas menikmati spot ini tujuan selanjutnya adalah manta point. Kami berharap bisa menyaksikan pari manta berukuran raksasa berenang disini. Namun siang itu gagal. Akhirnya kami melanjutkan tujuan dengan berkeliling disekitaran pulau ini. Hampir dua jam kami berlayar, akhirnya kapal merapat ke Gili Laba. Sebelum menceburkan diri ke tengah laut lagi, kami menyempatkan diri makan siang. Makanan yang disajikan sangat nikmat rasanya. Hasil tangkapan laut berupa ikan dan cumi segar hasil tangkapan anak buah pak Marzuki langsung diolah saat itu juga menjadi pengisi perut lapar siang itu. Pengalaman makan siang kali itu sungguh tak terlupakan. Diatas kapal, ditengah kepungan bukit-bukit cantik Gili Laba dan pemandangan hamparan birunya laut menjadi momen makan siang paling menarik selama hidup saya.

2015/02/img_5223.jpg

2015/02/img_5227.jpg

2015/02/img_5224.jpg
Puas mengisi perut, pak Marzuki dan anak buahnya menyandarkan kapalnya kepinggir pantai. Jangkar sudah terpasang, tangga disiapkan, kami berenam bergegas turun ke pinggir pantai. Kami berenang sebentar disini. Kemudian selanjutnya berganti pakaian kering untuk menunggu momen sunset dari atas puncak bukit yang ada di Gili Laba. Trekking disini tak membutuhkan waktu yang lama. Jalan yang kami lalui cukup curam, rumput setinggi paha hampir menutupi seluruh jalan setapak yang sebelumnya sudah ada. Kurang dari setengah jam kami tiba dipuncak bukit. Kami segera mencari spot menarik untuk menyaksikan momen matahari terbenam. Dari sini pemandangan sangat epic. Perlahan demi perlahan saya merasakan takjub dengan pesona pulau ini. Lautan biru yang luas dengan gradasi warna mulai dari biru bening hingga biru pekat terhampar luas. Pulau-pulau kecil disekitar pun tak kalah anggunnya. Tak lama setelah itu langit mulai memerah. Guratan garis jingga diufuk barat semakin tampak tegas. Matahari mulai bersembunyi dibalik bukit, kembali ke peraduannya. Ketika hari mulai gelap kami segera turun. Karena lupa membawa senter dan baterai HP benar-benar kosong saat itu kami hanya mengandalkan terangnya bulan purnama sebagai penunjuk jalan kebawah. Dua teman wanita saya yang berjalan duluan ternyata nyasar. Akhirnya kami menunggu mereka. Perjalanan turun yang harusnya hanya sebentar jadi sedikit lebih lama karena harus menunggu mereka.

Tiba di kapal kami segera membilas diri, mandi singkat dengan air tawar ala kadarnya. Puas mandi dan berganti pakaian bersih kami berkumpul di depan ruang nahkoda. Pak Marzuki mulai membuka obrolan. Beragam cerita pengalaman hidupnya dibagikan kepada kami. Aksen logat bugisnya cukup kental. Garis-garis wajah di pria berumur 60 tahunan ini menggambarkan betapa kerasnya pengalaman hidup yang telah dijalaninya. Mulai dari ketika masih menjadi anak buah kapal, pernah terapung-apung berminggu-minggu dilaut karena kehilangan arah, menjelajahi hampir semua lautan di nusantara dan akhirnya mencapai kesuksesannya sekarang yang sudah memiliki banyak kapal motor dan mampu menyekolahkan anaknya hingga menjadi seorang doktor. Namun hingga sekarang hidupnya masih sederhana. Cita-cita menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya sudah terwujud, hanya impian naik haji saja yang belum tercapai, namun beliau mengatakan tahun ini akan segera menunaikan ibadah haji setelah menunggu antrian bertahun-tahun.

Belaian mesra angin malam itu membuat kantuk menyerang mata perlahan. Cerita malam itu ditutup dengan nasihat dan petuah yang beliau berikan kepada kami. Kami segera mencari tempat tidur yang nyaman. Tiga orang teman saya memilih untuk tidur didalam kamar dengan kasur bertingkat didalamnya. Saya dan dua teman lainnya memilih untuk tidur di depan ruang nahkoda berbalut sleeping bag. Masih ingin merasakan belaian angin laut dan jernihnya langit Flores yang bertaburan bintang malam itu.

