Mendaki Gunung Semeru, Menyambangi Puncak Para Dewa

Mendaki bukan hanya perkara perjalanan alam, jauh lebih dari itu, mendaki adalah perjalanan spiritual, perjalanan yang menyatukan jiwa-jiwa manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Jika kita ingin sedikit lebih bijak, kepingan pengalaman-pengalaman tak terduga mungkin akan menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup kita. Mendaki gunung sudah seperti sekolah bagi saya. Ilmu yang Gunung berikan terlalu banyak. Hingga kemudian satu persatu saya aplikasikan kedalam kehidupan saya sehari-hari. 

Mendaki Gunung Semeru adalah kepuasan tersendiri dan menjadi salah satu pendakian yang sangat berkesan bagi saya sendiri. Perjalanan puluhan kilometer membelah hutan, menelusuri urat-urat perbukitan, merasakan teriknya padang savana dan menusuknya udara dingin khas gunung pun akan terbayarkan dengan pesona Gunung Semeru.

Masih tercetak jelas dalam ingatan saya bagaimana saya yang waktu itu yang bukan seorang pendaki, bermimpi keras ingin menjejakan kaki diatap pulau Jawa ini. Akhirnya mimpi itu terwujud dan setelah cukup malang melintang di Gunung-gunung Indonesia lainnya, saya menjejakkan kaki dua kali disini. Pengalaman yang luar biasa selalu tercipta dari sini.Pertama mendaki kesini setelah musim hujan, hijau dimana-mana, anggrek liar bermekaran, pinus-pinus menebarkan aroma basah, dan yang paling teringat adalah tumbuhan (sering disebut lavender) yang berwarna keunguan membentang luas di Oro-oro Ombo. Dan pendakian kedua ketika musim kemarau, tak ayal suasana berbeda saya rasakan. Oro-oro Ombo yang dulu terhampar manis bak karpet ungu sekarang berubah eksotis menjadi kuning kecoklatan. Pun begitu Ranu Kumbolo yang dulu menghijau kini warnanya kuning kecoklatan. Ada hal yang paling mencolok dan sensasinya begitu luar biasa saya rasakan ketika pendakian musim kemarau kesini yaitu bekunya udara malam hari di Ranu Kumbolo. Bulan September menjadi waktu yang pas bagi saya mencicipi bagaimana Semeru ketika musim Kemarau. Dingin yang menusuk hingga suhunya pernah jatuh ke -17 derajat celcius. Ini sensasi yang sulit saya dapatkan di Gunung-gunung lainnya. Ketika itu saya mendapatkan termometer menunjukan angka -7 derajat celcius. Berbeda dengan pendakian pertama, suhu udara tak sedingin itu di Bulan April.

Lanjutkan membaca Mendaki Gunung Semeru, Menyambangi Puncak Para Dewa