Menjelajahi Keindahan Tanah Sumba

Pertama kali mengenal pulau Sumba mungkin ketika saya masih SMP atau SD, saya lupa. Bahkan dulunya seringkali saya kebingungan membedakan antara Sumba dan Sumbawa, pernah saya mengira Sumba itu adalah ibukota Sumbawa, ternyata salah. dan ketika saya pertama kali melakukan perjalanan pertama kali kesini, saya langsung jatuh cinta dengan pulau ini. Terutama kecintaan saya dengan bukit-bukit cantiknya yang paling hebat mencuri hati saya, entah itu ketika kecoklatan saat musim kemarau atau kehijauan saat musim hujan. Mungkin kalau memiliki waktu yang panjang saya ingin sekali menghabiskan banyak waktu hanya untuk memandang bukit-bukit disini, entah itu bukit Wairinding yang paling terkenal ataupun bukit Wailara yang juga eksotik. Selain  bukitnya, Sumba juga memiliki sejumlah pantai yang masih sepi, dan favorit saya jatuh pada Tarimbang. Pantai ini menjadi pantai favorit saya di Sumba bukan karena keindahannya, karena sebenarnya view yang ditawarkan masih tergolong biasa saja, bahkan jika dibandingkan dengan pantai cantik di daerah lain, pantai ini takkan mampu beradu untuk masalah keindahan viewnya, apalagi menandingi pantai yang ada di Flores, Maluku ataupun belahan Indonesia lainnya. Yang membuat saya jatuh cinta pada pantai ini adalah sensasi kedalamaiannya. Sepi adalah kata kunci dari Tarimbang, dan di pantai ini kita dapat meraup dan menikmati sepi itu sebanyak-banyaknya.

Sebelas jam sudah kapal ferry yang saya tumpangi ini terapung-apung di lautan antara Pulau Sumbawa dengan Sumba. Sebelas jam itu pula saya harus menderita menahan sakit di perut dan badan yang kurang cocok diajak bertualang kali ini. Perjalanan overland dan sailing di Flores dan Lombok kemarin nampaknya sukses menggerogoti daya tahan tubuh saya hanya dalam beberapa hari. Dan sekarang, di tepi Barat Daya pesisir Sumba, saya harus menikmati perjalanan seorang diri menembus lautan demi menyeberang ke Pulau Sumba.

Lambung kapal merapat secara perlahan tak lama kemudian. Terik matahari yang teramat menyengat menyambut kedatangan saya. Sorak sorai anak kecil bersahutan sambal berlarian masuk kedalam kapal dari celah-celah yang hanya bisa memuat badan mereka yang kurus kering. Saya tersenyum sebentar, melihat gelagat mereka yang nampaknya riang, tak lama saya kembali merengut. Mengutuk beratnya kerir yang ada di punggung ini ditambah antrian mobil dan motor keluar yang terhambat karena pintu kapal depan kesulitan untuk disandarkan ke bibir dermaga

Lanjutkan membaca Menjelajahi Keindahan Tanah Sumba