Pagi sekali, sebelum matahari muncul dibalik bukit-bukit itu, saya dan dua orang rekan saya terbangun. Saya memang berniat menyaksikan panorama matahari terbit dari dalam kapal ini. Rekan saya mengajak untuk mendaki bukit di Gili Laba, namun saya menolak. Lelah luar biasa sisa pendakian pun belum hilang rasanya. Saya merasa puas menyaksikan pemandangan sunrise dari sini saja. Tak lama kopi panas dan pancake hangat tersedia dimeja makan. Ini breakfast moment paling epic! Cahaya keemasan yang muncul dari balik bukit-bukit diujung sana mulai menyemarakkan pagi itu. Bersama dengan kepulan asap kopi panas kami menikmati moment itu. Menyeruput kopi yang mulai dingin perlahan-lahan sambil menghirup angin laut beraroma garam yang bebas dari polusi.

2015/02/img_5225.jpg

2015/02/img_5231.jpg

2015/02/img_5230.jpg
Setengah jam kemudian kapal kami mulai menjauh dari bibir pantai. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pink Beach di Pulau Merah. Air laut disini sangat jernih. Saya segera turun berenang tanpa pelampung. Airnya cukup dalam. Disini spot snorkeling tak kalah menariknya dari Kanawa Island dan hewan lautnya juga beragam. Snorkeling saja sudah sangat puas rasanya. Apalagi kalau diving. Sayangnya kantong mahasiswa pas-pasan seperti saya tidak mengizinkan saya untuk diving. Puas berenang disini kami menyempatkan diri berkeliling sebentar di Pulau Merah ini. Kami menyusuri jalan hingga menuju atas bukit. Pemandangan dari sini cukup menarik. Sayangnya kami harus segera kembali ke kapal karena harus segera ke pulau Rinca siang itu juga.

2015/02/img_5219.jpg

2015/02/img_5229.jpg
Setibanya dipulau Rinca, dengan diantarkan anak buah Pak Marzuki, kami berenam berangkat menuju kantor Balai Taman Nasional Pulau Komodo yang berada di Pulau ini. Rasa takut dan deg-degan seketika mulai menyerang. Kabarnya Komodo tersebar secara merata di berbagai sudut pulau ini. Ada yang bersembunyi dibalik pohon, bibir gua, batu dan terang-terangan berjemur dibawah sinar matahari.

Setelah membayar tiket masuk, kami berenam dan seorang guide segera menyusuri trek untuk melihat sang naga terakhir ini. Kami memilih track jarak pendek karena keterbatasan waktu dan cuaca yang sangat terik siang itu. Cukup beruntung kami hari itu dapat melihat kerumunan komodo berukuran cukup besar yang sedang berdiam diri dibawah rumah panggung. Dua orang wanita teman saya berkali-kali berteriak ketakutan ketika melihat pergerakan komodo yang mencurigakan. Lidahnya yang selalu menjulur keluar kedalam membuat saya sendiri bergidik ngiri. Membayangkan gigi tajamnya yang dipenuhi bakteri itu merobek daging ini dan beberapa waktu kemudian bakteri tersebut mengkontaminasi syaraf-syaraf saya. Karena ketakutan, saya dan rekan-rekan saya lainnya segera melanjutkan perjalanan ke sarang tempat komodo betina bertelur. Puas melihat sarangnya yang jauh lebih menyeramkan itu kami melanjutkan perjalanan singkat ini ke sebuah bukit yang cukup tinggi. Pemandangan dari sini cukup cantik. Karena cantik itu ranger setempat menamainya bukit Nikita Willy.

2015/02/img_5222.jpg

2015/02/img_5218.jpg

2015/02/img_5228.jpg
Puas mendengarkan cerita yang cukup panjang mengenai pulau ini dan asal usul komodo dari mulut si ranger, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke balai kantor. Dibalai-balai yang teduh itu kami masih ditemani si ranger yang masih dengan semangat menggebu-gebu menjawab pertanyaan rekan-rekan saya lainnya yang masih penasaran. Tak lama kemudian kami berpamitan dan kembali ke dermaga. Perjalanan pulang kali ini menandai berakhirnya kisah liburang singkat di Gugusan kepulauan yang maha cantik ini. Pengalaman dari cerita yang saya dapatkan dari pak Marzuki sang pemilik dan nahkoda kapal yang kami sewa kemarin selalu membekas diingatan saya. Masih teringat kebaikan dan keramahan beliau. Bahkan ketika saya di Bali beliau masih sempat menelepon saya hanya untuk mengucapkan selamat idul adha dan kabar rekan-rekan saya lainnya. Semoga suatu hari bisa kembali lagi ke Flores. Menjelajahi kepingan lain pesona alamnya agar dapat secara utuh merasakan keindahan alam di pulau ini mulai dari sisi barat sampai ke timur, mulai dari sarat sampai ke laut.

2015/02/img_6225.jpg

2015/02/img_6223.jpg

Berikut sedikit tips dan trik jika inin mengunjungi pulau komodo:

•Jika anda menggunakan jalur darat atau ngeteng dari pulau Jawa. Anda bisa menuju Lombok terlebih dahulu. Dari terminal Mandalika Lombok ke Labuan Bajo harga tiket terusan bis dan kapalnya seharga 275ribu (harga Sept. 2014) dengan bonus makan sekali. Untuk biaya Jawa menuju Lombok anda hitung sendiri. Namun jika anda ingin menggunakan penerbangan. Sudah sangat banyak penerbangan yang menyediakan rute menuju Labuan Bajo.

•Di Labuan Bajo anda dapat mencari penginapan murah: hotel mutiara, pelangi, dan hostel-hostel ala backpacker. Rata-rata tarif menginap paling murah 40ribu per orang.

•Makanan yang tersedia di Flores cukup mahal untuk ukuran Backpacker jika dibandingkan dengan pulau Jawa dan Bali. Rekomendasi makanan yang sedikit murah adalah Rumah Makan Padang di depan Pintu jalan Pelabuhan. Lupa namanya apa.

•Jika anda membawa rombongan lebih dari empat orang, disarankan segera mencari kapal sewaan secara langsung. Banyak nomor HP pemilik kapal tersebar di internet. Salah satu yang termurah dan sangat ramah adalah pak Marzuki: +6285239914254. Harga kapal berkisar antara 4-10 juta. Namun jika rombongan anda kurang dari empat disarankan bergabung dengan rombongan lain saja. Carilah kapal yang sudah menyediakan alat snorkeling lengkap, kamar tidur yang layak, dan fasilitas lainnya yang anda perlukan. Tapi jika anda memiliki budget lebih, tidak ada salahnya mencoba agen tour travel yang cukup mahal.

•Waktu terbaik adalah ketika bulan Mei-September. Dimana angin tidak terlalu kencang dan ombak tidak terlalu besar

•Selain menjelajahi Pulau Komodo, tak ada salahnya amda mencicipi spot-spot menarik yang ada di Labuan Bajo. Pantainya cukup cantik. Budayakan gemar bertanya kepada warga setempat. Selain mendapat kenalan baru pasti anda akan mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai daerah itu sendiri langsung dari orang asli sana

Menyambangi kemegahan Gunung Merbabu

Mendaki bukan hanya perkara perjalanan alam, jauh lebih dalam, mendaki adalah perjalanan spiritual, perjalanan yang menyatukan jiwa-jiwa manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Jika kita ingin sedikit lebih bijak, kepingan pengalaman-pengalaman tak terduga mungkin akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup kita. Mendaki gunung sudah seperti sekolah bagi saya. Ilmu yang Gunung berikan terlalu banyak. Hingga kemudian satu persatu saya aplikasikan kedalam kehidupan saya sendiri

2015/02/img_5220.jpg
Kantuk masih merajai mata ini. Pagi itu alarm saling sahut-menyahut bebarengan. Kami bertiga belas yang kurang tidur beranjak perlahan dari kasur kecil kosan yang dengan nakal menggoda untuk tetap tidur saja. Dengan malas saya mulai bangun. Satu persatu ikut bangun. Menyiapkan kerir yang sudah penuh dengan peralatan mendaki yang sudah dipacking tadi malam. Jam masih menunjukan pukul setengah empat pagi, tapi kami harus segera beranjak ke stasiun Kiara Condong mengejar kereta Kahuripan pagi itu ke Yogyakarta.

Ada yang bertanya mengapa saya cinta dengan aktivitas naik gunung? Jawabannya sederhana, jika ada hal di dunia ini yang menakjubkan selain cinta, mungkin bagi saya adalah naik gunung. Saya bersama para sahabat sependakian menjelajahi urat-urat perbukitan, menyusuri lika-liku gelap dan rapatnya hutan, setapak demi setapak menapaki tebing curam, hingga berpelukan erat bersama mereka ketika menggapai puncak. Banyak kenangan berkesan di tiap pendakian yang saya lakukan salah satunya disini. Mendaki gunung juga merupakan salah satu cara bagi saya untuk mencintai Tanah Air ini, dengan keindahan alam yang ditawarkan tiap gunung yang saya daki, saya bersyukur dapat tinggal di negeri dengan keindahan alam yang maha eksotis ini.

Delapan jam lebih perjalanan di kereta menuju Yogya menjadi perjalanan yang mengasyikan. Canda tawa, petikan gitar, nyanyian sumbang, dan gurauan canda menghiasi gerbong yang cukup panas siang itu. Setibanya di Yogyakarta agenda pertama kami mengisi perut. Pilihan jatuh ke warung makan kecil dengan makanan khas Yogyakarta depan stasiun Lempuyangan. Puas mengisi perut kami menyegerakan diri menuju terminal bis Jombor, mencari angkutan rental menuju Basecamp Selo. Setelah menemukan angkutan sewa dengan harga yang disepakati, kami bertiga belas segera meluncur menuju Selo dengan dua angkutan mini bus. Hampir lima jam perjalanan menuju basecamp ini. Insiden nyasar sempat terjadi dikarenakan sopir yang mengangkut kami pun tidak tahu dimana letak basecamp Selo. Saya segera mengeluarkan handphone, mencari jalan menuju basecamp Selo melalu google maps, ditambah bantuin tanya warga sana sini akhirnya kami berhasil diantarkan ke basecamp pendakian Selo.

2015/02/mg_8221-copy.jpg

2015/02/img_5366.jpg
Setibanya dibasecamp pak parman kami langsung beristirahat. Melakukan packing ulang dan mengisi perut. Sebelum benar-benar terlelap saya membriefing teman-teman dulu bagaimana rencana pendakian besok. Ada insiden kecil yang kurang enak untuk diingat, dua teman wanita kami yang sedang menstruasi dilarang ikut melakukan pendakian. Mereka pun rela untuk tidak ikut setelah mendapatkan peringatan dari pak Parman. Dua hari selama kami di Gunung Merbabu mereka menghabiskan waktu jalan-jalan bersama keluarga pak Parman ke Solo dan sekitarnya, ikut ke pasar, diajak ke candi dan keraton, perjalanan mereka kesini tak ubahnya dua orang mahasiswa yang sedang KKN.

Keesokan paginya kami bersebelas siap tempur dengan peralatan pendakian. Kerir dengan gagahnya menempel dipunggung kami menyempurnakan pagi yang cerah itu. Diawali dengan doa kami mengayunkan langkah kami setapak demi setapak. 15 menit pertama merupakan langkah yang cukup berat. Beban dipunggung kali ini nampaknya kurang bersahabat dengan berat yang tak wajar. Logistik, air, dan peralatan tetek bengek lainnya dipaksa masuk ke dalam kerir saya. Saya mencoba menikmati tiap langkah. Setengah jam setelah itu barulah ritme pendakian mulai mengasyikan. Tanda cawa menjadi selingan deru nafas yang tersengal-sengal. Dengan Handphone ditangan saya sigap mengabadikan momen-momen pendakian dan landscape didepan mata.

Karena hari itu hari Jumat kami terpaksa berhenti cukup lama dipos 3 ketika memasuki waktu solat Jumat. Dari sini pemandangan cukup ciamik. Gunung Merapi diujung sana berdiri megah. Puncaknya yang menyembul ditengah-tengah gulungan awan menjadi panorama epic menyegarkan mata, bersanding mesra dengan langit berwarna biru cerah siang itu. Logistik dikeluarkan dan mulut-mulut yang kelaparan itu dengan sibuknya memamah biak cemilan yang dikeluarkan. Saya memilih meminjamkan kamera teman saya, mencoba mengabadikan momen disini. Hampir satu jam lebih kami beristirahat disini akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Tanjakan curam menuju pos savana satu didepan mata cukup membuat nyali menciut. Cukup malas rasanya membayangkan otot paha yang harus dipaksa merangkak keatas sana. Saya memimpin jalan didepan, tujuannya agar dapat mengabadikan momen ketika rekan-rekan saya harus merangkak perlahan melewati tanjakan ini dari atas. Tawa dan keluh kesah bercampur jadi satu selalu menjadi bumbu menyenangkan di tiap pendakian. Tergelincir, terjatuh, tersungkur sudah menjadi hal biasa ketika melewati tanjakan seperti ini. Tak lama akhirnya tiba di pos Savana 1. Pemandangan semakin ciamik. Disini cukup banyak tenda pendaki lain yang berdiri. Tak perlu beristirahat lama kami segera melanjutkan perjalanan. Bukit-bukit tinggi berselimut savana hijau didepan kami sangat memanjakan mata. Entah bagaimana kata-kata bisa menggambarkan kemegahan pemandangan siang itu, yang pastinya sangat indah.

2015/02/img_4437.jpg

2015/02/img_5420.jpg

2015/02/mg_7845.jpg
Bukit-bukit disini tanjakannya cukup curam. Saya dan rekan-rekan berkali-kali harus berhenti beristirahat ditengah-tengah tanjakan. Selama lima belas menit saya memilih untuk berdiam diri saja duduk di pinggiran tanjakan. Saya mengambil headset di tas kecil yang selalu siap sedia menemani saya di tiap pendakian. Beragam benda paling dibutuhkan saya simpan disitu. Begitu headset dicolokkan, alunan gitar folk langsung mengalir ketelinga saya. Saya menikmati pemandangan Gunung Merapi didepan mata ditemani track favorit. Cukup lama nampaknya saya terlarut dalam atmosfer syahdu hingga teman-teman lainnya sudah jauh berjalan tak terlihat lagi. Saya menyegerakan diri menyusul mereka. Tak lama setelah melewati satu bukit lagi akhirnya tibalah kami di pos savana dua. Padang rumput disini cukup luas, tebing dipinggirnya mengingatkan saya dengan landscape Gunung Bromo yang terlihat hampir serupa.

Tenda didirikan dan acara masak-memasak dimulai. Cukup banyak makanan yang kami masak sore itu. Saya hanya sedikit makannya. Entah kenapa nafsu makan sedikit hilang ketika pendakian, saya lebih memilih memakan biskuit atau roti daripada nasi dan mie. Matahari mulai terbemam perlahan di ufuk barat, kanut tebal sore itu menghalangi pemandangan senja didepan mata. Hanya rona merah muda dalam bayangan samar-samar yang dapat dinikmati. Akhirnya sebelum benar-benar gelap kami memilih untuk mencari kayu bakar saja untuk api unggun malam ini.

Api unggun berhasil dinyalakan. Tawa canda kami melebur bersama hangatnya api unggun malam itu. Langit malam itu sangat bersih, taburan rasi bintang terang berpadu dengan bulan purnama yang tersenyum syahdu. Sungguh malam yang sempurna. Bekunya udara malam Merbabu nampaknya tak mampu menggoda kami untuk hanya tidur-tiduran saja didalam tenda. Sayang rasanya malam itu tak dilewatkan dengan kopi panas dan cerita dari sahabat. Beberapa teman saya sibuk berfoto dan stargazing. Hampir pukul sepuluh malam akhirnya kami masuk ke tenda masing-masing. Mengistirahatkan otot untuk summit attack keesokan harinya.

2015/02/mg_8013.jpg

2015/02/mg_7903.jpg
Sekitar pukul tiga pagi kami terbangun lagi-lagi dengan suara alarm yang hampir bersamaan. Setengah jam kemudian kami siap tempur dengan pakaian summit attack kami. Headlamp menempel erat dikening menerangi jejak langkah kami menapaki jalanan menuju puncak merbabu. Sekitar satu jam lebih akhirnya tiba di puncak Merbabu. Nasib kali ini kurang beruntung rasanya, pemandangan matahari terbit dipuncak Merbabu harus terhalangi kabut tebal didepan kami. Sunrise pagi itu hanya memberikan ruang dengan komposisi warna merah muda yang terbiaskan oleh uap kabut dan sedikit gerimis yang turun. Setengah jam berada dipuncak akhirnya rekan-rekan saya turun duluan. Saya bertiga bersama dua rekan saya memilih untuk bertahan di puncak. Berharap kabut pekat segera menghilang. Tak lama setengah jam kemudian kabut pekat itu perlahan menghilang. Matahari sudah mulai meninggi. Perlahan-lahan pesona Gunung Merapi dari sebelah utara mulai terlihat, begitupun si kembar Sumbing dan Sindoro di sebelah barat. Dari puncak dengan ketinggian 3145 Mdpl ini panorama savana sungguh cantik. Punggungan bukit yang mengelilingi Merbabu seolah diselimuti karpet hijau nan luas. Puas menikmati panorama puncak merbabu dan beramah tamah dengan pendaki lainnya akhirnya kami memilih turun bergabung bersama rekan kami.

Setibanya ditenda kami segera menyiapkan makanan pagi itu. Kemudian segera berkemas untuk turun ke basecamp siang itu. Perjalanan turun tak begitu menguras tenaga seperti pendakian kemaren. Kami bisa berlari ketika menemui track yang cukup landai. Tak kurang dari dua jam akhirnya kami tiba di basecamp pak Parman. Kedua rekan kami yang tak ikut mendaki ternyata sedang asyik menikmati jalan-jalan bersama keluarga pak Parman. Terima kasih Merbabu perjalanan yang maha mengasyikan dengan panorama alam yang luar biasa.

2015/02/img_6107.jpg

2015/02/img_5685.jpg

2015/02/img_5686.jpg

Photo by Me and @Ilmannafian